Kisah Inspiratif Nahtadia: Transformasi Eks Buruh Pabrik Menjadi Pengusaha Ayam Petelur Beromzet Puluhan Juta
UpdateKilat — Senyum merekah tak henti terpancar dari wajah Nahtadia saat ia menceritakan perjalanan hidupnya yang berubah drastis dalam tiga tahun terakhir. Wanita berusia 28 tahun asal Cibodas, Jonggol, ini kini bukan lagi seorang pekerja pabrik yang terikat jam kerja ketat, melainkan seorang srikandi ekonomi yang sukses mengelola usaha ayam petelur. Keberhasilannya ini tidak lepas dari keberanian mengambil langkah besar dan dukungan finansial melalui layanan Kupedes Rakyat (Kupra) dari BRI.
Bagi Nahtadia, kesuksesan bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan perubahan kualitas hidup yang nyata bagi keluarganya. Salah satu simbol keberhasilan yang paling ia banggakan adalah sebuah televisi berukuran 43 inci yang kini menghiasi ruang tamunya. Televisi layar lebar itu menggantikan TV lama yang ukurannya jauh lebih kecil, sebuah pencapaian yang mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang, namun bagi Nahtadia, itu adalah bukti dari kerja keras dan strategi bisnis yang tepat di sektor peternakan.
Skandal Suap Ijon Rp14,2 Miliar: KPK Terus Buru Bukti Baru di Lingkungan Pemkab Bekasi
Titik Balik: Keluar dari Zona Nyaman Buruh Pabrik
Sebelum dikenal sebagai peternak sukses di wilayahnya, Nahtadia adalah seorang buruh di sebuah pabrik tas. Kehidupan sebagai pekerja pabrik yang penuh tekanan dan tuntutan target harian mulai membuatnya merasa jenuh. Di sisi lain, suaminya berjuang dengan mengelola warung kecil-kecilan. Ritme kerja mereka sangat padat; sang suami berjualan di lingkungan sekolah pada pagi hari dan berpindah ke depan lapangan badminton saat malam tiba untuk menjajakan kopi, gorengan, hingga jajanan anak-anak.
Meskipun memiliki dua sumber penghasilan, Nahtadia merasa ada sesuatu yang kurang, terutama waktu untuk anak-anaknya. Keinginan untuk berdikari secara ekonomi dari rumah sendiri pun mulai tumbuh. “Kalau di pabrik banyak tekanan. Saya berpikir lebih baik usaha sendiri, sedikit-demi sedikit dari rumah. Yang penting anak juga bisa terurus dengan baik,” kenang Nahtadia saat ditemui di sela-sela aktivitasnya mengurus kandang.
Drama OTT Imigrasi: KPK Cari Wamen Silmy Karim dan Sita Tumpukan Emas Serta Valuta Asing
Momentum perubahan itu akhirnya datang pada tahun 2023, pasca pandemi mereda. Dengan modal tekad yang kuat, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari pabrik. Keputusan ini diambil setelah ia melihat potensi di lingkungan sekitarnya, di mana beberapa tetangga sudah lebih dulu terjun ke bisnis ayam petelur. Nahtadia tidak malu untuk belajar, ia menyerap ilmu dari para tetangganya, mulai dari cara membangun kandang yang ideal hingga teknik perawatan ayam agar produktivitas telurnya tetap tinggi.
Kupra BRI: Solusi Permodalan di Tengah Hambatan Administrasi
Memulai usaha tentu membutuhkan suntikan dana yang tidak sedikit. Saat populasi ayamnya mulai berkembang dan kebutuhan pakan serta infrastruktur kandang meningkat, Nahtadia menyadari bahwa ia butuh modal tambahan. Beruntung, ia diperkenalkan oleh tetangganya kepada seorang Mantri BRI yang bertugas di wilayah tersebut. Namun, perjalanan mendapatkan pinjaman tidaklah mulus tanpa hambatan.
Akal Bulus Pencuri Motor di Depok: Modus Pura-Pura Sewa Kontrakan yang Meresahkan Warga Cimanggis
Kepala Unit BRI Jonggol, Oki Nurcahyadi, menjelaskan bahwa Nahtadia awalnya tidak bisa mengakses program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang bersubsidi. Hal ini dikarenakan Nahtadia masih tercatat memiliki fasilitas pinjaman modal kerja di bank lain. “Karena kondisi tersebut, beliau tidak memenuhi syarat KUR. Namun, kami tidak membiarkan niat usahanya terhenti. Kami arahkan pembiayaan melalui skema Kupedes Rakyat atau Kupra,” jelas Oki.
Meskipun Kupra memerlukan jaminan dan memiliki skema yang berbeda dengan KUR, fasilitas ini menjadi penyelamat bagi Nahtadia. Ia berhasil mencairkan pinjaman sebesar Rp 35 juta dengan tenor tiga tahun. Dana segar inilah yang kemudian ia putar untuk memperluas kandang dan membeli pakan berkualitas tinggi. Dengan tambahan modal tersebut, populasi ayam petelurnya pun melesat hingga mencapai angka seribu ekor, yang menjadi pondasi utama peluang usaha miliknya saat ini.
Manajemen Ekonomi: Omzet Fantastis dan Tantangan Biaya Pakan
Kini, jerih payah Nahtadia mulai membuahkan hasil yang signifikan secara finansial. Dalam kondisi pasar yang optimal, omzet kotor dari penjualan telur bisa menembus angka Rp 48 juta per bulan. Namun, Nahtadia tetap realistis dan rendah hati dalam mengelola keuangannya. Ia memahami betul bahwa dalam bisnis peternakan, pendapatan kotor bukanlah keuntungan bersih karena fluktuasi harga pakan dan telur yang sangat dinamis.
“Biaya operasional terbesar itu ada di pakan. Dalam sebulan, pengeluaran untuk pakan saja bisa mencapai Rp 30 juta lebih. Itu belum termasuk biaya vitamin, kesehatan ternak, dan perawatan kandang,” ungkapnya detail. Setelah dikalkulasi secara teliti, Nahtadia mengantongi keuntungan bersih rata-rata sekitar Rp 9 juta per bulan. Angka ini jauh melampaui gaji yang ia terima saat masih menjadi buruh pabrik, dengan keuntungan tambahan berupa waktu yang lebih fleksibel bersama keluarga.
Keuntungan bersih tersebut ia kelola dengan bijak. Sebagian dialokasikan untuk kebutuhan harian, sebagian lagi untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Anak pertamanya kini sudah naik ke kelas dua SD, sementara adiknya sedang bersiap masuk PAUD. Bagi Nahtadia, bisa memenuhi kebutuhan seragam dan perlengkapan sekolah tanpa harus berutang sana-sini adalah kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
Strategi Pemasaran: Menjaga Kualitas Telur Tetap Fresh
Salah satu kunci sukses Nahtadia dalam mempertahankan bisnisnya adalah kualitas produk. Ia tidak perlu pusing memikirkan cara memasarkan telurnya karena para agen besar dari Cileungsi, Bekasi, hingga Depok secara rutin mendatangi peternakannya. Rahasianya terletak pada kesegaran telur yang diambil langsung dari kandang, sesuatu yang sangat dicari oleh para pengepul.
Rudi, salah satu agen setia yang berlangganan sejak 2024, mengakui keunggulan telur dari peternakan Nahtadia. “Telur yang diambil langsung dari kandang itu jauh lebih segar dibandingkan yang sudah melewati gudang distributor lama. Konsumen saya di Klapanunggal sangat menyukai kualitas telur dari sini,” ujar Rudi. Kepercayaan agen seperti Rudi membuat stok telur Nahtadia selalu habis terserap pasar, bahkan sebelum sempat dipasarkan ke wilayah yang lebih jauh.
Nahtadia mematok harga yang kompetitif. Untuk agen besar, ia mengikuti harga pasar nasional atau Pinsar yang saat ini berada di kisaran Rp 24 ribu per kilogram. Sementara untuk warga sekitar yang membeli secara eceran, ia memberikan harga sedikit lebih tinggi, yakni Rp 26 ribu per kilogram. Strategi dua harga ini memungkinkannya untuk tetap mendapatkan margin keuntungan sambil tetap melayani kebutuhan ekonomi kerakyatan di lingkungannya sendiri.
Investasi Masa Depan: Dari Ayam ke Ternak Kambing
Jiwa pengusaha Nahtadia tampaknya terus berkembang. Ia tidak hanya terpaku pada satu jenis usaha saja. Sebagian dari keuntungan usaha ayam petelurnya kini ia konversikan ke dalam bentuk tabungan hidup, yakni ternak kambing. Saat ini, ia sudah memiliki dua ekor kambing yang dititipkan kepada pengelola ternak lain dengan sistem bagi hasil.
“Baru dua ekor sih, tapi alhamdulillah sudah bisa kebeli dari hasil telur. Ini buat tabungan nanti kalau ada kebutuhan mendadak yang besar,” katanya dengan nada syukur. Diversifikasi usaha ini menunjukkan bahwa Nahtadia memiliki visi jangka panjang dalam mengelola manajemen keuangan keluarganya.
Kisah Nahtadia adalah potret nyata bagaimana keberanian untuk berpindah jalur dari pekerja menjadi pengusaha, yang didukung oleh akses perbankan yang tepat, dapat mengubah nasib seseorang. Dari sebuah halaman rumah di Jonggol, Nahtadia membuktikan bahwa kemandirian ekonomi bukan sekadar mimpi, melainkan hasil dari ketekunan, pembelajaran terus-menerus, dan pemanfaatan peluang modal yang tersedia di hadapan mata.
Melalui inspirasi usaha ini, ia berharap lebih banyak perempuan dan pelaku UMKM lainnya tidak ragu untuk memulai langkah kecil. Baginya, tantangan administrasi perbankan bukan penghalang, melainkan pintu gerbang menuju skema pembiayaan lain yang mungkin lebih sesuai dengan kondisi usaha masing-masing, sebagaimana ia berjodoh dengan Kupra BRI.