Jakarta Menuju Top 50 Kota Global: Mengupas Kerja Sama Strategis Sister City dengan Jeju Korea Selatan
UpdateKilat — Langkah besar kembali diambil oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam upaya memperkuat posisinya di kancah internasional. Di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung, Jakarta secara resmi menjalin ikatan kerja sama strategis dalam bingkai Sister City dengan Provinsi Otonomi Khusus Jeju, Korea Selatan. Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) ini bukan sekadar seremoni belaka, melainkan sebuah jembatan emas bagi Jakarta untuk mewujudkan visinya sebagai pusat gravitasi ekonomi dan budaya di Asia Tenggara.
Bertempat di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Seoul pada Sabtu, 25 April 2026, Gubernur Pramono Anung bersama Gubernur Jeju, Oh Young-hun, menyatukan visi kedua wilayah. Kerja sama ini menjadi tonggak sejarah baru dalam diplomasi kota (city diplomacy) yang diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi warga Jakarta dan masyarakat Jeju secara berkelanjutan.
Tragedi Berdarah di Gunung Sampah: Eks Kadis LH DKI Asep Kuswanto Resmi Tersangka Kasus Bantargebang
Membedah Esensi Kerja Sama Sister City: Lebih dari Sekadar Persahabatan
Secara mendasar, konsep Sister City atau kota kembar merupakan sebuah skema kolaborasi lintas batas yang dilakukan oleh dua otoritas daerah yang memiliki kemiripan karakteristik. Persamaan ini bisa ditinjau dari aspek demografi, kondisi geografis, latar belakang sejarah, hingga tantangan pembangunan yang serupa. Melalui kemitraan ini, Jakarta dan Jeju sepakat untuk saling berbagi pengetahuan, teknologi, dan sumber daya demi kemajuan bersama.
Gubernur Pramono Anung menegaskan bahwa kolaborasi ini mencakup tiga pilar utama yang menjadi kebutuhan mendesak bagi Jakarta masa depan. Fokus pertama adalah sektor pariwisata, disusul oleh pengembangan energi terbarukan, dan penguatan ekosistem ekonomi digital. Ketiga sektor ini dipilih karena Jeju dikenal sebagai pemimpin global dalam pengelolaan pulau wisata yang ramah lingkungan serta pusat inovasi teknologi di Korea Selatan.
Aksi May Day 2026: Aliansi Gebrak dan KASBI Siap Kepung DPR, Tegaskan Perlawanan Terhadap Kooptasi Kekuasaan
Visi Ambisius: Menembus Jajaran Top 50 Global Cities 2030
Salah satu poin krusial yang melatarbelakangi agresivitas Jakarta dalam mencari mitra internasional adalah target besar pada tahun 2030. Pramono optimistis bahwa sinergi dengan Jeju akan mengakselerasi ambisi Jakarta untuk masuk ke dalam jajaran 50 besar kota global (Top 50 Global Cities). Menjadi kota global berarti Jakarta harus mampu bersaing dalam hal kualitas hidup, kemudahan berbisnis, hingga inovasi lingkungan.
“Jeju adalah mitra yang sangat strategis. Mereka memiliki rekam jejak yang luar biasa dalam mengembangkan pariwisata berbasis alam tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. Selain itu, transisi mereka menuju energi bersih adalah pelajaran berharga bagi Jakarta yang tengah berupaya memperbaiki kualitas udara dan efisiensi energi,” ujar Pramono Anung dalam keterangan resminya yang dikutip oleh tim redaksi kami.
Gebrakan Reshuffle Kelima Kabinet Merah Putih: Dudung Abdurrachman Pimpin KSP hingga Insiden Dramatis di Bekasi Timur
Sinergi Tiga Level: G2G, B2B, dan P2P
Uniknya, kerja sama ini dirancang secara komprehensif untuk menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Pramono menjelaskan bahwa implementasi MoU ini akan dijalankan melalui tiga pendekatan utama:
- Government to Government (G2G): Pertukaran kebijakan publik dan tata kelola kota antara birokrat Jakarta dan Jeju.
- Business to Business (B2B): Membuka peluang bagi pengusaha lokal Jakarta untuk berkolaborasi dengan investor dari Korea Selatan, khususnya di bidang teknologi digital.
- People to People (P2P): Program pertukaran budaya, pelajar, dan tenaga ahli yang bertujuan mempererat hubungan emosional antara warga kedua kota.
“Saya sungguh sangat gembira. Ini adalah sister city yang mudah-mudahan implementasinya di lapangan akan berjalan dengan baik, membawa manfaat, serta keuntungan bagi kedua belah pihak,” tambah Pramono dengan nada optimis.
Dibalik Diplomasi Maraton: Perjalanan Pramono ke Empat Negara Asia
Kerja sama dengan Jeju hanyalah satu bagian dari rangkaian lawatan diplomatik intensif yang dilakukan oleh Gubernur Jakarta. Sebelum mendarat di Korea Selatan, Pramono Anung telah menyambangi beberapa titik krusial di Asia lainnya. Rangkaian perjalanan ini dimulai dari Taiwan, kemudian berlanjut ke Shenzhen di China—kota yang dikenal sebagai ‘Silicon Valley’ Asia—sebelum akhirnya terbang ke Seoul dan Jeju.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, memberikan gambaran mengenai padatnya agenda gubernur selama berada di luar negeri. Menurut Rano, misi utama dari perjalanan ini adalah untuk memperkenalkan wajah baru Jakarta setelah tidak lagi menyandang status ibu kota, namun tetap menjadi pusat ekonomi nasional yang dinamis.
“Beliau mengunjungi empat wilayah penting. Mulai dari China untuk belajar tentang integrasi transportasi dan teknologi, hingga Korea untuk kerja sama pembangunan daerah. Terakhir, beliau dijadwalkan menjadi pembicara di University of Kyoto, Jepang, untuk memaparkan transformasi Jakarta di depan akademisi dan praktisi global,” ungkap Rano Karno saat memberikan keterangan di Balai Kota.
Mengapa Jeju? Belajar dari Pulau Karbon Netral
Bagi banyak pihak, pilihan untuk bermitra dengan Jeju adalah langkah cerdas. Provinsi Otonomi Khusus Jeju bukan sekadar destinasi liburan. Wilayah ini telah memproklamirkan diri sebagai pulau bebas karbon melalui inisiatif “Carbon Free Island 2030”. Dengan Jakarta yang kini tengah berjuang melawan polusi udara dan ketergantungan pada energi fosil, transfer teknologi mengenai kendaraan listrik dan pembangkit listrik tenaga bayu/surya dari Jeju akan sangat krusial.
Selain itu, dalam sektor pariwisata, Jakarta dapat mengadopsi cara Jeju mengelola situs warisan dunia UNESCO dengan tetap menjaga keseimbangan ekosistem. Rencana perluasan lahan wisata seperti yang dilakukan Ancol dapat mengambil inspirasi dari tata ruang hijau yang diterapkan di Jeju.
Harapan Baru bagi Warga Jakarta
Dengan kembalinya Gubernur Pramono ke tanah air yang dijadwalkan pada 29 April 2026, publik menantikan langkah konkret dari kesepakatan-kesepakatan ini. Keberhasilan Sister City tidak diukur dari seberapa bagus dokumen MoU yang ditandatangani, melainkan dari seberapa banyak lapangan kerja baru yang tercipta, seberapa bersih udara Jakarta di masa depan, dan seberapa mudah akses warga terhadap teknologi digital.
Kerja sama ini menjadi sinyal kuat bahwa Jakarta tidak akan tertinggal. Di tengah transisi status kota, Jakarta justru semakin berani membuka diri, belajar dari yang terbaik, dan bersiap mengambil tempatnya di panggung dunia sebagai metropolis yang modern, hijau, dan inklusif. Melalui semangat kolaborasi internasional ini, visi Jakarta untuk sejajar dengan kota-kota besar seperti Seoul, Tokyo, atau Singapura kini bukan lagi sekadar mimpi di atas kertas.