Strategi Gibran Rakabuming Genjot Kejayaan Kakao Nasional dari Tanah Papua Barat

Budi Santoso | UpdateKilat
21 Jun 2026, 20:55 WIB
Strategi Gibran Rakabuming Genjot Kejayaan Kakao Nasional dari Tanah Papua Barat

UpdateKilat — Langkah nyata dalam memperkuat kedaulatan pangan dan ekonomi kerakyatan kembali ditegaskan oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Di bawah terik matahari yang menyinari hamparan hijau Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat, sang Wapres secara simbolis menanam bibit kakao unggulan sebagai tonggak awal percepatan rehabilitasi perkebunan nasional. Aksi ini bukan sekadar seremonial belaka, melainkan sebuah pernyataan politik ekonomi bahwa wilayah Timur Indonesia, khususnya Papua Barat, merupakan pilar utama dalam peta jalan industri kakao dunia.

Kunjungan kerja yang berlangsung pada Sabtu (20/6) ini berpusat di lahan perkebunan milik PT Ebier Suth Cokran. Kehadiran Gibran di tengah-tengah petani lokal memberikan sinyal kuat bahwa pemerintah pusat menaruh perhatian serius terhadap hilirisasi komoditas perkebunan. Dalam narasi besar pembangunan yang diusung, kakao tidak lagi hanya dilihat sebagai komoditas mentah, melainkan aset strategis yang mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat adat jika dikelola dengan sentuhan teknologi dan manajemen yang modern.

Read Also

OTT KPK di Tulungagung: Bupati Dikabarkan Terjaring dalam Operasi Senyap Komisi Antirasuah

OTT KPK di Tulungagung: Bupati Dikabarkan Terjaring dalam Operasi Senyap Komisi Antirasuah

Visi Hilirisasi dan Posisi Global Indonesia

Direktur Manajemen Pemasaran dan Komunikasi PT Ebier Suth Cokran, Febri Sumbung, mengungkapkan bahwa kehadiran Wapres membawa optimisme baru bagi pelaku industri cokelat di tanah air. Menurutnya, Wapres Gibran sangat menekankan bahwa Indonesia memiliki segala prasyarat untuk menjadi pemain utama dalam rantai pasok industri kakao global. Namun, untuk mencapai puncak tersebut, ada tantangan besar yang harus diselesaikan terlebih dahulu, yakni peningkatan produktivitas yang selaras dengan kualitas produk yang mumpuni.

“Wakil Presiden menggarisbawahi bahwa potensi kita sangat besar. Kuncinya terletak pada penguatan hilirisasi dan pengelolaan kebun yang tidak hanya produktif, tetapi juga ramah lingkungan. Ini adalah standar baru yang diminta oleh pasar internasional saat ini,” jelas Febri saat memberikan keterangan resmi kepada awak media. Melalui hilirisasi, nilai tambah dari biji kakao akan tetap berada di dalam negeri, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat di sekitar perkebunan.

Read Also

Drama ‘Starling’ di Kuningan: Viral Emak-emak Ngamuk Saat Ditertibkan, Satpol PP Pilih Jalur Humanis

Drama ‘Starling’ di Kuningan: Viral Emak-emak Ngamuk Saat Ditertibkan, Satpol PP Pilih Jalur Humanis

Teknologi Klon Trinitario: Senjata Baru dari Manokwari Selatan

Salah satu sorotan utama dalam kegiatan ini adalah penggunaan bibit kakao klon Trinitario varietas unggulan, yang mencakup kode CKR-40, CKR-13, CKR-14, dan CKR-12. Varietas ini dikenal memiliki daya tahan yang baik terhadap hama serta potensi hasil panen yang jauh lebih tinggi dibandingkan varietas konvensional. Penanaman bibit unggul ini diharapkan menjadi solusi atas masalah penuaan pohon kakao yang selama ini menghambat produksi nasional.

Prosesi penanaman ini dilakukan secara kolaboratif. Wapres Gibran tidak sendirian; ia didampingi oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk, Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan, serta Bupati Manokwari Selatan Bernard Mandacan. Keterlibatan berbagai elemen, mulai dari pejabat tinggi hingga mahasiswa dan petani lokal, menunjukkan adanya sinergi lintas generasi dan lintas instansi dalam mendukung program rehabilitasi perkebunan yang dicanangkan oleh Kementerian Pertanian.

Read Also

Jakarta Tercekik Polusi: Menempati Posisi Kedua Kualitas Udara Terburuk di Dunia Pagi Ini

Jakarta Tercekik Polusi: Menempati Posisi Kedua Kualitas Udara Terburuk di Dunia Pagi Ini

Agroforestri Dinamis: Menjaga Keseimbangan Ekosistem

Wapres Gibran juga memberikan atensi khusus pada aspek keberlanjutan. Dalam arahannya, ia meminta agar pengembangan perkebunan kakao di Papua Barat menerapkan sistem agroforestri dinamis. Sistem ini melibatkan penanaman pohon naungan yang berfungsi menjaga kelembapan tanah dan menyediakan ekosistem alami bagi predator hama, sehingga penggunaan pestisida kimia dapat diminimalisir.

Penerapan konsep hijau ini bukan tanpa alasan. Pasar global, terutama di Eropa dan Amerika Serikat, kini semakin ketat dalam memberlakukan aturan mengenai ketertelusuran (traceability) dan aspek anti-deforestasi. Dengan menerapkan agroforestri, produk cokelat asal Papua Barat nantinya akan memiliki sertifikasi hijau yang membuatnya memiliki nilai jual lebih tinggi di pasar internasional. Indonesia ingin membuktikan bahwa industrialisasi perkebunan bisa berjalan beriringan dengan pelestarian hutan tropis Papua.

Pemberdayaan Masyarakat Adat sebagai Jantung Produksi

Hal yang paling membanggakan dari operasional PT Ebier Suth Cokran adalah keterlibatan masyarakat lokal. Tercatat sekitar 88 hingga 90 persen tenaga kerja di perusahaan tersebut merupakan masyarakat adat Papua. Mereka tidak hanya berperan sebagai buruh kasar, tetapi terlibat aktif dalam seluruh rantai nilai produksi—mulai dari tahap pembibitan yang membutuhkan ketelitian, budidaya di lapangan, hingga proses pascapanen dan pengendalian mutu di laboratorium.

Wapres Gibran memandang hal ini sebagai model ideal pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. Dengan keterlibatan masyarakat adat yang dominan, rasa memiliki terhadap industri ini menjadi sangat kuat. Koperasi Ebier Suth Cokran, yang menaungi para petani, menjadi mesin penggerak ekonomi yang memastikan keuntungan tidak hanya mengalir ke korporasi, tetapi juga kembali ke kantong-kantong masyarakat lokal di Manokwari Selatan.

Target Ambisius 2026: Transformasi 2.000 Hektare Lahan

Kegiatan penanaman ini merupakan bagian dari persiapan menyambut program besar Kementerian Pertanian pada Tahun Anggaran 2026. Di Kabupaten Manokwari Selatan saja, ditargetkan akan ada 2.000 hektare lahan yang direhabilitasi dan dikembangkan. Pembagiannya dilakukan secara proporsional: 1.800 hektare dialokasikan langsung untuk petani rakyat, sementara 200 hektare dikelola oleh Koperasi Ebier Suth Cokran sebagai pusat percontohan dan riset.

Menariknya, dari total lahan tersebut, pemerintah tetap konsisten menjaga aspek konservasi. Komposisi pengembangannya mencakup 1.200 hektare untuk lahan produksi kakao aktif dan 800 hektare sisanya ditetapkan sebagai kawasan konservasi permanen. Strategi ini memastikan bahwa ekspansi ekonomi tidak akan mengorbankan paru-paru dunia yang ada di tanah Papua. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif namun tetap bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Harapan Baru bagi Petani Kakao Indonesia

Melalui langkah strategis ini, pemerintah berharap Indonesia dapat segera kembali merebut posisi sebagai produsen kakao terbesar di dunia. Penguatan kapasitas petani menjadi harga mati. Gibran menekankan bahwa teknologi dan bibit unggul tidak akan memberikan dampak maksimal tanpa adanya peningkatan keahlian para petani dalam mengelola kebun secara profesional.

Dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat, inovasi bibit klon Trinitario, dan semangat masyarakat adat Papua, masa depan industri cokelat Indonesia kini tampak lebih cerah. Manokwari Selatan kini bukan lagi sekadar titik di peta, melainkan titik awal kebangkitan emas hitam Indonesia yang akan mengharumkan nama bangsa di kancah dunia. Komitmen yang ditunjukkan melalui kunjungan Wapres ini adalah bukti nyata bahwa pembangunan Indonesia kini benar-benar bersifat Indonesia-sentris, di mana setiap jengkal tanah, dari Aceh hingga Papua, memiliki peran penting dalam memajukan ekonomi nasional.

Budi Santoso

Budi Santoso

Wartawan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang berita politik dan peristiwa untuk Kilat News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *