Gibran Rakabuming Raka Puji Jusuf Kalla sebagai Mentor dan Idola di Tengah Hiruk Pikuk Klaim Politik

Budi Santoso | UpdateKilat
22 Apr 2026, 14:58 WIB
Gibran Rakabuming Raka Puji Jusuf Kalla sebagai Mentor dan Idola di Tengah Hiruk Pikuk Klaim Politik

UpdateKilat — Di tengah dinamika panggung politik nasional yang sering kali diwarnai oleh silang pendapat, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menunjukkan sikap yang sarat akan rasa hormat terhadap tokoh-tokoh senior tanah air. Dalam sebuah kesempatan terbaru, putra sulung Presiden ke-7 RI ini memberikan respons yang sangat positif terhadap pernyataan Jusuf Kalla (JK), sosok yang pernah mendampingi ayahnya di kursi pemerintahan selama lima tahun pertama.

Sikap Santun Gibran Menghadapi Klaim Senior

Langkah kaki Gibran Rakabuming Raka di tanah Papua Barat Daya tidak hanya membawa misi peninjauan fasilitas kesehatan, tetapi juga menjadi momen penting bagi publik untuk melihat gaya komunikasinya yang tenang. Usai meninjau RSUD Kabupaten Sorong pada Rabu (22/4/2026), sang Wakil Presiden langsung diberondong pertanyaan mengenai klaim Jusuf Kalla yang menyebut dirinya berperan besar dalam melambungkan nama Joko Widodo hingga menjadi orang nomor satu di Indonesia.

Read Also

Menguak Jaringan Obat Keras di Sawah Besar, Polisi Amankan Puluhan Ribu Butir Daftar G

Menguak Jaringan Obat Keras di Sawah Besar, Polisi Amankan Puluhan Ribu Butir Daftar G

Bukannya memberikan sanggahan yang defensif, Gibran justru melontarkan pujian setinggi langit. Bagi Gibran, Jusuf Kalla bukanlah sekadar mantan Wakil Presiden, melainkan seorang figur yang memiliki kedekatan emosional sebagai guru politik. Ia menegaskan bahwa pengalaman panjang JK di kancah nasional maupun internasional merupakan aset berharga yang harus diakui oleh generasi muda, termasuk dirinya sendiri.

Jusuf Kalla: Sosok Mentor dan Teladan Bangsa

“Pak JK itu senior saya. Pak JK itu mentor juga bagi saya. Beliau adalah orang yang sangat berpengalaman di bidangnya,” ungkap Gibran dengan nada penuh ketulusan. Di mata Gibran, kiprah Jusuf Kalla dalam menjaga stabilitas bangsa, terutama kemampuannya dalam melakukan mediasi di berbagai daerah konflik, merupakan prestasi yang luar biasa. Gibran menilai bahwa ketenangan dan kecerdasan JK dalam memadamkan bara konflik di masa lalu adalah sesuatu yang patut diteladani oleh setiap pemimpin masa kini.

Read Also

Jakarta Tetap Jadi Magnet Utama: Ribuan Pendatang Baru Padati Ibu Kota Pasca-Lebaran 2026

Jakarta Tetap Jadi Magnet Utama: Ribuan Pendatang Baru Padati Ibu Kota Pasca-Lebaran 2026

Lebih lanjut, Gibran tidak ragu menyebut tokoh asal Makassar tersebut sebagai idolanya. Pengakuan ini tentu menjadi angin segar di tengah hubungan politik yang terkadang terlihat kaku di mata publik. Dengan menyebut JK sebagai idola, Gibran secara implisit ingin menyampaikan bahwa perbedaan pandangan atau klaim sejarah tidak seharusnya merusak rasa hormat antar-generasi pemimpin.

Rekam Jejak JK dan Perannya dalam Karier Jokowi

Jika kita menengok kembali lembaran sejarah, apa yang disampaikan Jusuf Kalla memang memiliki landasan fakta yang kuat. JK mengisahkan bagaimana dirinya menjadi salah satu aktor intelektual di balik layar saat menyodorkan nama Joko Widodo kepada Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, untuk berlaga di Pilkada DKI Jakarta tahun 2012 silam. Itu adalah batu loncatan yang sangat krusial sebelum akhirnya Jokowi melenggang ke Istana Merdeka pada tahun 2014.

Read Also

Tragedi Berdarah di Gunung Sampah: Eks Kadis LH DKI Asep Kuswanto Resmi Tersangka Kasus Bantargebang

Tragedi Berdarah di Gunung Sampah: Eks Kadis LH DKI Asep Kuswanto Resmi Tersangka Kasus Bantargebang

Selama periode 2014–2019, JK mendampingi Jokowi sebagai Wakil Presiden ke-12. Dalam masa jabatan tersebut, JK mengaku mendapatkan mandat khusus dari Megawati untuk membimbing dan menjadi navigator bagi Jokowi dalam mengelola birokrasi pemerintahan yang kompleks. Sinergi antara ‘Solo’ yang kental dengan budaya Jawa dan ‘Makassar’ yang lugas serta berjiwa pengusaha, terbukti mampu menggerakkan roda pembangunan di awal kepemimpinan Jokowi.

Menyikapi Kritik dan Evaluasi dengan Kepala Dingin

Gibran Rakabuming Raka juga menekankan betapa pentingnya masukan dari para pendahulu. Sebagai tokoh yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), JK sering kali memberikan evaluasi kritis terhadap jalannya pemerintahan. Bagi Gibran, setiap kritik yang dilontarkan oleh JK dianggap sebagai nutrisi bagi perbaikan kinerjanya sebagai wakil presiden.

“Jadi beliau (JK) itu adalah teladan untuk kita semua dan ya, saya sangat berterima kasih sekali untuk masukan-masukan dan juga evaluasi dari Pak JK,” tambah Gibran. Ia percaya bahwa sebuah bangsa akan besar jika para pemimpin mudanya mau mendengarkan wejangan dari mereka yang telah lebih dulu ‘makan asam garam’ di dunia birokrasi dan politik Indonesia.

Latar Belakang Ketegangan dan Isu Ijazah

Pernyataan JK ini muncul di tengah suasana politik yang sempat menghangat akibat isu ijazah yang menerpa Presiden Jokowi. Klaim JK mengenai jasanya dalam karier politik Jokowi seolah menjadi penegasan bahwa dirinya mengetahui betul silsilah dan perjalanan karier sang presiden dari titik awal hingga puncak. Di sisi lain, Jokowi sempat mengutarakan adanya fitnah yang menyebutkan bahwa polemik ijazah tersebut sengaja dipelihara oleh pihak-pihak tertentu.

Namun, melalui respons Gibran yang mendinginkan suasana, publik diajak untuk melihat sisi lain dari politik: sisi kemanusiaan dan penghormatan. Gibran seolah ingin mengirimkan pesan bahwa meskipun terdapat dinamika yang kompleks di belakang layar, penghargaan terhadap jasa seseorang tetap harus ditempatkan di atas segalanya.

Narasi Baru di Kepemimpinan Muda

Gaya Gibran yang memilih untuk tidak berkonfrontasi menunjukkan sebuah tren baru dalam kepemimpinan anak muda di Indonesia. Alih-alih terjebak dalam perdebatan siapa yang paling berjasa, Gibran lebih memilih untuk merangkul semua pihak sebagai bagian dari proses belajar. Ia memahami bahwa posisi yang ia tempati saat ini adalah hasil dari akumulasi dukungan banyak tokoh di masa lalu, termasuk Jusuf Kalla.

Dengan tetap fokus pada tugas-tugas kenegaraan, seperti kunjungannya ke Papua Barat Daya untuk memastikan layanan kesehatan berjalan maksimal, Gibran ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pemimpin yang visioner namun tetap rendah hati. Penghormatannya kepada JK bukan hanya sekadar basa-basi politik, melainkan pengakuan jujur atas dedikasi seorang senior yang telah mewakafkan hidupnya untuk bangsa.

Kesimpulan: Harmonisasi Antar-Generasi

Pada akhirnya, interaksi antara Gibran Rakabuming Raka dan Jusuf Kalla melalui pernyataan media ini memberikan pelajaran berharga tentang etika politik. Bahwa di atas segala kepentingan kekuasaan, terdapat nilai-nilai kesantunan dan rasa terima kasih yang tidak boleh luntur. Jusuf Kalla tetaplah sang mentor yang disegani, dan Gibran adalah murid yang terus tumbuh dengan membawa semangat pembaruan tanpa melupakan sejarah.

Publik tentu berharap agar harmonisasi seperti ini terus terjaga, sehingga transisi dan keberlanjutan kepemimpinan di Indonesia dapat berjalan dengan damai dan penuh rasa saling menghargai. Sejarah mungkin mencatat siapa yang paling berjasa, namun masa depan akan menilai siapa yang mampu menjaga persatuan di tengah perbedaan pendapat.

Budi Santoso

Budi Santoso

Wartawan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang berita politik dan peristiwa untuk Kilat News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *