Menakar Geliat IPO 2026: 16 Calon Emiten Mengantre, Perusahaan Kakap Mendominasi
UpdateKilat — Panggung pasar modal Indonesia tengah bersiap menyambut gelombang emiten baru yang akan meramaikan lantai bursa. Hingga pertengahan April 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat antrean panjang dalam pipeline pencatatan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO). Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 16 perusahaan saat ini sedang mematangkan proses untuk melakukan penawaran umum.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengungkapkan bahwa pergerakan ini menunjukkan optimisme pelaku usaha terhadap stabilitas ekonomi nasional. Menariknya, dari belasan calon emiten tersebut, mayoritas merupakan korporasi dengan modal kuat atau skala besar.
Dominasi Perusahaan Beraset Jumbo
Merujuk pada klasifikasi yang tertuang dalam POJK Nomor 53/POJK.04/2017, komposisi calon emiten kali ini didominasi oleh perusahaan dengan aset skala besar, yakni mereka yang memiliki nilai aset di atas Rp 250 miliar. Tercatat ada 11 perusahaan dalam kategori ini yang siap melantai. Sementara itu, 5 perusahaan lainnya masuk dalam kategori skala menengah dengan aset di kisaran Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar.
IHSG Meroket 2,34% di Tengah Gejolak Global, Sektor Infrastruktur Jadi Motor Penggerak Utama
Hingga saat ini, belum ada keterwakilan dari perusahaan skala kecil (aset di bawah Rp 50 miliar) dalam daftar antrean tersebut. Berikut adalah pemetaan sektor dari 16 perusahaan yang tengah dalam proses pencatatan saham di BEI:
- Sektor Perawatan Kesehatan: 4 Perusahaan
- Sektor Consumer Nonsiklikal: 3 Perusahaan
- Sektor Consumer Siklikal: 3 Perusahaan
- Sektor Infrastruktur: 2 Perusahaan
- Sektor Teknologi: 2 Perusahaan
- Sektor Energi: 1 Perusahaan
- Sektor Keuangan: 1 Perusahaan
Geliat Instrumen Utang dan Rights Issue
Tak hanya melalui jalur IPO, aktivitas penggalangan dana di pasar modal juga diramaikan oleh penerbitan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS). UpdateKilat merangkum bahwa telah terbit 52 emisi dari 35 penerbit dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp 57,16 triliun. Saat ini, masih ada 46 emisi lagi dari 31 penerbit yang mengantre di pipeline, di mana sektor keuangan mendominasi dengan 15 calon emisi.
Performa Gemilang Bank OCBC 2025: Cetak Laba Rp 5,1 Triliun di Tengah Ekspansi Strategis
Di sisi lain, mekanisme rights issue juga tetap menjadi pilihan strategis bagi emiten yang sudah melantai untuk memperkuat struktur permodalan. Hingga periode yang sama, tiga perusahaan tercatat telah sukses mengeksekusi rights issue dengan total nilai Rp 3,75 triliun, dan satu perusahaan dari sektor properti terpantau masih berada dalam daftar tunggu.
IHSG Melaju di Tengah Sentimen Global
Sejalan dengan maraknya aksi korporasi, performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga menunjukkan tren positif. Pada pekan ketiga April 2026, IHSG berhasil menguat 2,35% dan mendarat di level 7.634. Kenaikan ini diikuti dengan lonjakan kapitalisasi pasar yang kini menyentuh angka Rp 13.635 triliun.
Analis melihat bahwa pergerakan pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, terutama negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang terus dipantau investor global. Selain itu, fluktuasi harga komoditas dunia seperti emas dan minyak mentah turut menjadi variabel penentu. Di level domestik, performa saham-saham dari emiten konglomerasi menjadi motor utama penggerak indeks, yang tercermin dari kenaikan signifikan pada rata-rata volume dan frekuensi transaksi harian di bursa.
Proyeksi IHSG 10 April 2026: Di Tengah Bayang-bayang Koreksi, Cek Rekomendasi Saham BUMI, CPIN hingga MDKA
Meskipun investor asing tercatat masih melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 2,71 triliun, likuiditas pasar secara keseluruhan tetap terjaga dengan rata-rata nilai transaksi harian yang meningkat menjadi Rp 20,36 triliun. Hal ini menandakan bahwa minat investor domestik masih sangat kuat dalam menyerap dinamika yang terjadi di pasar modal tanah air.