Transformasi Strategis PGEO: Perombakan Direksi dan Ambisi Ekspansi Menuju Raksasa Energi Hijau Global
UpdateKilat — Dalam sebuah langkah strategis yang menandai babak baru bagi raksasa panas bumi Indonesia, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) secara resmi mengumumkan perombakan signifikan dalam jajaran pengurus perseroan. Keputusan besar ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) untuk Tahun Buku 2025 yang digelar pada Selasa, 21 April 2026. Langkah ini bukan sekadar pergantian kursi kepemimpinan, melainkan sebuah sinyal kuat akan ambisi perseroan untuk mengakselerasi transisi energi nasional dengan manajemen yang lebih segar dan berpengalaman.
Nakhoda Baru di Kursi Keuangan: Profil Fransetya Hasudungan Hutabarat
Salah satu poin krusial dalam RUPST kali ini adalah penunjukan Fransetya Hasudungan Hutabarat sebagai Direktur Keuangan yang baru, menggantikan Yurizki Rio. Penunjukan Fransetya dianggap sebagai langkah taktis mengingat rekam jejaknya yang sangat mumpuni di industri keuangan korporat. Dengan pengalaman lebih dari seperempat abad, Fransetya telah melanglang buana di berbagai sektor strategis, mulai dari farmasi, properti, transportasi, hingga sektor energi yang menjadi fokus utama PGEO saat ini.
Winarto Resmi Mundur dari Kursi Direktur Utama Ancol (PJAA), Simak Rekam Jejak dan Kinerja Perseroan
Sebelum bergabung dengan keluarga besar PGEO, Fransetya memegang peranan vital sebagai Director of Finance Sub-Holding Refining & Petrochemical di PT Kilang Pertamina Internasional. Di sana, ia mencatatkan prestasi gemilang dengan berhasil membawa perusahaan meraih peringkat investment grade dari lembaga pemeringkat internasional bergengsi, S&P Global Ratings dan Fitch Ratings, secara berturut-turut pada tahun 2024 dan 2025. Kemampuannya dalam menjaga stabilitas dan kepercayaan investor diharapkan mampu memperkuat struktur pemodalan PGEO dalam mendanai berbagai proyek investasi strategis di masa depan.
Komposisi Anyar Dewan Direksi dan Komisaris PGEO
Penyegaran organisasi ini diharapkan membawa perspektif baru dalam menghadapi tantangan industri energi yang semakin dinamis. Berikut adalah susunan lengkap keanggotaan Dewan Komisaris dan Direksi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk hasil RUPST 2026:
Agenda Penting Berubah, Telkom Indonesia Resmi Batalkan RUPSLB April 2026
Susunan Dewan Komisaris:
- Komisaris Utama: Gigih Udi Atmo
- Komisaris Independen: Abdul Musawir Yahya
- Komisaris Independen: Mohammad Firmansyah
- Komisaris: John Anis
- Komisaris: Abdulla Zayed
Susunan Dewan Direksi:
- Direktur Utama: Ahmad Yani
- Direktur Keuangan: Fransetya Hasudungan Hutabarat
- Direktur Eksplorasi dan Pengembangan: Edwil Suzandi
- Direktur Operasi: Andi Joko Nugroho
Direktur Utama PGEO, Ahmad Yani, memberikan apresiasi tinggi atas dedikasi yang telah diberikan oleh Yurizki Rio selama menjabat. Menurutnya, kepemimpinan sebelumnya telah berhasil meletakkan landasan kuat bagi kinerja keuangan perseroan. Kehadiran Fransetya kini dipandang sebagai momentum emas untuk mendorong pertumbuhan bisnis yang lebih agresif namun tetap berkelanjutan.
Diversifikasi Bisnis: Menjelajahi Peluang ‘Beyond Electricity’
Ada hal menarik dalam RUPST kali ini yang melampaui sekadar urusan personil. Para pemegang saham menyetujui perubahan anggaran dasar perseroan yang memberikan lampu hijau bagi PGEO untuk merambah lini bisnis baru. Ke depan, PGEO tidak hanya akan dikenal sebagai produsen listrik panas bumi, tetapi juga akan mulai menyentuh sektor teknologi digital melalui aktivitas pengolahan data, penyediaan infrastruktur komputasi, hingga layanan hosting.
IHSG Hari Ini: Terjegal Keputusan MSCI, Indeks Terkoreksi Meski Sektor Industri Melaju Kencang
Langkah ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi pendapatan atau new revenue stream. Dengan memanfaatkan kestabilan pasokan energi bersih yang dimiliki, PGEO berencana mengembangkan green data center berbasis panas bumi. Selain itu, perseroan juga akan menggarap peluang di bidang penyewaan alat pertambangan dan penggalian, sebuah langkah yang menunjukkan fleksibilitas unit bisnis PGEO dalam mengoptimalkan aset yang ada.
Rapor Hijau 2025: Rekor Produksi Tertinggi Sepanjang Sejarah
Sepanjang tahun 2025, PGEO berhasil mencatatkan pencapaian operasional yang fenomenal. Perseroan membukukan produksi tertinggi sepanjang masa (all-time high) sebesar 5.095,48 gigawatt hour (GWh). Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 5,55 persen jika dibandingkan dengan capaian tahun 2024. Lonjakan produksi ini tidak lepas dari keberhasilan pengoperasian komersial PLTP Lumut Balai Unit 2 pada Juni 2025 yang menyumbang tambahan kapasitas sebesar 55 megawatt (MW), sehingga total kapasitas terpasang kini mencapai 727 MW.
Keberhasilan ini membuktikan bahwa strategi ekspansi bisnis yang dijalankan berada pada jalur yang tepat. Tidak hanya terpaku pada aset yang sudah ada, PGEO juga aktif memulai eksplorasi greenfield di PLTP Gunung Tiga, Lampung, yang diproyeksikan memiliki potensi hingga 55 MW. Kerja sama strategis dengan PLN IP juga terus digodok dengan potensi tambahan kapasitas yang sangat masif, yakni mencapai 530 MW.
Inovasi dan Keberlanjutan: Menuju Target 1 GW pada 2028
Ambisi PGEO tidak berhenti pada produksi listrik semata. Melalui strategi Beyond Electricity, perseroan telah melakukan groundbreaking Pilot Project Green Hydrogen di Ulubelu serta meluncurkan inovasi Flow2Max bekerja sama dengan Ecolab. Empat proyek strategis perseroan bahkan telah resmi masuk ke dalam Blue Book Bappenas periode 2025–2029, yang menandakan pentingnya peran PGEO dalam rencana pembangunan nasional.
Secara finansial, PGEO menunjukkan fundamental yang sangat sehat. Dengan pendapatan mencapai USD 432,73 juta dan laba bersih sebesar USD 137,67 juta pada tahun 2025, perseroan memiliki napas yang panjang untuk melakukan investasi saham dan pengembangan infrastruktur. EBITDA perseroan yang naik ke angka USD 330,35 juta dengan margin fantastis 76,34 persen memberikan fleksibilitas tinggi bagi manajemen dalam mengeksekusi proyek-proyek quick win.
Ahmad Yani menegaskan bahwa visi besar perseroan adalah menjadi produsen panas bumi terkemuka di dunia. Dengan target ambisius mencapai kapasitas 1 gigawatt (GW) pada tahun 2028 dan meningkat menjadi 1,8 GW pada tahun 2034, PGEO terus memperkuat manajemen risiko dan efisiensi operasional. Melalui kepemimpinan baru dan strategi diversifikasi yang cerdas, PGEO optimis dapat terus menjadi motor penggerak ketahanan energi nasional sekaligus pilar utama dalam mewujudkan langit biru Indonesia di masa depan.