12 Kebiasaan Sunnah Rasulullah di Hari Raya Kurban yang Jarang Diketahui: Panduan Meraih Keberkahan Idul Adha
UpdateKilat — Hari Raya Idul Adha, atau yang akrab kita kenal sebagai Lebaran Haji, sering kali identik dengan semarak penyembelihan hewan kurban dan aroma sate yang menggoda selera di setiap sudut pemukiman. Namun, di balik keriuhan perayaan fisik tersebut, tersimpan deretan tradisi dan kebiasaan Rasulullah ﷺ yang mengandung nilai spiritualitas mendalam. Sayangnya, banyak dari sunnah-sunnah ini yang mulai luntur atau jarang dibahas dalam percakapan sehari-hari umat Muslim.
Mengikuti jejak Nabi Muhammad ﷺ dalam merayakan Idul Adha bukan sekadar menjalankan ritual, melainkan sebuah upaya transformasi batin untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Berdasarkan penelusuran tim kami dari berbagai sumber literatur fikih dan hadits shahih, terdapat setidaknya 12 kebiasaan sunnah yang patut kita hidupkan kembali agar momen ibadah kurban kita tidak hanya menjadi tradisi tahunan tanpa makna.
Kisah Haru AKP Dr Iswan Brandes: Menemukan Hakikat Sabar di Riuh Rendah Terminal Syib Amir Makkah
1. Menghidupkan Malam Hari Raya dengan Ibadah Langit
Salah satu sunnah yang mulai terlupakan adalah anjuran untuk menghidupkan malam 10 Dzulhijjah. Al-Qadhi Husayn meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa menghidupkan malam hari raya tidak selalu berarti terjaga semalaman suntuk. Hal ini bisa dilakukan secara sederhana dengan melaksanakan shalat Isya secara berjamaah dan berkomitmen untuk kembali shalat Subuh berjamaah di masjid.
Para ulama dari mazhab Syafi’i sangat menekankan pentingnya memperbanyak doa dan dzikir pada malam ini. Di tengah gemuruh takbir di jalanan, luangkanlah waktu sejenak untuk bersimpuh di atas sajadah, memohon ampunan, dan mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan hidup yang masih Allah berikan.
Inovasi Kartu Kendali: Strategi Ampuh Lindungi Jemaah Haji dari Jeratan Jasa Kursi Roda Ilegal di Masjidil Haram
2. Mandi Sebelum Berangkat: Simbol Kesucian Lahir dan Batin
Kebiasaan ini mungkin terlihat sepele, namun memiliki nilai estetika dan spiritual yang tinggi. Disunnahkan bagi setiap Muslim—baik laki-laki, perempuan, dewasa, anak-anak, bahkan bagi mereka yang sedang berhalangan shalat—untuk mandi sebelum menuju tempat pelaksanaan shalat Id. Hal ini bertujuan untuk memuliakan hari besar Islam, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah ﷺ.
Dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa waktu pelaksanaan mandi ini bisa dimulai sejak pertengahan malam, namun yang paling utama adalah setelah masuk waktu Subuh. Tujuannya jelas: menyambut hari kemenangan dengan kondisi fisik yang segar dan harum.
3. Strategi Makan: Menahan Diri hingga Shalat Usai
Berbeda dengan Idul Fitri di mana kita disunnahkan sarapan sebelum berangkat, pada Idul Adha Rasulullah ﷺ justru mencontohkan untuk tidak makan terlebih dahulu. Beliau baru akan menyantap makanan setelah kembali dari tempat shalat. Mengapa demikian?
Menggapai Pahala Setahun Penuh: Panduan Lengkap Niat dan Keutamaan Puasa Syawal 6 Hari
Ustadz Adi Hidayat dalam sebuah ceramahnya menjelaskan bahwa filosofi di balik sunnah ini adalah agar makanan pertama yang masuk ke perut kita pada hari raya tersebut berasal dari hasil sembelihan hewan kurban. Ini adalah bentuk apresiasi dan rasa syukur langsung atas nikmat kurban yang diberikan oleh Allah SWT.
4. Filosofi Berjalan Kaki dan Berpindah Rute
Rasulullah ﷺ memiliki kebiasaan unik saat menuju tempat shalat Id. Beliau lebih memilih berjalan kaki daripada berkendara jika jaraknya memungkinkan. Tak hanya itu, Nabi ﷺ juga akan mengambil jalan yang berbeda saat berangkat dan saat pulang. Strategi ini bukan tanpa alasan.
Para ulama menjelaskan bahwa dengan melewati jalan yang berbeda, kita berkesempatan untuk menyapa lebih banyak orang dan menyebarkan salam kepada sesama Muslim. Selain itu, setiap jengkal tanah yang kita lalui akan menjadi saksi di akhirat kelak atas langkah kaki kita dalam menunaikan ibadah kepada-Nya.
5. Mengenakan Pakaian Terbaik dan Wewangian
Idul Adha adalah hari raya yang agung. Rasulullah ﷺ senantiasa tampil dengan penampilan terbaiknya. Menggunakan pakaian yang paling bagus—tidak harus baru, yang penting bersih dan rapi—serta menyemprotkan wewangian (bagi laki-laki) adalah bagian dari memuliakan syiar Islam. Hal ini mencerminkan kegembiraan dan rasa syukur seorang hamba atas nikmat yang melimpah.
6. Gemuruh Takbir Mutlak dan Muqayyad
Takbir adalah napas dari Idul Adha. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak ada hari yang lebih agung di sisi Allah selain sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Oleh karena itu, kita dianjurkan memperbanyak takbir, tahlil, dan tahmid. Namun, perlu diketahui bahwa takbir pada Idul Adha terbagi dua:
- Takbir Mutlak (Mursal): Dikumandangkan kapan saja dan di mana saja, dimulai sejak awal bulan Dzulhijjah hingga selesainya hari Tasyrik.
- Takbir Muqayyad: Dikumandangkan khusus setiap selesai melaksanakan shalat fardhu selama hari raya dan hari Tasyrik.
Sunnah ini mengajak kita untuk terus mengingat Allah dalam setiap gerak dan tarikan napas selama hari-hari istimewa tersebut.
7. Larangan Memotong Rambut dan Kuku bagi yang Berkurban
Inilah salah satu sunnah yang paling jarang dibahas namun memiliki dasar hadits yang kuat dari Ummu Salamah RA. Bagi siapa saja yang berniat melakukan ibadah kurban, disunnahkan untuk tidak memotong rambut dan kuku sejak masuknya tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan kurbannya disembelih.
Meskipun mayoritas ulama menganggap hal ini bersifat makruh (tidak haram), namun menjalankannya tentu akan menambah kesempurnaan ibadah. Hikmahnya adalah agar seluruh anggota tubuh kita ikut merasakan proses kurban dan kelak dibebaskan dari api neraka.
8. Menghormati Hari Tasyrik dengan Tidak Berpuasa
Hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) adalah hari-hari makan, minum, dan mengingat Allah. Rasulullah ﷺ secara tegas melarang umatnya berpuasa pada hari-hari ini. Sering kali, karena semangat beribadah yang tinggi, ada orang yang tetap ingin berpuasa sunnah. Padahal, pada hari-hari ini, ibadah terbaik adalah menikmati rezeki Allah dengan penuh syukur dan memperbanyak dzikir.
9. Tidak Ada Shalat Sunnah Sebelum dan Sesudah Shalat Id
Banyak masyarakat yang terbiasa melakukan shalat sunnah begitu sampai di lapangan atau masjid sebelum shalat Id dimulai. Namun, merujuk pada kebiasaan Nabi ﷺ dan para sahabat, tidak ditemukan adanya tuntunan shalat sunnah qobliyah maupun ba’diyah khusus untuk shalat Id. Sunnah yang tepat adalah duduk tenang sambil terus mengumandangkan takbir hingga imam memulai shalat.
10. Mendengarkan Khutbah sebagai Satu Kesatuan Ibadah
Berbeda dengan shalat Jumat di mana khutbah dilakukan sebelum shalat, pada Idul Adha khutbah disampaikan setelah shalat usai. Rasulullah ﷺ tetap berada di tempatnya untuk memberikan wasiat dan nasihat kepada umat. Mendengarkan khutbah dengan seksama adalah bagian dari kesempurnaan sholat Idul Adha yang sering kali diabaikan karena banyak jamaah yang langsung pulang setelah salam.
11. Mengucapkan Selamat dan Saling Mendoakan (Tahniah)
Tradisi saling mendoakan sesama Muslim setelah shalat Id adalah hal yang sangat dianjurkan. Ucapan yang lazim digunakan para sahabat adalah “Taqabbalallahu minna wa minkum” (Semoga Allah menerima amal kami dan amal kalian). Ini adalah cara mempererat ukhuwah Islamiyah dan berbagi kebahagiaan di hari yang suci.
12. Menyembelih dan Membagikan Daging Kurban dengan Tangan Sendiri
Jika mampu, Rasulullah ﷺ menyukai menyembelih hewan kurbannya sendiri. Jika tidak bisa, setidaknya kita menyaksikan proses penyembelihannya. Setelah itu, beliau akan membagi daging tersebut menjadi tiga bagian: untuk dikonsumsi keluarga, dihadiahkan kepada kerabat, dan disedekahkan kepada kaum fakir miskin. Praktisnya, kebiasaan ini mengajarkan kita tentang keseimbangan antara kepentingan pribadi, sosial, dan ibadah murni.
Demikianlah 12 kebiasaan sunnah Rasulullah ﷺ di Hari Raya Kurban yang bisa kita teladani. Dengan menghidupkan kembali tradisi-tradisi kecil yang penuh makna ini, semoga Idul Adha kita tahun ini menjadi jauh lebih berkah dan bernilai di mata Allah SWT. Selamat merayakan hari kemenangan dan selamat berbagi kebahagiaan!