Potret Rumah Sementara di Pidie Jaya: Meniti Harapan Baru di Tengah Sisa Puing Banjir Bandang Aceh

Budi Santoso | UpdateKilat
02 Mei 2026, 00:55 WIB
Potret Rumah Sementara di Pidie Jaya: Meniti Harapan Baru di Tengah Sisa Puing Banjir Bandang Aceh

UpdateKilat — Jejak-jejak kehancuran akibat banjir bandang yang menerjang pada November 2025 masih terlukis jelas di Desa Blang Jeurat, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Enam bulan berlalu, namun sisa-sisa amukan alam itu belum sepenuhnya sirna. Setiap kali kendaraan melintas, debu pekat hasil pengerukan material banjir mengepul ke udara, menutupi pandangan dan menyesakkan dada. Meski akses jalan utama kini sudah bisa dilalui, pemandangan di kiri dan kanan jalan masih menyisakan kepiluan: rumah-rumah warga yang hancur dengan lapisan lumpur tebal yang kini telah mengeras seperti semen.

Luka yang Belum Mengering di Desa Blang Jeurat

Kondisi di lapangan menunjukkan betapa dahsyatnya terjangan air dan material lumpur kala itu. Bagi banyak warga, kembali ke rumah lama bukanlah pilihan yang mudah, bahkan nyaris mustahil. Struktur bangunan yang tidak lagi kokoh serta tumpukan tanah yang menimbun harta benda membuat mereka terpaksa mencari tempat berlindung lain. Di tengah ketidakpastian tersebut, kehadiran Rumah Sementara atau yang akrab disebut Rumtara menjadi oase bagi para penyintas bencana alam ini.

Read Also

Diplomasi Energi: Bahlil Pastikan Rusia Siap Pasok Minyak Mentah untuk Ketahanan Nasional

Diplomasi Energi: Bahlil Pastikan Rusia Siap Pasok Minyak Mentah untuk Ketahanan Nasional

Salah satu titik pusat pembangunan hunian sementara ini berada di sekitar kompleks kantor Bupati Pidie Jaya. Di sana, deretan bangunan mungil berkelir hijau tampak berjejer rapi, memberikan kontras yang mencolok di antara tanah yang masih gersang. Hunian ini bukan sekadar tempat berteduh, melainkan simbol dimulainya babak baru kehidupan bagi mereka yang kehilangan segalanya dalam semalam.

Inisiatif Kemanusiaan: Dompet Dhuafa dan Pembangunan Hunian Layak

Dalam upaya pemulihan pascabencana, berbagai lembaga kemanusiaan turun tangan, salah satunya adalah Dompet Dhuafa. Lembaga ini mengambil peran krusial dalam menyediakan tempat tinggal yang layak huni bagi para pengungsi. Menurut data yang dihimpun tim redaksi, Dompet Dhuafa telah membangun sedikitnya 68 unit Rumtara yang tersebar di beberapa titik strategis di Kabupaten Pidie Jaya.

Read Also

Gebrakan Baru Prabowo: Satgas Mitigasi PHK Siap Lindungi Kesejahteraan Buruh dan Stabilitas Ekonomi

Gebrakan Baru Prabowo: Satgas Mitigasi PHK Siap Lindungi Kesejahteraan Buruh dan Stabilitas Ekonomi

Rizki Fauzan, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Aceh, menjelaskan bahwa komitmen lembaga ini mencakup wilayah yang lebih luas. “Total rumah yang kami bangun di Aceh Tamiang mencapai 132 unit, di Pidie Jaya 68 unit, dan kami juga merencanakan pembangunan 25 unit tambahan di Aceh Tengah,” ungkap Fauzan saat ditemui pada Jumat, 1 Mei 2026. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa para korban banjir bandang tidak berlama-lama berada di tenda darurat yang minim fasilitas.

Keunikan Desain Rumtara: Privasi dan Kenyamanan Menjadi Prioritas

Ada satu hal yang menarik dari pembangunan Rumtara oleh Dompet Dhuafa ini. Berbeda dengan model barak atau rumah deret pada umumnya, setiap unit dibangun dengan dinding yang terpisah satu sama lain. Rumah-rumah ini memiliki luas sekitar 4,8 x 4,8 meter persegi, ukuran yang dianggap cukup ideal untuk satu keluarga kecil yang sedang dalam masa transisi.

Read Also

Skandal Manipulasi Foto AI di JAKI, Pemprov DKI Jakarta Siapkan Sanksi Tegas dan Nomor Aduan Khusus

Skandal Manipulasi Foto AI di JAKI, Pemprov DKI Jakarta Siapkan Sanksi Tegas dan Nomor Aduan Khusus

Material dinding yang digunakan berupa lembaran kayu berkualitas, memberikan kesan sejuk di tengah cuaca Aceh yang seringkali terik. Selain itu, fasilitas dasar seperti aliran listrik sudah terpasang rapi berkat kolaborasi dengan PLN. Desain rumah yang tidak “dempet” ini ternyata menjadi daya tarik utama bagi warga. Alasan privasi dan kenyamanan akustik antar-keluarga menjadi pertimbangan penting mengapa banyak warga yang sangat antusias untuk menempati hunian tersebut.

Sinergi Antar-Lembaga dalam Penyaluran Bantuan

Pembangunan fisik rumah hanyalah satu bagian dari proses panjang pemulihan. Untuk memastikan transparansi dan ketepatan sasaran, Dompet Dhuafa bekerja sama erat dengan Pemerintah Daerah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB. Penentuan lokasi pembangunan, misalnya, sepenuhnya mengikuti rekomendasi dari pemerintah setempat guna memastikan lahan yang digunakan aman dari risiko bencana susulan.

Dalam hal pembagian unit, Fauzan menegaskan bahwa pihaknya menyerahkan sepenuhnya proses pendataan kepada BNPB. “Kami ingin menghindari tumpang tindih bantuan. BNPB memiliki data yang lebih komprehensif mengenai siapa saja yang paling membutuhkan, sehingga bantuan ini benar-benar tepat sasaran,” jelasnya. Tidak hanya soal struktur bangunan, fasilitas penunjang di dalam rumah pun merupakan hasil kolaborasi kolektif.

  • BNPB: Menyediakan perlengkapan dalam rumah seperti karpet, kasur, hingga lemari pakaian.
  • PLN: Memastikan seluruh instalasi listrik terpasang dengan aman dan berfungsi dengan baik.
  • Dompet Dhuafa: Fokus pada penyediaan dan pembangunan unit bangunan fisik.
  • Pemerintah Daerah: Melakukan koordinasi wilayah dan legalitas penggunaan lahan.

Menghindari Kecemburuan Sosial Melalui Sistem Undian

Karena tingginya minat warga untuk menempati Rumtara model mandiri ini, potensi munculnya konflik horizontal atau kecemburuan sosial sempat menjadi kekhawatiran. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihak penyelenggara memutuskan untuk menggunakan mekanisme pengundian dalam penetapan penghuni. Sistem ini dinilai paling adil karena memberikan kesempatan yang sama bagi setiap warga yang telah terdata sebagai penerima manfaat.

“Banyak masyarakat yang ingin menempati rumah sementara ini karena modelnya yang terpisah, bukan rumah dempet. Agar tidak terjadi gesekan di tengah masyarakat, nantinya nama-nama warga akan ditarik secara undian. Ini langkah paling transparan yang bisa kami lakukan,” tambah Fauzan. Dengan cara ini, diharapkan proses perpindahan warga dari tempat pengungsian ke hunian sementara dapat berjalan dengan kondusif dan damai.

Menatap Masa Depan: Harapan di Balik Dinding Kayu

Meskipun statusnya hanya rumah sementara, bagi warga Desa Blang Jeurat dan sekitarnya, bangunan ini adalah awal dari pemulihan martabat mereka. Setelah berbulan-bulan hidup dalam keterbatasan, memiliki tempat yang memiliki sekat ruang dan atap yang kokoh adalah sebuah kemewahan tersendiri. Namun, tantangan ke depan masih panjang. Pemulihan ekonomi dan pembersihan total material lumpur di area pemukiman permanen tetap menjadi agenda besar yang harus diselesaikan.

Kisah di Pidie Jaya ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya solidaritas pascabencana. Kolaborasi antara lembaga filantropi, pemerintah, dan sektor swasta terbukti mampu memberikan solusi nyata bagi masyarakat yang terdampak. Melalui bantuan sosial yang terorganisir dengan baik, luka akibat bencana perlahan-lahan dapat disembuhkan, satu rumah pada satu waktu.

Ke depannya, diharapkan pembangunan hunian permanen bisa segera terealisasi sehingga warga tidak hanya memiliki rumah sementara, tetapi benar-benar memiliki tempat tinggal yang aman dan nyaman untuk jangka panjang. Untuk saat ini, di bawah naungan dinding kayu berkelir hijau, warga Pidie Jaya mulai merajut kembali mimpi-mimpi mereka yang sempat terhanyut arus banjir.

Budi Santoso

Budi Santoso

Wartawan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang berita politik dan peristiwa untuk Kilat News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *