13 Calon Emiten Antre di Pipeline BEI, Target Melantai Paling Lambat Juni 2026
UpdateKilat — Gairah pasar modal Indonesia tampaknya tetap membara meski di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan bahwa minat perusahaan untuk melakukan penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) masih terjaga dengan sangat baik. Hingga memasuki kuartal kedua tahun 2026, tercatat sudah ada 13 perusahaan yang masuk dalam daftar antrean atau pipeline otoritas bursa.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menegaskan bahwa fenomena ini membuktikan bahwa selera pasar terhadap instrumen ekuitas tidak memudar. Menariknya, daftar calon emiten kali ini tidak didominasi oleh satu industri saja, melainkan tersebar di berbagai sektor strategis yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Strategi Lincah Manulife Hadapi Volatilitas Global: Mengintip Peluang di Balik Ketidakpastian Pasar
Sektor Variatif, Sinyal Positif Ekonomi
Menurut Nyoman, diversifikasi sektor dari para calon emiten ini menunjukkan kepercayaan diri pelaku usaha yang merata. Mulai dari sektor keuangan, energi, hiburan, hingga barang konsumsi (consumer goods) tengah bersiap untuk melakukan ekspansi melalui skema investasi saham publik.
“Saat ini ada 13 perusahaan di berbagai sektor, dan ini sangat menarik. Ada finansial, energi, entertainment, hingga consumer goods. Meski kondisi pasar sangat dinamis, namun appetite atau minat dari para pelaku usaha masih terlihat kuat,” ujar Nyoman saat ditemui tim UpdateKilat di Gedung BEI, Jakarta.
Mengejar Target Juni 2026
Pihak bursa menargetkan mayoritas dari perusahaan dalam pipeline tersebut dapat resmi melantai paling lambat pada Juni 2026. Target ini didasarkan pada siklus penggunaan laporan keuangan tahunan periode Desember tahun sebelumnya sebagai landasan dokumen persyaratan IPO.
Geliat Pasar Modal 2026: Penerbitan Obligasi Korporasi Melambung Hingga Rp 59,35 Triliun
“Kami mengharapkan pencatatan saham mereka bisa terealisasi di bulan Juni ini, karena sebagian besar, bahkan mungkin seluruhnya, menggunakan laporan keuangan per Desember. Jadi, prosesnya sedang kami akselerasi agar bisa segera melantai,” tambahnya lagi.
Optimisme di Tengah Minimnya Emiten Baru
Meskipun hingga April 2026 baru ada satu perusahaan yang berhasil melakukan pencatatan perdana, yakni PT BSA Logistik Indonesia Tbk (WBSA), BEI tetap optimistis terhadap target tahunan. Keberhasilan WBSA yang mencatatkan kelebihan permintaan (oversubscribed) menjadi katalis positif bagi calon emiten lainnya.
BEI sendiri mematok target ambisius untuk tahun 2026 dengan total 555 pencatatan efek, yang mencakup setidaknya 50 perusahaan IPO baru. Angka ini mencerminkan kenaikan signifikan, bahkan diproyeksikan tumbuh lebih dari 50 persen dibandingkan capaian pada tahun 2025.
Kinerja Impresif BTN di Kuartal I 2026: Laba Bersih Tembus Rp 1,1 Triliun Berkat Transformasi Strategis
“Kami percaya diri bahwa kontribusi pencatatan efek tahun ini akan jauh lebih besar. Momentum suksesnya emiten pertama di 2026 menjadi sinyal penting bagi pasar bahwa kepercayaan terhadap Bursa Efek Indonesia tetap kokoh di tengah volatilitas pasar yang ada,” pungkas Nyoman.