Visi GKR Hemas untuk Generasi Z: Mengapa Akar Budaya Adalah Kunci di Era AI dan Disrupsi Global?

Budi Santoso | UpdateKilat
20 Jun 2026, 12:55 WIB
Visi GKR Hemas untuk Generasi Z: Mengapa Akar Budaya Adalah Kunci di Era AI dan Disrupsi Global?

UpdateKilat — Di tengah gemuruh kemajuan teknologi yang kian tak terbendung, sebuah pesan sarat makna menggema dari lingkungan Vokasi Universitas Indonesia (UI), Depok. Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, Wakil Ketua DPD RI Bidang Otonomi Daerah, Politik, dan Hukum, hadir membawa wejangan penting bagi para calon pemimpin bangsa. Dalam balutan wibawa dan kearifan, ia mengingatkan bahwa kemajuan zaman seharusnya tidak membuat generasi muda kehilangan pijakan atas identitas budaya yang telah membentuk jati diri bangsa Indonesia selama berabad-abad.

Menjaga Jati Diri di Panggung National Leadership Camp 2026

Kehadiran GKR Hemas dalam pembukaan National Leadership Camp 2026 bukan sekadar seremonial belaka. Acara yang mempertemukan talenta-talenta muda dari berbagai penjuru tanah air ini menjadi momentum bagi Sang Ratu untuk menanamkan benih-benih nasionalisme yang relevan dengan konteks kekinian. Menurutnya, kekuatan fisik dan kecemerlangan otak adalah modal dasar, namun tanpa fundamen budaya bangsa yang kuat, arah masa depan bisa menjadi bias.

Read Also

Transformasi Sampah Menuju Energi: Proyek Strategis PSEL Pekanbaru Raya Resmi Dimulai

Transformasi Sampah Menuju Energi: Proyek Strategis PSEL Pekanbaru Raya Resmi Dimulai

“Jangan sampai kita meninggalkan budaya bangsa sendiri. Ini adalah hal yang paling krusial. Mengapa? Karena dalam interaksi global, identitas inilah yang membuat kita relevan dan dihargai oleh bangsa lain. Tanpa itu, kita hanya akan menjadi pengikut tanpa karakter,” ujar GKR Hemas dengan nada tegas namun penuh kasih, Sabtu (20/6/2026).

Tantangan Global: Lebih dari Sekadar Persaingan Teknologi

GKR Hemas secara jeli membedah perbedaan tantangan yang dihadapi generasi masa lalu dengan generasi saat ini. Ia mengakui bahwa tantangan dunia saat ini jauh lebih kompleks, luas, dan bergerak dalam hitungan detik. Kecepatan informasi yang difasilitasi oleh internet membuat batas-batas negara seolah memudar, membawa serta pengaruh global yang sulit difilter jika seseorang tidak memiliki prinsip yang kokoh.

Read Also

Malam di Senayan: Massa Mahasiswa Bertahan di Depan Gedung DPR Menanti Hasil Audiensi Penting

Malam di Senayan: Massa Mahasiswa Bertahan di Depan Gedung DPR Menanti Hasil Audiensi Penting

Kemajuan mesin dan otomasi memang telah mengurangi peran tenaga manusia di berbagai sektor industri. Namun, ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh mesin: nilai-nilai kemanusiaan dan etika yang bersumber dari tradisi. Beliau menekankan bahwa antisipasi anak muda harus lebih ditekankan pada penguatan karakter agar tidak terombang-ambing oleh arus globalisasi yang sering kali mengikis nilai-nilai lokal.

Bagi Anda yang ingin mendalami isu ini lebih lanjut, Anda bisa mencari referensi mengenai tantangan global 2026 untuk melihat bagaimana peta persaingan dunia berubah secara drastis.

Ancaman Tersembunyi di Balik Kecerdasan Buatan (AI)

Salah satu poin menarik yang disoroti GKR Hemas adalah perkembangan pesat Artificial Intelligence (AI). Beliau tidak menampik bahwa AI adalah anak kandung dari kemajuan zaman yang harus diadopsi. Namun, di balik kemudahannya, terdapat risiko rekayasa yang bisa memanipulasi pola pikir anak muda jika mereka tidak memiliki benteng mental yang kuat.

Read Also

Aksi Nyata Hijaukan Jakarta: Penanaman 3.000 Bibit Mangrove di Pesisir Marunda Sebagai Benteng Alami

Aksi Nyata Hijaukan Jakarta: Penanaman 3.000 Bibit Mangrove di Pesisir Marunda Sebagai Benteng Alami

“AI yang kita lihat hari ini baru permulaan. Dalam dua atau tiga tahun ke depan, akan muncul inovasi-inovasi baru yang mungkin belum bisa kita bayangkan sekarang. Jika kita sendiri tidak kuat secara mental dan prinsip, rekayasa-rekayasa teknologi tersebut yang justru akan mengendalikan anak-anak muda kita,” tutur beliau penuh peringatan.

Kewaspadaan terhadap teknologi AI bukan berarti menutup diri dari kemajuan, melainkan kemampuan untuk memilah mana yang bermanfaat bagi kemanusiaan dan mana yang berpotensi merusak moralitas bangsa.

Krisis Etika di Media Sosial: Fenomena “Hello Everybody”

Ada keprihatinan mendalam yang terpancar dari wajah GKR Hemas saat membahas perilaku anak muda di media sosial. Beliau mencermati adanya pergeseran cara bertutur kata yang mulai meninggalkan tata krama ketimuran. Salah satu contoh sederhana namun menohok adalah penggunaan sapaan universal dalam bahasa Inggris yang cenderung mengabaikan hierarki rasa hormat.

“Dulu, kita memiliki tradisi menyapa dengan panggilan yang jelas: Bapak, Ibu, Eyang, Nenek, atau Kakek. Sekarang, di media sosial, semuanya dilebur menjadi ‘Hello Everybody’. Kedengarannya sepele, tapi ini adalah tanda memudarnya rasa hormat terhadap orang yang lebih tua,” jelasnya. Budaya sopan santun bukan sekadar formalitas, melainkan perekat sosial yang menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.

Membangun Kepemimpinan Berbasis Integritas dan Moral

Sebagai sosok yang lama berkecimpung di dunia politik dan pemerintahan, GKR Hemas memahami betul bahwa pemimpin masa depan tidak cukup hanya pintar secara akademis. Integritas, kejujuran, dan moralitas yang baik adalah tiga pilar utama yang harus dimiliki setiap pemuda yang bercita-cita membangun bangsa.

Beliau mendorong para peserta National Leadership Camp untuk berani bermimpi setinggi langit, namun tetap menapakkan kaki di bumi kenyataan dengan nilai-nilai luhur. Seorang pemimpin yang berakar pada budayanya akan memiliki kepekaan sosial yang lebih tinggi dan tidak mudah tergoda oleh kepentingan sesaat yang merugikan rakyat banyak.

Informasi mengenai profil pemimpin berintegritas sering kali menjadi bahan diskusi hangat di berbagai forum, dan GKR Hemas ingin memastikan standar moral ini tetap menjadi tolok ukur utama bagi generasi penerus.

Menuju Indonesia Emas dengan Kekuatan Tradisi

Menutup sesi arahannya, GKR Hemas menyampaikan harapan besar agar kegiatan seperti National Leadership Camp ini terus menjadi wadah untuk mengasah kearifan lokal di tengah modernitas. Beliau percaya bahwa Indonesia memiliki keunggulan kompetitif di kancah dunia bukan karena seberapa canggih teknologinya, melainkan seberapa kokoh ia memegang nilai-nilai kemanusiaan dan keberagamannya.

Pesan GKR Hemas ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di era yang serba digital ini, kembali ke akar adalah sebuah kemajuan. Menjadi modern tidak harus berarti menjadi kebarat-baratan, dan menjadi berbudaya tidak berarti menjadi kuno. Harmonisasi antara teknologi dan tradisi adalah jalan satu-satunya bagi Indonesia untuk tetap tegak berdiri sebagai bangsa yang berdaulat dan bermartabat.

Mari kita terus pantau perkembangan pendidikan karakter di tanah air untuk memastikan bahwa generasi 2026 dan seterusnya tetap menjadi tuan rumah di negerinya sendiri, yang bangga akan budayanya dan siap menaklukkan dunia dengan identitasnya yang unik.

Budi Santoso

Budi Santoso

Wartawan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang berita politik dan peristiwa untuk Kilat News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *