Transformasi Paradigma: Mengapa Mahasiswa Harus Berhenti Sekadar Menjadi Pengguna dan Mulai Menjadi Pelaku Industri Digital
UpdateKilat — Di tengah riuhnya derap langkah kemajuan teknologi yang seakan tak pernah mengambil napas, dunia pendidikan tinggi dituntut untuk tidak sekadar menjadi penonton di pinggir lapangan. Fenomena ini menjadi sorotan utama dalam sebuah kuliah umum yang sarat makna di Institut Media Digital Emtek (IMDE). Mengangkat tema besar “Dari Pengguna Digital Menjadi Pelaku Industri Digital”, acara ini membuka tabir tentang bagaimana realitas industri teknologi sebenarnya bekerja di balik layar gadget yang kita genggam setiap hari.
Bertempat di Kampus IMDE yang terletak di jantung Kompleks Emtek City, Jakarta Barat, atmosfer akademik pada Kamis (18/06/2026) terasa berbeda. Ratusan mahasiswa dan dosen berkumpul bukan hanya untuk mendengarkan teori, melainkan untuk menyerap pengalaman dari seorang praktisi yang telah melanglang buana di kancah internasional. Muntasir Rahman, seorang tokoh sentral di balik TPL Software, hadir membagikan visi besarnya tentang posisi strategis sumber daya manusia Indonesia dalam ekosistem digital global.
Transformasi Balkon Jadi Kebun Mini: 10 Jenis Tanaman Buah yang Cocok untuk Hunian Vertikal
Berhenti Menjadi Penonton di Negeri Sendiri
Muntasir Rahman mengawali paparannya dengan sebuah pernyataan retoris yang menggugah kesadaran. Ia menekankan bahwa selama ini, sebagian besar masyarakat Indonesia, termasuk kalangan akademisi, masih terjebak dalam zona nyaman sebagai konsumen. Kita fasih menggunakan berbagai aplikasi, piawai berselancar di media sosial, namun jarang yang berani melangkah lebih jauh untuk menjadi kreator atau pemilik platform tersebut.
“Kita jangan sebatas jadi pengguna digital saja, tapi harus jadi pelaku digital. Dengan begitu, banyak keuntungan yang bisa diraih,” tegas Muntasir di hadapan para audiens yang tampak antusias. Menurutnya, menjadi pelaku industri bukan sekadar soal mencari materi, melainkan soal kedaulatan teknologi. Dengan menjadi pelaku, seseorang memiliki kontrol atas narasi, data, dan arah perkembangan teknologi itu sendiri.
Strategi Cuan di Tengah Terik: 7 Ide Jualan Minuman Dingin Modal di Bawah Rp500 Ribu untuk Teras Rumah Type 45
Perjalanan karier Muntasir sendiri adalah sebuah potret nyata dari determinasi. Sebelum dikenal sebagai Direktur Utama TPL (Teknologi Piranti Lunak) Software, ia memulai langkahnya dari bawah dengan mengembangkan dompet digital di Indonesia. Kehausannya akan ilmu membawanya hingga ke Singapura, bekerja di Thermo Fisher Scientific, sebuah perusahaan raksasa bioteknologi asal Amerika Serikat. Pengalaman internasional ini memberinya perspektif bahwa talenta Indonesia mampu bersaing, asalkan memiliki mentalitas sebagai pelaku industri digital yang tangguh.
Anatomi Ekonomi Perhatian: Sisi Gelap di Balik Layar
Salah satu poin paling menarik sekaligus provokatif dalam kuliah umum tersebut adalah pembahasan mengenai Attention Economy atau ekonomi perhatian. Muntasir menjelaskan secara gamblang bahwa di era sekarang, komoditas yang paling berharga bukanlah emas atau minyak, melainkan waktu dan perhatian manusia. Setiap detik yang kita habiskan untuk melakukan scrolling di media sosial adalah pundi-pundi uang bagi raksasa teknologi.
Solusi Cerdas Berkebun di Lahan Sempit: 7 Desain Taman Rumah Subsidi yang Aman dari Akar Pohon Buah
“Setiap kali kita mengetikkan apa pun di kolom pencarian, data itu dikumpulkan untuk membangun profil kita. Inilah dasar dari monetisasi digital,” jelasnya. Namun, ia juga memberikan peringatan keras bahwa model bisnis ini bisa berujung pada sesuatu yang ia sebut sebagai tindakan yang tidak etis atau bahkan ‘evil’. Mengapa? Karena fokus utamanya sering kali hanya pada cara mendapatkan perhatian pengguna selama mungkin tanpa peduli pada dampak psikologis atau sosialnya.
Ia menggambarkan bagaimana platform digital bersaing memperebutkan sisa waktu delapan jam yang dimiliki manusia setelah bekerja dan tidur. Fenomena kecanduan digital yang membuat orang sulit berhenti melihat layar adalah hasil dari algoritma yang dirancang dengan presisi untuk mengeksploitasi keterbatasan perhatian manusia. Hal inilah yang mendasari pentingnya etika dalam pengembangan teknologi informasi.
Mengenal Kasta Kecerdasan Buatan: ANI, AGI, hingga ASI
Sebagai praktisi, Muntasir tidak lupa memberikan pemahaman teknis mengenai tren masa kini, yaitu Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI). Ia membagi perkembangan AI ke dalam tiga tahap evolusi yang krusial untuk dipahami oleh mahasiswa media. Pertama adalah Artificial Narrow Intelligence (ANI), yakni AI yang kita gunakan saat ini yang hanya mampu melakukan satu tugas spesifik, seperti rekomendasi konten di Netflix atau pengenalan wajah.
Tahap kedua adalah Artificial General Intelligence (AGI), di mana AI mulai memiliki kemampuan belajar dan berpikir layaknya manusia dalam berbagai bidang tanpa perlu diprogram ulang untuk setiap tugas baru. Dan yang paling mutakhir sekaligus menantang adalah Artificial Superintelligence (ASI), sebuah level di mana kecerdasan mesin melampaui kemampuan intelektual terbaik manusia di segala bidang.
Muntasir mendorong para mahasiswa IMDE untuk tidak hanya menggunakan AI sebagai alat bantu mengerjakan tugas, tetapi mulai memikirkan bagaimana menciptakan solusi berbasis AI. Dengan mata kuliah seperti AI for Content Creation yang tersedia di IMDE, mahasiswa memiliki fondasi yang kuat untuk bertransformasi menjadi inovator di bidang ini.
Sinergi Akademisi dan Praktisi di IMDE
Kuliah umum yang merupakan bagian dari mata kuliah Literasi Digital ini mendapat apresiasi tinggi dari para staf pengajar. Drs. Suradi, M.Si., selaku dosen pengampu, menyatakan bahwa kehadiran praktisi seperti Muntasir sangat krusial untuk memberikan ‘pengetahuan terapan’ yang tidak selalu ditemukan dalam buku teks. Ia berharap mahasiswa tidak hanya menjadi sarjana yang pandai berteori, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap dinamika industri yang sangat cepat berubah.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Prodi Produksi Media IMDE, Teguh Setiawan, M.Si., menekankan bahwa momen ini adalah titik balik bagi mahasiswa untuk menggali ilmu sedalam mungkin. Ia bahkan dengan rendah hati mengakui bahwa sebagai akademisi, ia pun masih terus belajar untuk berpindah dari fase pengguna menuju pelaku.
“Momen kuliah umum ini sangat penting. Apalagi di semester enam nanti, mahasiswa akan berhadapan langsung dengan teknologi AI untuk kreasi konten. Kita harus siap, bukan hanya sebagai operator, tapi sebagai pemikir di balik teknologi tersebut,” ujar Teguh dalam sambutannya.
Menanamkan Etika di Atas Logika Algoritma
Di akhir sesi, Muntasir Rahman meninggalkan pesan mendalam mengenai tanggung jawab moral. Di tengah maraknya dampak buruk digital seperti judi online, pornografi, hingga penipuan berbasis data, pelaku industri digital masa depan harus memegang teguh etika. Teknologi hanyalah alat; manusia di baliknya lah yang menentukan apakah alat tersebut akan membangun peradaban atau justru merusaknya.
Kuliah umum di IMDE ini bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan sebuah seruan untuk bangun dari tidur panjang sebagai konsumen. Dengan bekal literasi digital yang kuat, pemahaman etika, dan penguasaan teknologi terbaru, generasi muda Indonesia diharapkan mampu merebut kembali panggung utama di industri digital dunia. Transformasi dari pengguna menjadi pelaku bukanlah pilihan, melainkan sebuah keharusan di era kompetisi global ini.