Bukan Sekadar Potong Kuku: Inilah 8 Sunnah Fitrah yang Sering Terlupakan dan Rahasia di Baliknya

Ustadzah Sarah | UpdateKilat
07 Jun 2026, 10:57 WIB
Bukan Sekadar Potong Kuku: Inilah 8 Sunnah Fitrah yang Sering Terlupakan dan Rahasia di Baliknya

UpdateKilat — Dalam khazanah ajaran Islam, kebersihan bukan sekadar urusan estetika atau kenyamanan fisik semata. Ia adalah bagian integral dari iman yang dikenal dengan istilah thaharah. Namun, di tengah hiruk-pikuk gaya hidup modern yang serba cepat, banyak dari kita yang terjebak pada rutinitas tanpa memahami esensi spiritual di baliknya. Salah satu aspek yang sering kali dianggap sepele adalah amalan sunnah fitrah.

Istilah ‘fitrah’ merujuk pada kesucian asal manusia, sebuah kecenderungan alami untuk mencintai keindahan dan kebersihan. Islam, sebagai agama yang menyempurnakan fitrah manusia, memberikan panduan mendalam mengenai bagaimana menjaga raga agar tetap selaras dengan jiwa yang suci. Sayangnya, banyak orang hanya terpaku pada ritual memotong kuku, sementara delapan amalan sunnah lainnya sering kali terlupakan atau hanya dianggap sebagai perawatan diri biasa tanpa nilai ibadah.

Read Also

Meresapi Kesucian Baitullah: Panduan Lengkap Adab dan Doa di Masjid demi Meraih Keberkahan Hakiki

Meresapi Kesucian Baitullah: Panduan Lengkap Adab dan Doa di Masjid demi Meraih Keberkahan Hakiki

Melalui ulasan mendalam ini, kami akan membedah kembali syariat kebersihan yang telah diajarkan ribuan tahun lalu, namun tetap relevan secara medis dan spiritual hingga hari ini. Mari kita telusuri satu per satu amalan yang mampu menyempurnakan kualitas ibadah harian kita.

1. Istihdad: Lebih dari Sekadar Menjaga Kerapian Area Sensitif

Istihdad adalah sebuah istilah dalam hukum Islam yang merujuk pada aktivitas mencukur atau membersihkan bulu di area kemaluan. Di era modern, hal ini sering kali dipandang sebagai pilihan gaya hidup atau preferensi pribadi. Namun, Rasulullah SAW menetapkannya sebagai salah satu pilar fitrah yang harus dijaga.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa fitrah manusia mencakup lima hal, salah satunya adalah istihdad. Secara medis, membiarkan rambut di area tersebut tumbuh terlalu lebat dapat menjadi sarana berkembang biaknya bakteri dan jamur akibat kelembapan yang tinggi. Dari sisi syariat, keberadaan rambut yang terlalu tebal dikhawatirkan dapat menghalangi air saat bersuci atau menahan sisa najis yang dapat membatalkan keabsahan shalat.

Read Also

Menghadapi Langit yang Tak Kunjung Terang: Panduan Doa dan Amalan Agar Cuaca Kembali Cerah

Menghadapi Langit yang Tak Kunjung Terang: Panduan Doa dan Amalan Agar Cuaca Kembali Cerah

Islam memberikan batasan waktu yang sangat manusiawi namun tegas. Sebagaimana penuturan Anas bin Malik, umat Islam dianjurkan untuk tidak membiarkan bulu-bulu tersebut tidak tersentuh lebih dari empat puluh malam. Hal ini menunjukkan betapa Islam sangat memperhatikan detail kebersihan yang bahkan tidak terlihat oleh mata orang lain.

2. Mencabut Bulu Ketiak (Natful Ibt): Hikmah di Balik Rasa Sakit

Amalan kedua yang sering kali diganti dengan metode mencukur adalah mencabut bulu ketiak. Secara tekstual, hadis menyebutkan kata natful yang berarti mencabut. Mengapa mencabut dan bukan mencukur? Para ulama dan pakar kesehatan menjelaskan bahwa mencabut bulu hingga ke akar dapat melemahkan pertumbuhan rambut di masa depan dan secara signifikan mengurangi bau badan.

Read Also

Kapan Hari Terakhir Syawal 2026? Simak Jadwal Lengkap dan Persiapan Menuju Dzulqa’dah

Kapan Hari Terakhir Syawal 2026? Simak Jadwal Lengkap dan Persiapan Menuju Dzulqa’dah

Kelenjar keringat di area lipatan seperti ketiak adalah sumber utama aroma tubuh yang kurang sedap. Dengan menjaga kebersihan area ini, seorang Muslim tidak hanya menjaga kesehatan kulitnya sendiri, tetapi juga menjaga adab terhadap sesama manusia. Bayangkan kenyamanan saat Anda berada dalam barisan shalat berjamaah; menjaga agar tidak ada bau yang mengganggu jamaah lain adalah bentuk sedekah non-materi yang sangat berharga.

Namun, Islam adalah agama yang memudahkan. Bagi mereka yang tidak kuat menahan rasa sakit saat mencabut, para ulama memperbolehkan metode lain seperti mencukur atau menggunakan krim perontok. Yang terpenting adalah esensi kebersihannya tetap terjaga di bawah batas waktu 40 hari yang telah ditetapkan.

3. Ghaslul Barajim: Menghargai Detail Kecil pada Jari-Jemari

Pernahkah Anda memperhatikan sela-sela jari atau lipatan kulit di buku-buku jari Anda? Dalam Islam, mencuci bagian ini dikenal dengan istilah Ghaslul Barajim. Amalan ini merupakan bukti betapa telitinya syariat Islam dalam mengajarkan kebersihan diri.

Barajim adalah tempat di mana debu, daki, dan keringat sering kali bersembunyi tanpa kita sadari. Meski sering kali terbasuh saat berwudhu, banyak orang melakukannya dengan terburu-buru sehingga bagian lipatan ini tetap kering atau kotor. Rasulullah SAW memasukkan amalan ini ke dalam sepuluh sunnah fitrah, menekankan bahwa kesucian total hanya bisa dicapai jika kita memperhatikan detail terkecil sekalipun.

Secara kesehatan, menjaga kebersihan sela-sela jari adalah langkah preventif utama dalam mencegah penyebaran kuman dan penyakit menular. Di dunia yang semakin peduli pada higienitas pasca-pandemi, ajaran Nabi ini terasa semakin visioner dan relevan bagi kesehatan tubuh kita secara menyeluruh.

4. Qashshusy Syawarib: Mengatur Kumis demi Kesantunan dan Higienitas

Dalam hal penampilan wajah, Islam memberikan tuntunan yang sangat spesifik bagi laki-laki. Salah satunya adalah Qashshusy Syawarib atau menipiskan kumis. Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk membedakan diri dari kaum Majusi dan musyrikin zaman dahulu yang gemar memanjangkan kumis hingga menutupi mulut.

Ada dua dimensi penting dalam amalan ini. Pertama adalah dimensi identitas; seorang Muslim memiliki ciri khas dalam penampilannya. Kedua adalah dimensi higienitas. Kumis yang terlalu panjang dan menjuntai melewati bibir sangat rentan terkena makanan atau minuman yang kita konsumsi. Secara estetika, kumis yang rapi memberikan kesan bersih dan berwibawa.

Penekanan pada amalan ini sangat kuat, bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa mereka yang tidak memperhatikan kerapian kumisnya dianggap tidak mengikuti sunnah Nabi secara sempurna. Ini adalah pengingat bahwa penampilan luar adalah cerminan dari kedisiplinan batin.

5. Madhmadmah dan Istinsyaq: Detoksifikasi Alami Saluran Pernapasan

Berkumur (madhmadmah) dan menghirup air ke hidung (istinsyaq) sering kali dianggap hanya sebagai bagian rutin dari wudhu. Padahal, keduanya adalah sunnah fitrah mandiri yang sangat krusial bagi kesehatan pernapasan dan mulut. Rongga hidung dan mulut adalah pintu gerbang utama bakteri dan virus masuk ke dalam sistem tubuh.

Istinsyaq, atau menghirup air hingga ke pangkal hidung lalu menyemburkannya kembali, berfungsi membersihkan mukosa hidung dari debu dan polutan. Secara medis, praktik ini mirip dengan prosedur nasal irrigation yang direkomendasikan dokter untuk penderita alergi atau sinusitis. Begitu pula dengan berkumur yang membantu membersihkan sisa makanan agar tidak membusuk dan merusak gigi.

Dengan menjalankan sunnah ini, seorang hamba sedang mempersiapkan dirinya untuk berkomunikasi dengan Sang Khalik dalam keadaan yang benar-benar bersih dan segar. Ini adalah bentuk penghormatan tertinggi dalam ibadah.

6. I’faul Liha: Simbol Maskulinitas dan Ketaatan

Membiarkan jenggot tumbuh atau I’faul Liha adalah sunnah yang sering menjadi topik hangat. Di balik perdebatan gaya rambut wajah, memelihara jenggot bagi laki-laki adalah bagian dari menjaga fitrah penciptaan yang membedakan antara pria dan wanita. Rasulullah SAW memerintahkan untuk membiarkan jenggot tumbuh sebagai bentuk pembeda identitas.

Banyak penelitian modern menunjukkan bahwa jenggot dapat membantu melindungi kulit wajah dari sinar UV dan menjaga kelembapan kulit. Namun bagi seorang Muslim, alasan utamanya adalah ittiba’ atau mengikuti teladan Rasulullah SAW. Ini adalah simbol komitmen bahwa dalam hal sekecil penampilan wajah pun, seorang hamba ingin selaras dengan bimbingan nabawi.

7. Siwak: Tradisi Klasik dengan Manfaat Modern

Meskipun kita kini memiliki sikat gigi elektrik dan berbagai jenis pasta gigi, posisi siwak (kayu dari pohon Salvadora persica) tidak tergantikan dalam hal keutamaan sunnah. Siwak bukan sekadar alat pembersih mekanis, melainkan media untuk meraih rida Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda bahwa seandainya tidak memberatkan umatnya, beliau akan mewajibkan siwak setiap kali hendak shalat. Siwak mengandung zat alami yang efektif membunuh bakteri penyebab plak dan bau mulut. Menggunakan siwak sebelum shalat atau saat bangun tidur adalah cara instan untuk meningkatkan kualitas spiritualitas kita, karena mulut yang bersih membuat bacaan Al-Qur’an dan zikir terasa lebih bermakna.

Bagi Anda yang ingin menghidupkan sunnah rasul ini, mulailah dengan menggunakan siwak sebagai pendamping sikat gigi rutin Anda. Niatkan untuk mengikuti sunnah, maka setiap gosokan tersebut akan bernilai pahala yang berlipat ganda.

8. Intiqashul Ma’: Kesempurnaan dalam Bersuci (Istinja)

Amalan terakhir yang termasuk dalam fitrah namun sering dianggap remeh adalah beristinja dengan sempurna menggunakan air (Intiqashul Ma’). Islam sangat menekankan agar setiap tetes sisa kotoran dibersihkan secara tuntas. Kecerobohan dalam bersuci dari buang air sering kali disebut dalam hadis sebagai salah satu penyebab siksa kubur.

Membersihkan diri dengan air secara saksama adalah pondasi dari semua ibadah. Tanpa kesucian fisik yang sempurna, shalat yang kita kerjakan bisa menjadi tidak sah. Inilah bentuk thaharah yang paling mendasar yang menjaga integritas spiritual seorang Muslim sepanjang hari.

Kesimpulan: Mengintegrasikan Fitrah dalam Kehidupan

Memahami dan mengamalkan delapan sunnah fitrah di atas membawa kita pada kesadaran bahwa Islam adalah agama yang sangat memperhatikan kesejahteraan manusia secara holistik. Kebersihan fisik adalah jembatan menuju kejernihan hati. Dengan menjaga apa yang telah menjadi fitrah kita, kita sebenarnya sedang merawat titipan Tuhan yang paling berharga, yaitu tubuh kita sendiri.

Mari mulai memperhatikan kembali detail-detail yang mungkin selama ini luput dari pandangan kita. Bukan sekadar tentang memotong kuku, tapi tentang bagaimana setiap inci tubuh kita menjadi saksi atas ketaatan kita kepada Sang Pencipta. Untuk panduan ibadah harian lainnya, pastikan Anda terus memperbarui wawasan keislaman Anda demi meraih keberkahan hidup yang hakiki.

Ustadzah Sarah

Ustadzah Sarah

Penulis konten religi dan lulusan studi Islam yang berdedikasi menyebarkan konten positif di Kilat Islami.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *