Menjemput Keberkahan di Hari Asyura: 7 Amalan Utama 10 Muharram yang Menghapus Dosa Setahun

Ustadzah Sarah | UpdateKilat
19 Jun 2026, 12:57 WIB
Menjemput Keberkahan di Hari Asyura: 7 Amalan Utama 10 Muharram yang Menghapus Dosa Setahun

UpdateKilat — Memasuki gerbang awal tahun baru Hijriah, umat Islam di seluruh penjuru dunia kembali menyambut sebuah momentum yang sarat dengan nilai spiritual dan sejarah: Hari Asyura. Jatuh pada tanggal 10 Muharram, hari ini bukan sekadar pergantian kalender, melainkan sebuah “ruang waktu” istimewa di mana rahmat Tuhan mengalir deras bagi mereka yang mengetuknya dengan ibadah.

Tradisi menghidupkan amalan di hari Asyura telah mendarah daging dalam budaya masyarakat Muslim, termasuk di Indonesia. Di balik ritual-ritual yang dijalankan, tersimpan filosofi mendalam tentang syukur, pertobatan, dan solidaritas sosial. Tahun baru Islam adalah saat yang tepat untuk melakukan refleksi diri atau muhasabah sembari mempertebal pundi-pundi pahala melalui berbagai amalan sunnah yang telah diwariskan oleh Baginda Rasulullah SAW.

Read Also

Skandal Kursi Roda Ilegal di Tanah Suci: Jemaah Haji Diperas hingga Rp 10 Juta oleh Oknum KBIHU

Skandal Kursi Roda Ilegal di Tanah Suci: Jemaah Haji Diperas hingga Rp 10 Juta oleh Oknum KBIHU

1. Keagungan Puasa Asyura: Penghapus Noda di Masa Lalu

Ibadah yang paling fundamental dan sangat ditekankan pada tanggal 10 Muharram adalah berpuasa. Dalam kacamata jurnalisme religi, puasa sunnah Asyura menduduki posisi yang sangat bergengsi setelah puasa wajib di bulan Ramadhan. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab janji yang menyertainya sungguh luar biasa.

Merujuk pada hadits shahih riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW memberikan jaminan spiritual yang menyejukkan hati: “Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa tahun berlalu.” Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, dalam ulasannya mengenai keutamaan bulan Muharram, mengutip penjelasan Imam An-Nawawi yang menggarisbawahi bahwa ampunan ini secara spesifik menyasar dosa-dosa kecil yang pernah dilakukan seorang hamba.

Read Also

Inilah Waktu Mustajab! Panduan Lengkap Doa di Antara Dua Khutbah Jumat untuk Khatib dan Jemaah

Inilah Waktu Mustajab! Panduan Lengkap Doa di Antara Dua Khutbah Jumat untuk Khatib dan Jemaah

Meskipun dosa besar memerlukan taubat nasuha (pertobatan total), puasa Asyura berfungsi sebagai pembersih residu kesalahan sehari-hari yang sering kali tidak kita sadari. Ini adalah kesempatan bagi setiap Muslim untuk memulai lembaran baru dengan jiwa yang lebih bersih.

2. Puasa Tasu’a: Menjaga Identitas dan Pembeda

Selain puasa pada hari kesepuluh, para ulama sangat menyarankan umat Islam untuk melaksanakan puasa pada tanggal 9 Muharram, yang dikenal dengan sebutan Puasa Tasu’a. Langkah ini merupakan bentuk kepatuhan terhadap keinginan Rasulullah SAW di akhir hayat beliau untuk membedakan ritual umat Islam dengan tradisi kaum Yahudi yang juga mengagungkan tanggal 10 Muharram.

Dengan menjalankan puasa pada 9 dan 10 Muharram (atau 10 dan 11 Muharram), kita tidak hanya meraih pahala puasa itu sendiri, tetapi juga menjalankan sunnah untuk tampil berbeda (mukhalafah) dalam kebaikan. Melaksanakan puasa Tasua menunjukkan keteguhan prinsip dalam beribadah.

Read Also

Rahasia Keberkahan Malam: Panduan Lengkap Doa Menjawab Adzan Isya dan Makna Spiritualnya

Rahasia Keberkahan Malam: Panduan Lengkap Doa Menjawab Adzan Isya dan Makna Spiritualnya

3. Niat yang Ikhlas: Kunci Diterimanya Ibadah

Dalam setiap ibadah, niat adalah ruhnya. Tanpa niat yang benar, sebuah amalan hanyalah gerakan lahiriah tanpa makna spiritual. Berikut adalah panduan niat yang bisa dilafalkan di dalam hati maupun lisan:

  • Niat Puasa Tasu’a (9 Muharram):
    Nawaitu shauma tâsu‘â-a sunnatan lillâhi ta‘âlâ.
    (Artinya: “Saya niat puasa Tasu’a sunnah karena Allah Ta’ala.”)
  • Niat Puasa Asyura (10 Muharram):
    Nawaitu shauma âsyûrâ-a sunnatan lillâhi ta‘âlâ.
    (Artinya: “Saya niat puasa Asyura sunnah karena Allah Ta’ala.”)

Penting untuk diingat bahwa niat puasa sunnah seperti Asyura masih boleh dilakukan di pagi hari asalkan belum mengonsumsi makanan atau minuman apa pun sejak terbit fajar.

4. Membasahi Bibir dengan Doa dan Zikir Khusus

Hari Asyura adalah waktu yang mustajab untuk memohon ampunan. Selain puasa, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak doa dan dzikir. Salah satu doa yang masyhur dibaca adalah yang termaktub dalam kitab Kanzun Najah wa Surur karya Syaikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Kudus.

Kalimat zikir seperti “Hasbunallāhu wa ni’mal wakîl, ni’mal maulâ wa ni’man nashîr” (Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami, dan Dia adalah sebaik-baik pelindung dan penolong) sangat disarankan untuk dibaca berulang kali. Zikir ini membangun mentalitas tawakal yang kuat di awal tahun, mengingatkan kita bahwa apa pun tantangan yang akan dihadapi setahun ke depan, Allah adalah sebaik-baiknya tempat bersandar.

5. Tradisi Melapangkan Nafkah: Investasi Rezeki Setahun Full

Satu hal yang unik dan sering kali terlewatkan adalah anjuran untuk “melapangkan nafkah” bagi keluarga. Berbeda dengan hari-hari biasa, pada 10 Muharram, seorang kepala keluarga disunnahkan untuk memberikan hidangan yang lebih istimewa atau memenuhi kebutuhan keluarga dengan lebih royal dari biasanya.

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa melapangkan (nafkah) untuk keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan melapangkan (rezeki)nya sepanjang tahunnya.” (HR. At-Thabarani). Ini adalah bentuk sedekah internal yang sangat dicintai Allah. Dengan membahagiakan orang terdekat, pintu-pintu rezeki yang tak disangka-sangka diyakini akan terbuka lebar selama dua belas bulan ke depan.

6. Lebaran Anak Yatim: Membangun Jembatan Empati

Di Indonesia, 10 Muharram telah bertransformasi menjadi fenomena sosial yang indah bernama “Lebaran Anak Yatim”. Pada hari ini, masjid-masjid dan komunitas sosial berlomba-lomba mengundang anak-anak yatim untuk diberikan santunan dan kasih sayang.

Keutamaan menyantuni anak yatim pada hari Asyura sangatlah besar. Rasulullah SAW menggambarkan kedekatannya dengan penyantun anak yatim di surga nanti seperti jarak antara jari telunjuk dan jari tengah. Praktik santunan yatim bukan sekadar memberi amplop, melainkan tentang memberikan harapan dan kegembiraan bagi mereka yang telah kehilangan sosok pelindung di dunia ini.

7. Silaturahmi dan Menambah Wawasan Keilmuan

Amalan terakhir yang melengkapi rangkaian Asyura adalah mempererat tali silaturahmi dan mendatangi majelis ilmu. Mengunjungi sanak saudara, orang tua, atau guru di awal tahun baru Islam akan membawa keberkahan pada umur dan hubungan sosial. Selain itu, menghadiri pengajian yang membahas tentang sejarah para Nabi di hari Asyura (seperti kisah Nabi Musa yang diselamatkan dari Firaun atau Nabi Nuh yang berlabuh dari banjir besar) akan menambah tebal keimanan kita.

UpdateKilat merangkum bahwa hari Asyura adalah paket lengkap ibadah: ada puasa untuk dimensi vertikal (Tuhan), ada nafkah dan santunan untuk dimensi horizontal (manusia), serta ada doa sebagai pengikat keduanya. Mari kita manfaatkan momen emas ini untuk mereparasi diri dan meraih ridha-Nya.

Semoga di tahun baru ini, setiap amalan yang kita kerjakan pada 10 Muharram menjadi wasilah bagi turunnya rahmat dan diangkatnya derajat kita di sisi Allah SWT. Selamat menjalankan ibadah Asyura!

Ustadzah Sarah

Ustadzah Sarah

Penulis konten religi dan lulusan studi Islam yang berdedikasi menyebarkan konten positif di Kilat Islami.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *