Said Abdullah Soroti Fenomena ‘Topeng’ Media Sosial: Waspadai Kepalsuan dalam Panggung Politik

Budi Santoso | UpdateKilat
12 Apr 2026, 15:55 WIB
Said Abdullah Soroti Fenomena 'Topeng' Media Sosial: Waspadai Kepalsuan dalam Panggung Politik

UpdateKilat Di tengah derasnya arus informasi digital yang kian tak terbendung, Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, melontarkan peringatan tajam mengenai pergeseran budaya di jagat maya. Ia menyoroti bagaimana platform digital kini sering kali disalahgunakan sebagai instrumen pencitraan yang jauh dari realitas aslinya.

Panggung Sandiwara di Media Sosial

Menurut Said, fenomena kepalsuan saat ini tidak lagi hanya terbatas pada interaksi tatap muka, melainkan telah merambah secara masif ke ranah digital. Ia menganalogikan media sosial sebagai sebuah “topeng” yang mampu menyembunyikan wajah asli seseorang demi kepentingan tertentu, terutama dalam kontestasi politik.

“Kini kepalsuan merambah ke mana-mana. Media sosial menjadi topeng, menutup wajah asli dan mampu mengubah seribu wajah sesuai kepentingan,” ujar Said dalam keterangan resminya pada Minggu (12/4/2026). Ia melihat adanya kecenderungan di mana citra dibangun secara artifisial, sering kali mengaburkan batas antara fakta dan rekayasa demi meraih simpati publik.

Read Also

Momen Haru Purnatugas Anwar Usman: Detik-Detik Mantan Hakim MK Tumbang Usai Mengabdi 15 Tahun

Momen Haru Purnatugas Anwar Usman: Detik-Detik Mantan Hakim MK Tumbang Usai Mengabdi 15 Tahun

Pentingnya Tradisi Tabayyun di Era Digital

Menyikapi fenomena tersebut, Said Abdullah mengajak masyarakat untuk lebih kritis dalam menyerap informasi. Ia menekankan bahwa di tengah gempuran konten yang manipulatif, sikap tabayyun atau melakukan klarifikasi menjadi sebuah keharusan agar masyarakat tidak terjebak dalam pusaran hoaks atau informasi yang menyesatkan.

Ia juga mendorong penguatan kembali nilai-nilai spiritual dan akal budi dalam berinteraksi. “Sering-sering bertabayun dan silaturahmi, meninggikan akal budi, serta selalu membuka hati dengan berpegang teguh pada jalan yang diridhai Allah SWT,” tuturnya dengan nada reflektif. Baginya, tabayyun adalah benteng pertahanan terakhir dari degradasi moral di dunia digital.

Integritas dan Konsistensi PDI Perjuangan

Lebih lanjut, Said menegaskan bahwa prinsip-prinsip kejujuran dan kerendahan hati harus tetap menjadi kompas dalam berpolitik. Di tengah perubahan zaman yang serba instan, ia menjamin bahwa PDI Perjuangan akan terus konsisten memegang teguh nilai-nilai integritas tanpa harus terjebak dalam praktik politik adu domba.

Read Also

Pesan Menohok Bahlil Lahadalia di Musda Maluku Utara: Jaga Soliditas Golkar, Hentikan Budaya Pecat Memecat

Pesan Menohok Bahlil Lahadalia di Musda Maluku Utara: Jaga Soliditas Golkar, Hentikan Budaya Pecat Memecat

“Berpolitik harus konsisten, adil sejak dari pikiran, tidak hasut sana sini, serta senantiasa membuka tali silaturahmi dan rendah hati. Insya Allah PDI Perjuangan akan konsisten memegang nilai-nilai ini,” tegasnya. Pernyataan ini sekaligus menjadi pesan kuat bagi para kader dan pelaku politik lainnya agar senantiasa mengedepankan etika dan kejujuran di atas sekadar popularitas semu di layar ponsel.

Said menutup pesannya dengan harapan agar politik Indonesia ke depan tetap berlandaskan pada kemanusiaan dan kebenaran, bukan sekadar riuh rendah di politik digital yang kerap kali menipu mata.

Budi Santoso

Budi Santoso

Wartawan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang berita politik dan peristiwa untuk Kilat News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *