Jakarta Berkilau! Rano Karno Ungkap Strategi Perayaan Lintas Agama yang Sedot Perputaran Ekonomi Hingga Rp 67 Triliun

Budi Santoso | UpdateKilat
30 Mei 2026, 02:55 WIB
Jakarta Berkilau! Rano Karno Ungkap Strategi Perayaan Lintas Agama yang Sedot Perputaran Ekonomi Hingga Rp 67 Triliun

UpdateKilat — Di tengah hiruk-pikuk gemerlap lampu yang menghiasi jantung ibu kota, sebuah angka fantastis mencuat ke permukaan, mengguncang persepsi publik mengenai korelasi antara perayaan hari besar dengan stabilitas finansial daerah. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, secara terbuka membedah bagaimana rangkaian kegiatan keagamaan dan budaya yang dirancang dengan apik mampu menjadi mesin penggerak utama ekonomi Jakarta yang sangat masif.

Dalam sebuah momen penuh kehangatan di kawasan ikonik Bundaran HI, Rano Karno memberikan gambaran nyata bahwa Jakarta bukan sekadar pusat administrasi, melainkan panggung raksasa bagi asimilasi budaya yang menghasilkan nilai material luar biasa. Tak main-main, angka perputaran uang yang tercatat mencapai Rp 67 triliun, sebuah pencapaian yang membuktikan bahwa toleransi dan ekonomi dapat berjalan beriringan secara harmonis.

Read Also

Tragedi di Balik Gelas Miras: Remaja Tangerang Jadi Korban Rudapaksa Teman Sendiri, Pelaku Masih Buron

Tragedi di Balik Gelas Miras: Remaja Tangerang Jadi Korban Rudapaksa Teman Sendiri, Pelaku Masih Buron

Glow of Peace: Simbol Kebangkitan Ekonomi dan Spiritualitas

Kehadiran Rano Karno dalam acara bertajuk “Illumination of Jakarta: Glow of Peace” pada Jumat malam (29/5/2026) bukan sekadar seremonial belaka. Acara yang digelar untuk menyambut Hari Raya Waisak tersebut menjadi puncak dari rangkaian panjang narasi persatuan di Jakarta. Di bawah sorotan lampu warna-warni yang memantul di air mancur Bundaran HI, Wagub yang akrab disapa Si Doel ini memaparkan dampak sistemik dari kegiatan keagamaan terhadap kantong-kantong ekonomi rakyat.

“Jika kita hitung secara cermat, mulai dari periode Desember saat perayaan Natal hingga momen Lebaran di bulan Maret, perputaran ekonomi di Jakarta menyentuh angka Rp 67 triliun. Ini bukan angka yang kecil. Ini mengindikasikan bahwa sebuah kegiatan, jika dikemas dengan narasi yang kuat dan manajemen yang baik, akan menghasilkan dampak yang nyata bagi masyarakat,” tutur Rano dengan nada optimis.

Read Also

Strategi Baru Subsidi Energi: DPR Desak Reformasi Distribusi BBM dan LPG Agar Lebih Tepat Sasaran

Strategi Baru Subsidi Energi: DPR Desak Reformasi Distribusi BBM dan LPG Agar Lebih Tepat Sasaran

Strategi Pengemasan Budaya Sejak Akhir Tahun

Keberhasilan ini tidak datang secara tiba-tiba. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta rupanya telah merancang cetak biru perayaan lintas agama ini sejak akhir tahun 2025. Pendekatan yang digunakan bukan lagi sekadar ritualitas semata, melainkan pendekatan budaya yang inklusif. Strategi ini dirancang untuk memastikan setiap elemen masyarakat merasa terlibat, sekaligus merangsang konsumsi rumah tangga dan sektor pariwisata urban.

Rano menjelaskan bahwa rangkaian ini dimulai dengan Christmas Carol yang menghiasi ruang-ruang publik Jakarta pada Desember lalu. Suasana syahdu tersebut kemudian berlanjut hingga perayaan Idul Fitri yang penuh kemenangan. “Kita mengawali perjalanan ini dengan kemeriahan Natal, melewati refleksi Ramadhan, dan ditutup dengan Idul Fitri. Nah, perayaan Waisak ini seperti ‘hadiah’ penutup yang manis dalam rangkaian tersebut,” ujarnya menggambarkan aliran acara yang sistematis.

Read Also

Misi Kemanusiaan di Bumi Seribu Pulau: Menembus Samudra Demi Secercah Kebahagiaan Kurban di Pelosok Maluku

Misi Kemanusiaan di Bumi Seribu Pulau: Menembus Samudra Demi Secercah Kebahagiaan Kurban di Pelosok Maluku

Multiplayer Effect: Dari Hotel hingga Pedagang Kaki Lima

Angka Rp 67 triliun tersebut bukanlah angka abstrak. Perputaran uang ini tersebar di berbagai sektor, mulai dari okupansi hotel yang meningkat, lonjakan transaksi di pusat perbelanjaan, hingga menggeliatnya sektor UMKM Jakarta. Festival-festival yang digelar di ruang publik memicu pergerakan orang yang masif, yang secara otomatis mendorong pengeluaran masyarakat dalam sektor transportasi, kuliner, dan jasa lainnya.

Dengan adanya acara seperti “Glow of Peace”, area-area komersial di sekitar pusat kota mendapatkan limpahan berkah. Penjualan atribut keagamaan, pernak-pernik budaya, hingga jasa fotografi dadakan meningkat pesat. Inilah yang disebut Rano sebagai ekonomi yang dikemas; mengubah nilai-nilai spiritual menjadi penggerak kesejahteraan tanpa menghilangkan kesucian dari perayaan itu sendiri.

Menjadikan Perayaan Lintas Agama sebagai Format Baku

Melihat kesuksesan yang melampaui ekspektasi ini, Rano Karno menegaskan bahwa format kegiatan seperti ini tidak boleh berhenti di sini. Ia telah memberikan instruksi khusus kepada jajaran panitia dan dinas terkait agar pola penyelenggaraan dari bulan Desember hingga Maret dijadikan sebagai standar baku manajemen kota di masa depan.

“Saya sampaikan kepada seluruh panitia, bulan-bulan keagamaan ini harus dikelola secara profesional. Ini akan menjadi format tetap kita. Mengapa? Karena di sinilah inti dari kebersamaan warga Jakarta. Selain mempererat kerukunan umat beragama, kita juga membuktikan secara empiris bahwa keberagaman adalah aset ekonomi yang paling berharga bagi kota ini,” tegas Rano.

Simbol Kebersamaan di Tengah Keberagaman

Lebih jauh lagi, Rano memandang bahwa momentum perayaan lintas agama yang meriah adalah wajah asli Jakarta yang ingin ditunjukkan kepada dunia. Di tengah tantangan polarisasi, Jakarta mencoba hadir sebagai oase toleransi di mana setiap agama diberikan ruang yang sama untuk bersinar di ruang publik paling prestisius.

Baginya, perputaran ekonomi triliunan rupiah tersebut hanyalah salah satu indikator keberhasilan. Indikator yang lebih mendalam adalah bagaimana warga dari berbagai latar belakang bisa berdiri berdampingan di Bundaran HI untuk menikmati keindahan cahaya Waisak tanpa rasa canggung. “Itu adalah bukti nyata. Perputaran ekonomi adalah bonus dari kerukunan yang kita rawat bersama,” tambahnya.

Harapan untuk Masa Depan Jakarta

Menutup pembicaraannya, Wagub Rano Karno mengajak seluruh warga untuk terus menjaga api toleransi ini. Ia berharap bahwa ke depannya, Jakarta tidak hanya dikenal sebagai kota bisnis yang kaku, tetapi juga sebagai destinasi wisata religi dan budaya yang hangat dan menguntungkan bagi semua pihak.

Dengan pengelolaan yang makin matang, bukan tidak mungkin angka Rp 67 triliun tersebut akan terus tumbuh di tahun-tahun mendatang. Transformasi Jakarta menjadi kota global yang inklusif tampaknya sedang berada di jalur yang tepat, di mana setiap doa yang dipanjatkan juga membawa tetesan rezeki bagi para penggerak roda ekonomi di akar rumput. Sebuah kolaborasi cantik antara spiritualitas dan profesionalitas manajemen kota yang layak diapresiasi.

Budi Santoso

Budi Santoso

Wartawan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang berita politik dan peristiwa untuk Kilat News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *