Potret Buram Fasilitas Publik: Drama Lift Rusak di JPO Lenteng Agung yang Menyiksa Lansia

Budi Santoso | UpdateKilat
10 Jun 2026, 10:55 WIB
Potret Buram Fasilitas Publik: Drama Lift Rusak di JPO Lenteng Agung yang Menyiksa Lansia

UpdateKilat — Denyut nadi Jakarta sebagai megapolitan modern sering kali diukur dari seberapa inklusif fasilitas publiknya bagi seluruh lapisan masyarakat. Namun, pemandangan kontras terlihat di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang berdiri megah dengan desain estetik tersebut kini menyisakan keluh kesah bagi warga yang menggantungkan mobilitas mereka pada fasilitas tersebut, menyusul tidak berfungsinya fasilitas lift yang ada.

Keringat dan Napas Terengah di Balik Kemegahan JPO

Bagi sebagian orang, menaiki anak tangga mungkin dianggap sebagai olahraga ringan. Namun bagi lansia dan warga dengan keterbatasan fisik, setiap anak tangga adalah perjuangan hidup dan mati. Inilah yang dirasakan oleh Saefullah, seorang pria berusia 66 tahun yang harus menelan pil pahit saat mengunjungi kerabatnya di kawasan tersebut pada Rabu, 10 Juni 2026.

Read Also

Skandal Korupsi di Tulungagung: Bupati Gatut Sunu Wibowo Resmi Jadi Tersangka KPK Atas Dugaan Pemerasan

Skandal Korupsi di Tulungagung: Bupati Gatut Sunu Wibowo Resmi Jadi Tersangka KPK Atas Dugaan Pemerasan

Saefullah, yang datang dengan harapan bisa menyeberang dengan nyaman, justru disambut oleh pengumuman dingin yang menyatakan bahwa lift sedang dalam masa perbaikan. Raut kelelahan tak dapat disembunyikan dari wajahnya yang mulai renta. Keringat terlihat membasahi keningnya setelah ia terpaksa menaklukkan puluhan anak tangga demi mencapai sisi seberang jalan.

“Saya baru baca informasinya di lokasi, katanya sedang diperbaiki. Tapi jujur, ini sangat menyiksa. Bayangkan saja, untuk menyeberang saya harus naik sekitar 60 anak tangga di satu sisi, dan turun 60 anak tangga lagi di sisi lainnya. Total ada 120 anak tangga yang harus saya lalui hanya untuk menyeberang jalan,” keluh Saefullah dengan napas yang masih tersengal.

Read Also

Penggerebekan Markas Judi Online Hayam Wuruk: Brimob Turun Tangan Bongkar Jaringan Internasional

Penggerebekan Markas Judi Online Hayam Wuruk: Brimob Turun Tangan Bongkar Jaringan Internasional

Kisah Saefullah adalah representasi dari ribuan lansia di Jakarta yang sangat membutuhkan keberpihakan infrastruktur. Tanpa lift yang berfungsi, JPO yang seharusnya menjadi solusi keselamatan justru berubah menjadi rintangan fisik yang berat. Bagi warga senior, fasilitas seperti ini bukan sekadar kemewahan, melainkan kebutuhan mendasar untuk menjaga kemandirian mobilitas mereka di tengah hiruk-pikuk ibu kota.

Kelumpuhan Mobilitas Bagi Warga Rentan

Tak hanya Saefullah, derita serupa juga dialami oleh Lia Yulianti (40). Sebagai warga yang aktif beraktivitas di sekitar Jakarta Selatan, Lia sangat mengandalkan keberadaan lift tersebut. Namun, kondisi medis berupa pengapuran tulang kaki yang dideritanya membuat ia tidak memiliki pilihan lain selain menghindari penggunaan tangga manual yang curam.

Read Also

Kisah Heroik Personel PJR Polda Banten Selamatkan Balita Kejang Meski Hanya Berbekal SKTM

Kisah Heroik Personel PJR Polda Banten Selamatkan Balita Kejang Meski Hanya Berbekal SKTM

“Saya sebenarnya sangat sering menggunakan lift ini untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Tapi semenjak mati, saya jadi tidak berani lewat sini lagi. Kaki saya sakit sekali kalau dipaksa naik tangga setinggi itu. Akhirnya, saya harus mencari jalan memutar yang jauh atau bahkan membatalkan niat jika tidak ada alternatif lain,” ujar Lia dengan nada kecewa.

Masalah fasilitas publik yang rusak ini menciptakan efek domino. Tidak hanya menghambat pergerakan warga, tetapi juga menimbulkan rasa waswas bagi penyandang disabilitas dan ibu hamil yang seharusnya mendapatkan prioritas utama dalam penggunaan fasilitas transportasi perkotaan. Ketinggian JPO Lenteng Agung yang cukup signifikan memang menjadi tantangan tersendiri jika harus ditempuh secara manual.

Respons Dinas Bina Marga DKI Jakarta

Menanggapi gelombang protes dari warga, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Bina Marga akhirnya angkat bicara. Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Siti Dinarwenny, mengakui adanya kendala teknis yang menyebabkan lift tersebut berhenti beroperasi sejak Selasa, 2 Juni.

Pihaknya mengklaim bahwa saat ini tim teknis tengah bekerja di lapangan untuk mempercepat proses perbaikan. Kerusakan komponen mekanis disinyalir menjadi penyebab utama lift tersebut tidak dapat digunakan secara normal. Dinas Bina Marga menargetkan fasilitas ini dapat kembali dinikmati warga dalam waktu dekat, meskipun belum memberikan tanggal pasti selesainya proses perbaikan tersebut.

“Kami menyadari pentingnya lift ini bagi warga, terutama kelompok rentan. Saat ini perbaikan sedang kami upayakan semaksimal mungkin agar aktivitas warga tidak lagi terganggu,” jelas Siti dalam pernyataan resminya. Ia juga menambahkan bahwa perawatan rutin sebenarnya terus dilakukan, namun beban penggunaan yang tinggi terkadang memicu kerusakan yang tidak terduga.

Menyoal Ketahanan Infrastruktur dan Budaya Menjaga

Selain masalah teknis, rusaknya fasilitas lift di JPO juga memicu diskusi lebih luas mengenai ketahanan infrastruktur di Jakarta Selatan. Sering kali, pembangunan yang masif tidak dibarengi dengan manajemen pemeliharaan (maintenance) yang mumpuni. Akibatnya, banyak fasilitas publik yang hanya tampak indah saat peresmian, namun terbengkalai beberapa bulan setelahnya.

Dinas Bina Marga juga memberikan imbauan keras kepada masyarakat luas agar turut serta menjaga fasilitas yang telah disediakan oleh negara. Kasus perusakan atau vandalisme sering kali menjadi faktor eksternal yang mempercepat kerusakan mesin lift. “Fasilitas ini milik kita bersama. Kami mengimbau warga untuk ikut menjaga, jangan sampai ada tindakan vandalisme atau penggunaan yang melebihi kapasitas yang bisa merusak sistem kerja lift,” imbuh Siti.

Pengawasan dari masyarakat juga diharapkan bisa menjadi sistem kontrol sosial. Jika warga melihat adanya penggunaan lift yang tidak semestinya, seperti digunakan untuk mengangkut barang yang terlalu berat atau tindakan usil di dalam lift, diharapkan segera melaporkannya melalui kanal pengaduan resmi Pemprov DKI Jakarta seperti aplikasi JAKI.

Harapan untuk Jakarta yang Lebih Ramah Disabilitas

Kejadian di Lenteng Agung ini harus menjadi pengingat bagi otoritas terkait bahwa pembangunan kota bukan sekadar tentang estetika yang fotogenik di media sosial. Lebih dari itu, fungsi fungsionalitas dan inklusivitas harus menjadi prioritas utama. Jakarta tidak bisa disebut sebagai kota global jika warganya yang paling rentan masih harus berjuang keras hanya untuk sekadar menyeberangi jalan.

Para sosiolog perkotaan sering menekankan bahwa kualitas sebuah kota dapat dilihat dari bagaimana kota tersebut memperlakukan warganya yang paling lemah. Jika lift di tempat umum sering mengalami kerusakan berlarut-larut, maka ada sistem manajemen aset yang perlu dievaluasi secara menyeluruh. Audit rutin terhadap seluruh lift JPO di Jakarta sangat mendesak untuk dilakukan guna mencegah kejadian serupa terulang di titik-titik lain.

Hingga berita ini diturunkan, warga masih berharap ada solusi jangka pendek yang bisa diberikan, misalnya dengan menempatkan petugas di lokasi untuk membantu lansia atau menyediakan informasi jalur alternatif yang lebih ramah bagi mereka yang memiliki keterbatasan mobilitas. Keselamatan dan kenyamanan warga adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dengan alasan proses birokrasi perbaikan yang lamban.

Kesimpulan: Urgensi Perbaikan Cepat

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memikul tanggung jawab besar untuk segera memulihkan fungsi lift di JPO Lenteng Agung. Setiap hari yang terlewat tanpa perbaikan berarti satu hari lagi bagi Saefullah, Lia, dan warga lainnya harus bertaruh dengan kondisi kesehatan mereka hanya untuk bermobilitas. Infrastruktur Jakarta harus berdiri sebagai penopang, bukan penghalang, bagi kehidupan warga yang lebih baik.

Mari kita berharap agar janji Dinas Bina Marga untuk menyelesaikan perbaikan dalam waktu dekat bukan sekadar angin surga. Sebab, bagi seorang lansia yang harus menaiki 120 anak tangga, setiap detik keterlambatan perbaikan adalah sebuah beban fisik yang nyata dan menyakitkan.

Budi Santoso

Budi Santoso

Wartawan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang berita politik dan peristiwa untuk Kilat News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *