Balita di Bekasi Tewas Tragis di Tangan Paman: Tabir Gelap di Balik Emosi Saat Bermain Game

Budi Santoso | UpdateKilat
30 Mei 2026, 00:56 WIB
Balita di Bekasi Tewas Tragis di Tangan Paman: Tabir Gelap di Balik Emosi Saat Bermain Game

UpdateKilat — Langit di kawasan Jatirangga, Jatisampurna, Kota Bekasi, seolah menyimpan duka yang amat mendalam menyusul terbongkarnya sebuah tragedi kemanusiaan yang memilukan. Seorang balita yang belum genap berusia tiga tahun harus meregang nyawa dengan cara yang sangat tragis di tangan paman kandungnya sendiri. Kasus ini bukan sekadar berita kriminal biasa; ini adalah potret kelam tentang bagaimana emosi yang tak terkendali dan kondisi psikologis yang rapuh dapat berujung pada hilangnya nyawa tak berdosa.

Pihak kepolisian akhirnya berhasil menguak tabir di balik motif pembunuhan bocah berinisial A (2,5 tahun) yang ditemukan tak bernyawa di dalam sebuah rumah kontrakan. Tersangka berinisial G (18), yang seharusnya menjadi pelindung bagi keponakannya, justru menjadi sosok yang mengakhiri perjalanan hidup sang balita. Pengakuan yang meluncur dari bibir tersangka mengejutkan banyak pihak, menggambarkan betapa remehnya pemicu awal dari tindakan keji tersebut.

Read Also

Strategi Tri Tito Karnavian: Mengubah Wajah Gizi Keluarga Lewat Potensi Maritim dan Inovasi Kader PKK

Strategi Tri Tito Karnavian: Mengubah Wajah Gizi Keluarga Lewat Potensi Maritim dan Inovasi Kader PKK

Tragedi yang Bermula dari Layar Ponsel

Berdasarkan hasil penyelidikan intensif yang dilakukan oleh jajaran Polres Metro Bekasi Kota, insiden berdarah ini dipicu oleh hal yang sangat sepele. Pada hari kejadian, tersangka G diketahui sedang asyik terlarut dalam permainan game di ponsel pintarnya. Di saat yang bersamaan, korban A yang masih balita dan memiliki rasa ingin tahu tinggi, mencoba mendekati pamannya untuk mengajak bermain.

“Ketika dia bermain game, korban balita naik ke punggungnya, yang dianggap mengganggu konsentrasi tersangka. Hal inilah yang kemudian memicu emosi tersangka hingga meledak secara spontan,” ungkap Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Andi Muhammad Iqbal. Rasa kesal karena aktivitas digitalnya terinterupsi rupanya berubah menjadi amarah gelap yang tak lagi bisa dinalar secara sehat.

Read Also

Operasi Senyap Polri dan FBI: Sindikat Phishing Global di Kupang Berhasil Digulung

Operasi Senyap Polri dan FBI: Sindikat Phishing Global di Kupang Berhasil Digulung

Kekejaman yang Sulit Dinalar: 32 Luka di Tubuh Mungil

Dalam kondisi mata gelap akibat tersulut emosi, tersangka G lantas bergegas menuju dapur. Tanpa pikir panjang, ia mengambil sebilah senjata tajam dan langsung melancarkan serangan bertubi-tubi kepada keponakannya sendiri. Bayangkan, seorang anak kecil yang belum memahami arti bahaya, tiba-tiba harus menghadapi serangan mematikan dari sosok yang dikenalnya sehari-hari.

Laporan visum yang diterbitkan oleh Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati memberikan gambaran mengerikan mengenai tingkat kekerasan yang dialami korban. Kompol Andi Muhammad Iqbal memaparkan bahwa setidaknya terdapat 32 luka tusuk dan sayatan yang tersebar di sekujur tubuh mungil tersebut. “Khusus di bagian wajah saja ditemukan 20 tusukan, sementara di bagian badan terdapat 12 tusukan. Totalitas kekejaman ini sangat memprihatinkan,” tuturnya dengan nada berat saat menjelaskan kronologi pembunuhan tersebut.

Read Also

Menghidupkan Kembali Semangat Perlawanan: Presiden Prabowo Resmikan Museum Marsinah sebagai Simbol Kehormatan Buruh Indonesia

Menghidupkan Kembali Semangat Perlawanan: Presiden Prabowo Resmikan Museum Marsinah sebagai Simbol Kehormatan Buruh Indonesia

Antara Halusinasi dan Bisikan Gaib

Namun, di balik faktor emosi sesaat karena permainan game, penyidik menemukan lapisan masalah yang lebih dalam. Tersangka G memberikan pengakuan yang mengindikasikan adanya gangguan persepsi atau halusinasi. Kepada polisi, ia mengklaim kerap mendengar suara-suara aneh di dalam pikirannya sebelum melakukan tindakan nekat tersebut. Suara-suara yang ia sebut sebagai “bisikan gaib” itu seolah mendesaknya untuk melakukan sesuatu yang di luar akal sehat.

“Ada pengakuan mengenai bisikan-bisikan tertentu. Bahkan tersangka sempat mengutarakan keinginan yang tidak wajar, yaitu ingin cepat bertemu dengan Tuhan,” tambah Iqbal. Fenomena ini memunculkan dugaan kuat adanya masalah kesehatan mental serius yang selama ini terpendam dalam diri pemuda berusia 18 tahun tersebut, yang kemudian meledak pada waktu dan sasaran yang salah.

Kehidupan di Kontrakan dan Tangisan yang Terabaikan

Keseharian korban A memang jauh dari kemewahan. Sejak masih bayi, ia diasuh oleh sang nenek di sebuah kontrakan sederhana di Bekasi. Mereka tinggal bertiga bersama tersangka G. Kondisi ekonomi memaksa sang nenek untuk bekerja keras berjualan setiap sore demi menyambung hidup. Di saat sang nenek mencari nafkah itulah, A dititipkan di bawah pengawasan pamannya.

Kenyataan pahit terungkap dari keterangan para tetangga. Ternyata, pada hari kejadian, suara tangisan lirih hingga keras sempat terdengar dari dalam rumah kontrakan tersebut. Korban dilaporkan menangis dalam durasi yang cukup lama, sekitar tiga jam, sebelum akhirnya suasana menjadi sunyi senyap. Tragisnya, tidak ada yang menyadari bahwa tangisan itu adalah jeritan minta tolong terakhir dari sang balita.

Salah seorang saksi bahkan mengaku masih mendengar isakan kecil saat tersangka G keluar rumah sebentar menjelang waktu Magrib hanya untuk mengisi token listrik. Hal ini menunjukkan betapa dinginnya sikap tersangka setelah melakukan aksi kejinya, seolah nyawa yang baru saja ia ambil tidak memberikan beban moral seketika pada dirinya.

Jejak Depresi dan Riwayat Penyakit Kronis

Setelah menghabisi nyawa keponakannya, tersangka G diduga sempat mencoba mengakhiri hidupnya sendiri di dalam rumah tersebut. Upaya bunuh diri ini bukanlah yang pertama kali. Pihak keluarga memberikan kesaksian bahwa G memiliki riwayat gangguan mental dan tekanan psikologis yang sudah berlangsung cukup lama. Ia tercatat sudah lebih dari sepuluh kali mengutarakan niat untuk mati kepada orang-orang terdekatnya.

Selain faktor mental, kondisi fisik tersangka juga menjadi sorotan. G diketahui mengidap penyakit epilepsi yang kerap kambuh. Penyakit kronis ini, ditambah dengan tekanan hidup dan depresi, diduga menciptakan akumulasi stres yang luar biasa berat baginya. “Tersangka ini mengalami stres berat akibat penyakitnya dan berbagai masalah internal lainnya,” pungkas Iqbal merujuk pada latar belakang kesehatan tersangka.

Pelajaran Berharga bagi Perlindungan Anak

Tragedi ini menjadi pengingat keras bagi masyarakat luas mengenai pentingnya pengawasan terhadap keamanan anak, terutama saat menitipkan mereka kepada anggota keluarga yang memiliki riwayat gangguan kesehatan mental atau ketidakstabilan emosi. Lingkungan sekitar juga diharapkan lebih peka terhadap tanda-tanda kekerasan, seperti suara tangisan anak yang tidak wajar dan berlangsung lama.

Kini, G harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum. Meskipun ada indikasi gangguan mental, proses hukum tetap berjalan sembari menunggu hasil pemeriksaan kejiwaan yang lebih komprehensif. Kasus ini akan terus dikawal oleh publik sebagai bentuk empati kepada korban A, balita mungil yang impian masa depannya terhenti secara paksa oleh keegoisan dan kegelapan jiwa sang paman.

Semoga kejadian ini menjadi titik balik bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap isu psikologi remaja dan perlindungan terhadap kelompok rentan seperti anak-anak di lingkungan terkecil sekalipun.

Budi Santoso

Budi Santoso

Wartawan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang berita politik dan peristiwa untuk Kilat News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *