Gema Selawat Thalaal Badru: Cerita Saleh Abkar Menyambut Jemaah Haji Indonesia di Jantung Makkah
UpdateKilat — Suasana malam di distrik Syisyah, Makkah, seketika berubah menjadi penuh haru saat bus-bus besar mulai memasuki pelataran Gulf Suites Hotel 1. Di tengah suhu udara yang masih terasa menyengat meski matahari telah terbenam, terdengar sebuah alunan vokal yang begitu jernih dan menyentuh sukma. Lantunan selawat Thalaal Badru, syair legendaris yang dahulu digunakan penduduk Madinah untuk menyambut hijrah Nabi Muhammad SAW, kini kembali berkumandang untuk menyambut para tamu Allah dari Nusantara.
Mengenal Saleh Abkar: Sang Maestro di Balik Lantunan Penyambut Tamu Allah
Di balik suara bariton yang stabil dan menenangkan itu, berdirilah Saleh Abkar. Pria asli Arab Saudi berusia 40 tahun ini tampak bersahaja dengan jubah putihnya. Tanpa iringan alat musik modern, Saleh hanya mengandalkan kekuatan vokalnya yang terlatih, sesekali didampingi oleh dua pemuda yang mengisi harmoni koor ringan di belakangnya. Kehadiran mereka seolah memberikan oase kesejukan bagi jemaah haji Indonesia yang baru saja menempuh perjalanan darat yang melelahkan.
Rahasia Keberkahan Malam: Panduan Lengkap Doa Menjawab Adzan Isya dan Makna Spiritualnya
Saleh bukanlah orang baru dalam dunia seni suara. Ia merupakan seorang pengajar musik dan seni vokal di Fariq Al-Jasis. Bakat dan kecintaannya pada dunia tarik suara telah ia tekuni sejak usia 17 tahun. Baginya, menyanyi bukan sekadar profesi, melainkan sebuah bentuk pengabdian, terutama saat musim haji tiba. Pengalaman berpuluh-puluh tahun di bidang ini membuatnya mampu mengontrol emosi pendengarnya hanya melalui vibrasi suara.
Setiap kali musim ibadah haji tiba, Saleh kebanjiran undangan dari berbagai manajemen hotel yang bekerja sama dengan maktab. Dalam sehari, ia bisa berpindah dari satu hotel ke hotel lainnya, tampil dua hingga tiga kali untuk menyambut jemaah dari berbagai penjuru dunia, mulai dari Turki, Bangladesh, Nigeria, hingga jemaah kesayangannya, Indonesia.
Khutbah Jumat Akhir Syawal: Menjaga Api Istiqomah dan Meraih Kebahagiaan Hakiki
Ritual Penyambutan yang Penuh Khidmat di Syisyah
Malam itu, Jumat (30/4/2026), giliran jemaah Kloter 4 Embarkasi Solo (SOC) yang beruntung mendapatkan sambutan hangat tersebut. Setelah menempuh perjalanan sekitar enam jam dari Madinah, wajah-wajah lelah para jemaah seketika berbinar saat melewati gapura hotel yang dihias cantik dengan balon berwarna merah dan putih—sebuah sentuhan personal yang dipersiapkan petugas untuk membangkitkan rasa nasionalisme di Tanah Suci.
Begitu jemaah turun dari bus, mereka tidak hanya disambut dengan senyuman, tetapi juga dengan segelas air zamzam yang dingin serta paket suvenir berisi tasbih, kipas, kurma, dan Al-Qur’an. Namun, di antara semua pemberian fisik itu, suara Saleh Abkar-lah yang paling membekas. Ia bernyanyi dengan durasi sekitar 15 menit untuk setiap sesi kedatangan bus. Pola ini berulang sepanjang malam, memastikan setiap jemaah mendapatkan pengalaman spiritual yang serupa.
Mengapa Puncak Ibadah Haji Dilakukan pada Bulan Dzulhijjah? Menelusuri 6 Alasan Filosofis dan Syariatnya
Narasi yang dibangun Saleh melalui musiknya menciptakan jembatan emosional. Banyak jemaah yang tampak berkaca-kaca saat mendengar selawat tersebut. Bagi mereka, alunan suara Saleh seolah menjadi konfirmasi bahwa mereka benar-benar telah sampai di kota suci Makkah, rumah bagi seluruh umat Islam, setelah bertahun-tahun menanti keberangkatan.
Duet Spontan dan Kedekatan Emosional dengan Jemaah Indonesia
Ada momen menarik di sela-sela penampilan Saleh malam itu. Seorang petugas layanan haji Indonesia, Asep Badruddin, tampak menghampiri Saleh. Keduanya sempat berbincang akrab dalam bahasa Arab sebelum akhirnya memutuskan untuk berduet secara spontan. Mereka melantunkan beberapa bait selawat dari kitab Maulid Al-Barzanji yang sangat akrab di telinga masyarakat Muslim Indonesia.
Interaksi ini menunjukkan betapa Islam mampu melunturkan sekat-sekat perbedaan budaya. Saleh mengakui bahwa jemaah Indonesia memiliki tempat spesial di hatinya. Saat ditanya mengenai kesannya terhadap jemaah dari Tanah Air, Saleh menjawab dengan tegas dan penuh keyakinan. “Siapa bilang Indonesia tidak baik? Indonesia itu sangat baik!” ujarnya sembari tersenyum lebar.
Karakter jemaah Indonesia yang dikenal santun, sabar, dan tertib memang menjadi rahasia umum di kalangan penduduk lokal Makkah. Hal inilah yang membuat Saleh selalu bersemangat setiap kali diminta mengisi acara penyambutan untuk jemaah asal Indonesia. Baginya, ada getaran spiritual yang berbeda saat ia berselawat di depan orang-orang yang datang dengan penuh ketulusan dari ribuan kilometer jauhnya.
Makna Mendalam di Balik Tradisi Penyambutan
Tradisi menyambut jemaah dengan selawat dan pemberian hadiah kecil ini bukan tanpa alasan. Secara psikologis, jemaah haji yang baru tiba seringkali mengalami tingkat stres yang cukup tinggi akibat perpindahan cuaca, kelelahan fisik, dan rasa rindu pada keluarga. Berita Makkah hari ini melaporkan bahwa pendekatan humanis seperti yang dilakukan Saleh Abkar sangat efektif untuk menenangkan kondisi psikis jemaah.
Thalaal Badru sendiri mengandung lirik yang memuji bulan purnama yang terbit di atas kita. Penggunaan syair ini dalam konteks penyambutan haji menyiratkan pesan bahwa setiap jemaah yang datang adalah tamu istimewa yang kehadirannya membawa berkah dan cahaya. Dengan penyambutan yang hangat, diharapkan jemaah bisa lebih fokus dan tenang dalam menjalankan rangkaian rukun haji yang berat ke depannya.
Saleh dan murid-muridnya yang ikut mendampingi adalah representasi dari keramah-tamahan penduduk lokal (Ansar modern) terhadap para pendatang (Muhajirin modern). Mereka memastikan bahwa langkah pertama jemaah di Makkah tidak diawali dengan kebingungan, melainkan dengan harmoni dan rasa aman.
Harapan dan Dedikasi di Musim Haji 2026
Menjelang tengah malam, saat bus terakhir telah mengosongkan muatannya dan jemaah telah masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat, Saleh Abkar baru mulai mengemasi perlengkapannya. Meski tampak lelah, binar kepuasan terlihat di matanya. Dedikasi yang ia tunjukkan sejak usia remaja hingga kini berusia kepala empat membuktikan bahwa seni suara bisa menjadi sarana ibadah yang luar biasa.
“Suara adalah anugerah, dan menggunakannya untuk menyambut tamu Allah adalah sebuah kehormatan yang tak ternilai,” ungkapnya singkat sebelum meninggalkan area hotel. Bagi Saleh, setiap musim haji adalah lembaran baru untuk merajut persaudaraan antarmanusia melalui nada.
Kisah Saleh Abkar menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di balik megahnya infrastruktur Makkah dan kompleksitas logistik haji, selalu ada sentuhan-sentuhan personal yang membuat perjalanan suci ini menjadi tak terlupakan. Suara merdu dari Syisyah itu akan terus terngiang di telinga para jemaah, menjadi bagian dari memori indah mereka tentang perjalanan menuju Sang Khalik.