Revolusi Layar Tegak: Mengupas Tuntas Seni Micro-Storytelling dalam Film Vertikal Bareng IMDE dan Frans Seda Foundation

Aris Setiawan | UpdateKilat
15 Jun 2026, 08:56 WIB
Revolusi Layar Tegak: Mengupas Tuntas Seni Micro-Storytelling dalam Film Vertikal Bareng IMDE dan Frans Seda Foundation

UpdateKilat — Dunia sinematografi global tengah mengalami pergeseran tektonik yang tak terelakkan. Jika selama puluhan tahun mata kita dimanjakan oleh kemegahan layar lebar horizontal, kini era baru telah tiba tepat di genggaman tangan: layar vertikal. Menanggapi fenomena masif ini, Institut Media Digital Emtek (IMDE) berkolaborasi dengan Frans Seda Foundation menggelar sebuah inisiatif progresif bertajuk webinar “Micro-Storytelling 101: Trik Membangun Ide Naskah Film Vertikal yang Engage”.

Acara yang berlangsung pada Jumat (12/06/2026) ini bukan sekadar diskusi rutin, melainkan sebuah misi pembekalan bagi generasi kreatif yang tengah bersiap terjun dalam ajang Lomba Ide Cerita Film Vertikal IMDE. Di tengah hiruk-pikuk konten digital, webinar ini hadir sebagai oase bagi mereka yang ingin memahami lebih dalam bagaimana sebuah cerita pendek berdurasi singkat bisa meninggalkan kesan yang mendalam dan abadi bagi penontonnya.

Read Also

Transformasi Finansial: 6 Langkah Strategis Memperbaiki Kondisi Keuangan Demi Masa Depan yang Lebih Mapan

Transformasi Finansial: 6 Langkah Strategis Memperbaiki Kondisi Keuangan Demi Masa Depan yang Lebih Mapan

Menjawab Tantangan Zaman di Era Dominasi Layar Vertikal

Latar belakang penyelenggaraan acara ini tidaklah sembarangan. Data menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan waktu berjam-jam setiap harinya untuk berinteraksi dengan ponsel pintar mereka. Lonjakan trafik seluler dan konsumsi media sosial kini didominasi secara mutlak oleh orientasi layar tegak. Fenomena ini memaksa para kreator konten dan pembuat film untuk memikirkan ulang strategi mereka dalam bercerita melalui teknik storytelling yang lebih relevan.

Diskusi yang dipandu secara apik oleh Annisa Rosa Umary, mahasiswa IMDE, menghadirkan sosok pakar yang kompeten di bidangnya, yakni Gadis Hilmi Nabilah Rose, S.I.Kom., M.Sos. Sebagai seorang jurnalis CNN sekaligus dosen di IMDE, Gadis membawa perspektif praktis dan akademis yang tajam mengenai evolusi visual yang tengah kita alami saat ini.

Read Also

7 Tanaman Sayur Merambat Estetik yang Aman untuk Dinding: Pilihan Cerdas Urban Farming Modern

7 Tanaman Sayur Merambat Estetik yang Aman untuk Dinding: Pilihan Cerdas Urban Farming Modern

Menurut Gadis, format vertikal sejatinya bukanlah hal yang benar-benar baru dalam sejarah manusia. Ia menelusuri akar historisnya kembali pada seni portraiture atau fotografi potret yang telah ada selama berabad-abad. Transformasi dari ruang visual horizontal menuju vertikal di era digital saat ini telah bergeser dari sekadar fitur alternatif menjadi sebuah standar baku dalam industri penceritaan digital masa kini.

Empat Anatomi Fundamental Produksi Film Vertikal

Dalam pemaparannya yang mendalam, Gadis Hilmi membedah formulasi praktis dalam mengeksekusi karya film vertikal. Ia menekankan bahwa membuat film vertikal bukan sekadar memutar kamera 90 derajat, melainkan membutuhkan pendekatan artistik dan teknis yang berbeda total dari film konvensional. Ada empat anatomi fundamental yang menjadi kunci keberhasilan dalam produksi film vertikal yang menarik perhatian:

Read Also

Solusi Cerdas Urban Farming: Cara Membuat Kebun Sawi Gantung dari Tali Rafia di Lahan Terbatas

Solusi Cerdas Urban Farming: Cara Membuat Kebun Sawi Gantung dari Tali Rafia di Lahan Terbatas
  • Micro-Scripting dan The Hook: Di dunia di mana perhatian audiens sangat terbatas, detik-detik pertama adalah penentu. Kreator harus mampu menciptakan “hook” atau kail yang kuat untuk mengunci atensi audiens dalam hitungan detik pertama sebelum mereka melakukan scrolling.
  • Skala Sinematik Melalui Close-Up: Mengingat ukuran layar ponsel yang terbatas, penggunaan shot dekat (close-up) yang intim menjadi sangat krusial. Ini memberikan kedekatan emosional antara subjek dengan penonton yang tidak bisa didapatkan pada format layar lebar.
  • Centered Composition (Komposisi Terpusat): Menyiasati keterbatasan ruang secara horizontal, komposisi terpusat menjadi strategi utama untuk memastikan mata penonton tetap fokus pada elemen terpenting dalam cerita.
  • Psikologi Warna sebagai Palet Emosi: Tanpa perlu dialog yang panjang lebar, penggunaan warna yang tepat dapat membangun suasana dan kedalaman narasi secara instan, menyentuh sisi psikologis penonton dengan efektif.

Melalui kerangka analitis ini, para peserta diajak untuk tidak hanya menjadi konsumen pasif, tetapi juga menjadi produsen konten yang mampu meretas siklus konsumsi media dan menghadirkan karya micro-drama yang memiliki daya pikat tinggi dan makna yang kuat.

Visi IMDE: Mendemokrasikan Karya Lewat Smartphone

Senada dengan semangat inovasi tersebut, Adlino Dananjaya, M.Sn, selaku Wakil Ketua Pelaksana sekaligus Kaprodi Produksi Entertaimen IMDE, menegaskan bahwa kita telah resmi memasuki era baru dalam dunia perfilman. Baginya, film tidak boleh lagi hanya identik dengan format horizontal yang kaku.

“Kami mengajak generasi muda untuk bereksperimen dan berkarya melalui format vertikal yang jauh lebih dekat dengan kebiasaan mereka sehari-hari dalam menggunakan media digital,” ujar Adlino. Ia menambahkan bahwa Lomba Film Vertikal ini sengaja dihadirkan untuk mendorong kreativitas siswa SMA, SMK, dan sederajat di seluruh penjuru tanah air.

IMDE ingin membuktikan bahwa karya yang kuat dan bermakna tidak melulu membutuhkan peralatan mahal bernilai miliaran rupiah. Dengan hanya memanfaatkan smartphone yang ada di saku, setiap orang kini memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi sutradara dan produser. Program ini dirancang bukan sekadar kompetisi, melainkan ruang pembelajaran utuh yang mencakup pengembangan ide, pitching, hingga mentoring bersama para praktisi profesional.

Kolaborasi Strategis untuk Masa Depan Kreatif Indonesia

Langkah IMDE ini mendapat dukungan penuh dari Frans Seda Foundation. Stefanus Ginting, selaku Managing Director foundation tersebut, menyatakan bahwa pihaknya sangat menyambut baik ajakan kerja sama ini. Menurutnya, konsep yang diusung oleh IMDE sangat luar biasa karena mampu mendekatkan kaum muda langsung kepada kegiatan yang produktif, kreatif, dan relevan dengan perkembangan zaman.

“Kami di Frans Seda Foundation mengutamakan kesetaraan dan kami melihat program ini adalah sarana yang tepat. Di sini, peserta tidak hanya berkompetisi untuk menang, tetapi belajar memahami proses kreatif secara nyata dari hulu ke hilir,” ungkap Stefanus. Ia berharap kegiatan ini dapat melahirkan talenta-talenta baru yang kelak akan menghiasi industri kreatif nasional dengan karya-karya berkualitas yang dinikmati masyarakat luas.

Tak hanya itu, keterlibatan platform besar seperti Vidio.com dalam kolaborasi ini semakin memperkuat ekosistem pendukung bagi para kreator muda. Teguh Setiawan, S.Pd., M.I.Kom, Kaprodi Produksi Media, menjelaskan bahwa webinar ini adalah gerbang awal bagi para peserta untuk mempersiapkan karya terbaik mereka di bawah tema besar “Berbeda Bersama, Ruang untuk Semua”.

“Kami ingin memberikan wawasan tentang bagaimana membangun ide cerita yang tidak hanya kuat, tapi juga relevan dan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi naskah yang solid. Tema yang kami angkat tahun ini mengajak para peserta untuk merayakan keberagaman dalam sebuah ruang kreatif yang inklusif bagi siapa saja,” pungkas Teguh.

Dengan adanya inisiatif seperti ini, masa depan perfilman Indonesia tampaknya akan semakin berwarna. Bukan lagi soal seberapa lebar layarnya, melainkan seberapa dalam cerita tersebut mampu menyentuh hati para penontonnya melalui layar vertikal yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari.

Aris Setiawan

Aris Setiawan

Pengamat sosial dan jurnalis warga yang fokus pada isu-isu kemasyarakatan di kanal Kilat Citizen.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *