Kisah Haru AKP Dr Iswan Brandes: Menemukan Hakikat Sabar di Riuh Rendah Terminal Syib Amir Makkah

Ustadzah Sarah | UpdateKilat
06 Mei 2026, 06:56 WIB
Kisah Haru AKP Dr Iswan Brandes: Menemukan Hakikat Sabar di Riuh Rendah Terminal Syib Amir Makkah

UpdateKilat — Di bawah langit Makkah yang membara, di mana termometer menunjukkan angka nyaris menyentuh 40 derajat Celcius, atmosfer di Terminal Syib Amir terasa begitu menantang. Minggu sore itu, di tengah kepulan asap bus dan hiruk-pikuk ribuan manusia, tampak seorang pria dengan tatapan mata yang tajam namun meneduhkan. Ia adalah AKP Dr. Iswan Brandes, Kepala Pos (Kapos) Terminal Syib Amir, yang sedang berjibaku dengan tugas mulianya.

Bagi banyak orang, suhu seekstrem itu adalah alasan kuat untuk mencari perlindungan di balik dinding berpendingin udara. Namun, bagi Brandes, panas yang menyengat justru menjadi saksi bisu dedikasinya dalam membimbing jemaah haji Indonesia. Ia berdiri tegak, mengarahkan aliran manusia yang turun dari bus shalawat untuk menuju pintu-pintu suci Masjidil Haram.

Read Also

Menghadapi Langit yang Tak Kunjung Terang: Panduan Doa dan Amalan Agar Cuaca Kembali Cerah

Menghadapi Langit yang Tak Kunjung Terang: Panduan Doa dan Amalan Agar Cuaca Kembali Cerah

Transformasi Spiritual di Tengah Debu Terminal

Tugas di Terminal Syib Amir bukanlah pengalaman pertama bagi perwira polisi ini. Ini adalah tahun keduanya mendedikasikan diri untuk melayani para tamu Allah di tanah suci. Pada musim haji tahun 2024, ia memegang tanggung jawab serupa sebagai Kapos di Terminal Ajyad. Pengalaman berturut-turut ini memberinya perspektif yang dalam tentang apa artinya melayani dengan hati.

Namun, ada sesuatu yang berbeda dalam penugasannya kali ini. Brandes mengungkapkan sebuah pengakuan jujur yang menyentuh sanubari. Ia merasa bahwa tugas di lapangan ini telah mengubah karakter pribadinya secara fundamental. Terminal haji, dengan segala kerumitannya, telah bertransformasi menjadi sebuah “sekolah kehidupan” bagi dirinya.

Read Also

Gema Selawat Thalaal Badru: Cerita Saleh Abkar Menyambut Jemaah Haji Indonesia di Jantung Makkah

Gema Selawat Thalaal Badru: Cerita Saleh Abkar Menyambut Jemaah Haji Indonesia di Jantung Makkah

“Saya mungkin dulu orang yang cenderung arogan karena latar belakang profesi dan posisi saya. Namun, sejak dua tahun ditugaskan di terminal ini, saya menemukan makna sabar yang sebenarnya. Di sini, ego harus dikesampingkan demi kenyamanan jemaah,” ungkapnya dengan nada bicara yang rendah hati saat ditemui tim Media Center Haji.

Replika Padang Arafah: Ujian Fisik dan Mental

Brandes menggambarkan kondisi Terminal Syib Amir sebagai sebuah replika kecil dari Padang Arafah. Analogi ini tidak berlebihan mengingat panas yang dirasakan para petugas tidak hanya datang dari sinar matahari yang tegak lurus di atas kepala, tetapi juga pantulan panas dari aspal hitam yang membara di bawah kaki.

Read Also

Rahasia Keberkahan Setelah Salam: Panduan 3 Dzikir Utama Setelah Sholat Beserta Makna Mendalamnya

Rahasia Keberkahan Setelah Salam: Panduan 3 Dzikir Utama Setelah Sholat Beserta Makna Mendalamnya

Di tempat ini, kesabaran bukan lagi sekadar retorika atau materi ceramah. Sabar di sini adalah sebuah tindakan nyata yang harus dihidupi setiap detik. Antrean bus yang seolah tidak ada habisnya, jemaah yang kelelahan dan bingung, hingga dinamika lapangan yang berubah setiap menit, menuntut ketenangan tingkat tinggi.

“Panasnya luar biasa, dari atas kena matahari, dari bawah kena aspal. Ini benar-benar menguji fisik dan mental. Tapi justru di sinilah kepuasan batin itu muncul, saat kita bisa memastikan jemaah sampai ke tujuan dengan aman meskipun dalam kondisi yang sangat menekan,” tambahnya.

Dedikasi Tanpa Batas: Tidur di Dalam Bus

Mengelola pergerakan ribuan orang setiap hari tentu membutuhkan manajemen waktu yang luar biasa. Brandes memimpin sebuah tim yang terdiri dari 17 personel transportasi. Meskipun sistem kerja dibagi ke dalam tiga shift, sebagai pimpinan pos, Brandes dan wakilnya harus siaga selama 24 jam penuh tanpa henti.

Tantangan terbesar adalah masalah istirahat. Jangan bayangkan mereka tidur di kamar hotel yang nyaman. Demi menjaga kelancaran Bus Shalawat, Brandes rela menghabiskan waktu istirahatnya yang hanya berkisar 2 hingga 3 jam di dalam bus yang sedang parkir. Baginya, setiap detik sangat berharga untuk memastikan tidak ada jemaah yang terlantar di terminal.

Pilihan untuk tetap bertugas di terminal, meskipun sempat ditawari posisi lain yang mungkin lebih nyaman secara fisik, menunjukkan integritasnya. Brandes merasa bahwa di terminal inilah ia bisa memberikan dampak yang paling nyata. Ia mengingat kembali performa timnya pada periode sebelumnya, yang menjadi dasar kuat mengapa ia kembali dipercaya mengemban amanah berat ini.

Menjunjung Tinggi Nilai Kemanusiaan

Meskipun bekerja dengan sistem yang terorganisir, Brandes selalu menekankan bahwa manusia tetaplah pusat dari segala proses pelayanan. Ia menyadari sepenuhnya bahwa sebagai manusia biasa, ia dan timnya tidaklah sempurna. Ada kalanya kelelahan fisik mempengaruhi kinerja, namun semangat untuk memperbaiki diri selalu ada.

Ia sangat terbuka terhadap kritik dan masukan dari para jemaah. Baginya, kritik bukanlah serangan, melainkan bahan evaluasi untuk memberikan layanan yang lebih baik di hari-hari berikutnya. Komunikasi dua arah antara petugas dan jemaah menjadi kunci keberhasilan operasional di lapangan yang sangat dinamis.

“Kami selalu berusaha memberikan yang terbaik. Namun, jika masih ada celah atau kekurangan, kami mohon jemaah bisa memahaminya sebagai keterbatasan kami sebagai manusia. Masukan dari jemaah sangat kami butuhkan untuk perbaikan layanan transportasi ke depannya,” tutur Brandes.

Sebuah Pengabdian yang Mengubah Penampilan

Di penghujung sesi wawancara, ada momen emosional yang terjadi. Mata Brandes tampak berkaca-kaca, mencerminkan betapa dalam ia meresapi tugas ini. Ada kelelahan yang nyata, namun ada pula kebanggaan yang tak terlukiskan di sana.

Sebuah kalimat penutup yang ia lontarkan menggambarkan betapa beratnya medan yang ia hadapi. Dengan nada bercanda namun penuh makna, ia berpesan kepada para jurnalis, “Semoga minggu depan Anda masih mengenali saya, karena warna kulit saya pasti sudah berubah menjadi jauh lebih gelap akibat matahari di sini.”

Kisah AKP Dr. Iswan Brandes adalah satu dari sekian banyak potret dedikasi petugas haji Indonesia yang bekerja di balik layar. Mereka adalah pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa yang merelakan kenyamanan pribadinya demi memastikan para tamu Allah dapat menjalankan ibadah dengan lancar. Di Terminal Syib Amir, Brandes bukan hanya sekadar mengatur bus, ia sedang mengukir makna kesabaran di atas aspal Makkah yang panas.

Melalui pengalaman ini, kita diingatkan bahwa tempat kerja yang paling berat sekalipun bisa menjadi ruang refleksi yang paling jujur jika dihadapi dengan ketulusan. Transformasi dari karakter yang arogan menjadi pribadi yang penuh sabar adalah bukti bahwa pengabdian kepada sesama manusia adalah salah satu jalan terpendek menuju kedewasaan spiritual.

Ustadzah Sarah

Ustadzah Sarah

Penulis konten religi dan lulusan studi Islam yang berdedikasi menyebarkan konten positif di Kilat Islami.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *