Sinyal Positif! Komisaris Petrosea (PTRO) Pertebal Kepemilikan Saham di Tengah Ekspansi Proyek Masela
UpdateKilat — Langkah strategis kembali ditunjukkan oleh jajaran elit PT Petrosea Tbk (PTRO). Di tengah dinamika pasar modal yang fluktuatif, Komisaris Petrosea, Erwin Ciputra, memutuskan untuk menambah porsi kepemilikan sahamnya secara signifikan. Aksi korporasi ini seolah menjadi sinyal kuat akan kepercayaan internal terhadap masa depan emiten yang terafiliasi dengan taipan Prajogo Pangestu tersebut.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dirilis pada pertengahan April 2026, Erwin Ciputra melakukan pembelian sebanyak 300.000 lembar saham PTRO. Transaksi ini dieksekusi pada harga Rp 5.745 per saham, yang jika dikalkulasikan, nilai investasi tambahan ini mencapai Rp 1,72 miliar. Langkah ini mempertegas posisi Erwin yang mengalihkan asetnya menjadi kepemilikan langsung dengan tujuan investasi jangka panjang.
Strategi Perkuat Posisi, Semarop Agung Borong Saham Summarecon Agung (SMRA) Senilai Rp 9,5 Miliar
Struktur Kepemilikan yang Kian Gemuk
Pasca transaksi tersebut, portofolio Erwin Ciputra di tubuh Petrosea kini semakin kokoh. Ia sekarang menggenggam total 11.654.000 lembar saham atau setara dengan 0,1155% dari total saham yang beredar. Sebelumnya, Erwin tercatat memiliki 11.354.000 lembar saham atau sekitar 0,1126%. Meskipun persentasenya terlihat kecil bagi publik, bagi kalangan internal, penambahan ini mencerminkan komitmen nyata terhadap pertumbuhan perusahaan.
Di sisi lain, kondisi saham PTRO di lantai bursa pada Rabu (15/4/2026) sempat mengalami tekanan. Harga saham ditutup merosot 4,14% ke level Rp 6.375 per saham, setelah sempat menyentuh level tertinggi harian di Rp 6.875. Pergerakan ini sejalan dengan kondisi IHSG yang juga ditutup melemah 0,68% ke posisi 7.623,58, dipicu oleh koreksi di sektor kesehatan dan infrastruktur.
Kalender Libur Bursa Mei 2026: Panduan Strategi Investor di Tengah Dinamika IHSG
Ambisi Besar di Proyek LNG Masela
Keputusan sang komisaris untuk memborong saham tentu tidak lepas dari prospek cerah yang tengah digarap perusahaan. Petrosea baru-baru ini mengamankan kontrak prestisius dalam pembangunan infrastruktur darat LNG Perimeter Construction Works untuk proyek Lapangan Abadi, Blok Masela di Maluku. Melalui konsorsium Petrosea-ETI-Nindya, nilai kontrak yang dikantongi mencapai Rp 989 miliar dengan durasi pengerjaan selama 36 bulan.
Dalam konsorsium ini, Petrosea memegang porsi partisipasi sebesar 36%. Ruang lingkup pekerjaannya tidak main-main, mencakup pembangunan jalan ekspansi publik, relokasi jaringan listrik, hingga opsi pembangunan dermaga perintis. Proyek ini dipandang sebagai tulang punggung ketahanan energi nasional di masa depan.
Kinerja Finansial yang Meroket
Melirik ke belakang, performa finansial Petrosea sepanjang tahun 2025 memang patut diacungi jempol. Perusahaan mencatatkan pendapatan sebesar USD 886,45 juta atau melesat 28,32% dibandingkan tahun sebelumnya. Segmen penambangan serta konstruksi dan rekayasa masih menjadi mesin uang utama bagi perseroan.
Geliat Bursa Asia: Menimbang Harapan Damai di Tengah Panasnya Hubungan Iran-AS
Yang paling mengesankan adalah lonjakan laba bersih yang mencapai 197,02%, dari USD 9,69 juta pada 2024 menjadi USD 28,8 juta atau sekitar Rp 481,66 miliar pada akhir 2025. Dengan total aset yang kini membengkak menjadi USD 1,58 miliar, kinerja fundamental Petrosea tampak sangat sehat untuk mendukung rencana ekspansi yang lebih agresif di kawasan Asia Pasifik dan Oseania.
Aksi borong saham oleh orang dalam (insider buying) seperti yang dilakukan Erwin Ciputra ini seringkali dibaca oleh analis pasar sebagai indikator bahwa harga saham saat ini masih tergolong ‘murah’ dibandingkan dengan potensi nilai perusahaan di masa yang akan datang.