IHSG Mengganas! Melambung Hampir 2 Persen di Tengah Redanya Tensi Global dan Banjir Dana Asing

Kevin Wijaya | UpdateKilat
25 Jun 2026, 18:56 WIB
IHSG Mengganas! Melambung Hampir 2 Persen di Tengah Redanya Tensi Global dan Banjir Dana Asing

UpdateKilat — Angin segar akhirnya berhembus kencang di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan Kamis (25/6/2026). Setelah sempat didera ketidakpastian dalam beberapa sesi terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini tampil perkasa dengan mencatatkan lonjakan signifikan. Pergerakan positif ini tidak terjadi sendirian, melainkan seirama dengan reli yang melanda mayoritas bursa saham di kawasan Asia, menyusul meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta koreksi harga komoditas energi dunia yang selama ini menjadi momok inflasi.

Berdasarkan data perdagangan, IHSG ditutup menguat tajam sebesar 115,16 poin atau setara dengan 1,96 persen, membawa indeks bertengger di level psikologis 5.999,04. Angka ini nyaris menyentuh level 6.000, sebuah capaian yang memberikan sinyal optimisme kuat bagi para pelaku pasar modal. Sejalan dengan indeks utama, indeks saham unggulan LQ45 juga tak mau ketinggalan dengan membukukan kenaikan sebesar 9,58 poin atau 1,66 persen menuju posisi 587,75.

Read Also

Grab Caplok Saham Mayoritas Superbank: Transformasi Lanskap Perbankan Digital Indonesia Menuju Inklusi Finansial Total

Grab Caplok Saham Mayoritas Superbank: Transformasi Lanskap Perbankan Digital Indonesia Menuju Inklusi Finansial Total

Katalis Global: Harapan Perdamaian dan Koreksi Harga Minyak

Lonjakan yang terjadi pada indeks saham hari ini tidak terlepas dari mendinginnya suhu politik di kancah internasional. Maximilianus Nicodemus, Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, mengungkapkan bahwa para investor mulai kembali berani mengambil risiko (risk-on) setelah munculnya tanda-tanda kemajuan dalam upaya diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kabar mengenai potensi perdamaian ini menjadi motor utama yang mendorong kepercayaan diri pasar di seluruh dunia.

“Bursa Asia didominasi oleh penguatan karena sentimen investor mendapat sokongan kuat dari progres nyata dalam upaya perdamaian antara AS dan Iran. Kondisi ini secara otomatis membantu menekan harga minyak mentah kembali ke level yang lebih stabil, serupa dengan posisi sebelum konflik tersebut memanas,” jelas Nico. Penurunan harga minyak dunia ini menjadi poin krusial karena secara langsung meredam ekspektasi inflasi global. Dengan inflasi yang lebih terkendali, tekanan bagi bank-bank sentral di berbagai negara untuk terus mengerek suku bunga acuan pun menjadi berkurang, yang pada akhirnya memberikan ruang napas bagi pasar ekuitas.

Read Also

Update Kalender Bursa 2026: Jadwal Libur Idul Adha dan Strategi Cuan di Tengah Gejolak IHSG

Update Kalender Bursa 2026: Jadwal Libur Idul Adha dan Strategi Cuan di Tengah Gejolak IHSG

Likuiditas China dan Stimulus Kawasan

Selain faktor geopolitik, kebijakan moneter dari Negeri Tirai Bambu juga turut memberikan dorongan bagi pasar regional. People’s Bank of China (PBoC) baru-baru ini mengumumkan rencana untuk melakukan overnight reverse repurchase operations pada akhir Juni ini. Langkah strategis ini bertujuan untuk menjaga stabilitas likuiditas jangka pendek dalam sistem perbankan mereka, yang secara psikologis memberikan rasa aman bagi para investor di kawasan Asia-Pasifik.

Intervensi bank sentral China ini dipandang sebagai bentuk komitmen untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap berada di jalur yang benar. Bagi pasar Indonesia, stabilitas ekonomi China sangatlah vital mengingat statusnya sebagai salah satu mitra dagang terbesar. Sentimen positif dari utara ini berhasil menular ke lantai bursa Jakarta, memperkuat aksi beli yang dilakukan oleh pemodal lokal maupun mancanegara.

Read Also

Optimisme Gencatan Senjata AS-Iran Pompa Bursa Saham Asia: Rekor Baru di Tengah Ketegangan Geopolitik

Optimisme Gencatan Senjata AS-Iran Pompa Bursa Saham Asia: Rekor Baru di Tengah Ketegangan Geopolitik

Banjir Dana Asing di Tengah Tantangan Daya Saing

Beralih ke faktor domestik, performa apik IHSG hari ini juga didukung oleh derasnya aliran modal masuk (capital inflow). Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) bertenor satu tahun dan obligasi pemerintah masih menjadi primadona bagi investor asing. Tercatat, sepanjang bulan Juni 2026 saja, total dana asing yang mengalir masuk ke kedua instrumen tersebut telah menyentuh angka fantastis, yakni sekitar Rp 105 triliun.

Masuknya dana segar dalam jumlah besar ini menunjukkan bahwa meskipun ada volatilitas global, kepercayaan terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia tetap terjaga. Hal ini cukup menarik, mengingat di saat yang sama, posisi Indonesia dalam World Competitiveness Ranking justru dilaporkan merosot sebanyak 21 peringkat. Namun, tampaknya para pelaku pasar lebih memilih untuk fokus pada nilai valuasi saham yang sudah sangat menarik setelah sempat terkoreksi dalam dua pekan terakhir.

“IHSG menguat seiring dengan kembalinya aksi beli selektif. Banyak investor mulai memburu saham-saham yang sudah terdiskon atau masuk kategori ‘murah’ setelah indeks menyentuh titik terendahnya beberapa waktu lalu. Inilah yang kita sebut sebagai bargain hunting di saat yang tepat,” tambah Nico. Sejak bel pembukaan berbunyi, IHSG memang sudah menunjukkan taringnya di zona hijau dan mampu mempertahankan momentum tersebut hingga penutupan sesi kedua.

Sektor Infrastruktur dan Kesehatan Jadi Jawara

Jika menilik lebih dalam, penguatan IHSG kali ini bersifat menyeluruh. Seluruh sektor yang tergabung dalam Indeks Sektoral IDX-IC mencatatkan rapor hijau. Namun, sektor infrastruktur tampil sebagai pemimpin klasemen dengan kenaikan mencolok sebesar 3,89 persen. Pertumbuhan ini disinyalir berkaitan dengan optimisme terhadap keberlanjutan proyek-proyek strategis nasional di tengah membaiknya kondisi ekonomi.

Di posisi berikutnya, sektor kesehatan mencatatkan kenaikan sebesar 3,21 persen, disusul oleh sektor barang konsumen primer (consumer non-cyclicals) yang menguat 2,89 persen. Beberapa emiten yang tercatat sebagai top gainers pada perdagangan hari ini antara lain RBMS, YUPI, KONI, FUTR, dan ZONE. Sebaliknya, meski mayoritas pasar menguat, beberapa saham tetap mengalami tekanan jual, seperti BSSR, HBAT, PTPW, TRUS, dan LUCY.

Statistik Perdagangan dan Outlook Pasar

Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia hari ini tergolong sangat dinamis dan ramai. Frekuensi transaksi tercatat mencapai 1,66 juta kali, dengan volume saham yang berpindah tangan sebanyak 20,91 miliar lembar. Nilai total transaksi harian pun menembus angka Rp 13,63 triliun, mencerminkan likuiditas pasar yang sangat sehat.

Secara keseluruhan, peta kekuatan pasar menunjukkan dominasi pembeli yang sangat kuat. Sebanyak 562 saham berhasil menguat, sementara hanya 148 saham yang terpaksa parkir di zona merah, dan 249 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga. Dengan kembalinya optimisme ini, para analis berharap IHSG dapat mempertahankan momentum penguatannya untuk menembus dan bertahan di atas level 6.000 pada perdagangan esok hari. Tetap pantau pergerakan pasar secara bijak, karena meski sentimen sedang positif, kewaspadaan terhadap fluktuasi investasi asing tetap menjadi kunci dalam mengelola portofolio di masa depan.

Kevin Wijaya

Kevin Wijaya

Analis pasar modal dan praktisi investasi yang membantu menyederhanakan info finansial di Kilat Saham.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *