Potret Toleransi Abadi: Kala Lapangan Gereja di Depok Menjadi Saksi Bisu Khidmatnya Salat Idul Adha

Budi Santoso | UpdateKilat
27 Mei 2026, 18:55 WIB
Potret Toleransi Abadi: Kala Lapangan Gereja di Depok Menjadi Saksi Bisu Khidmatnya Salat Idul Adha

UpdateKilat — Mentari pagi baru saja menyembul dari ufuk timur, membiaskan cahaya keemasan yang menembus sela-sela pepohonan di kawasan Pancoran Mas. Di tengah sejuknya udara Kota Depok, Jawa Barat, sebuah harmoni indah tercipta, melampaui sekat-sekat perbedaan keyakinan. Pagi itu, Rabu (27/5/2026), perayaan Idul Adha tidak hanya menjadi simbol ketaatan spiritual, tetapi juga panggung nyata bagi toleransi agama yang telah mengakar kuat di bumi pertiwi.

Pusat perhatian tertuju pada Lapangan Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC). Lokasinya yang berhimpitan dengan Gereja Bethel Indonesia di Jalan Kamboja memberikan pemandangan yang tak biasa bagi mereka yang belum mengenal sejarah panjang kawasan ini. Namun bagi warga setempat, pemandangan ribuan umat Muslim yang bersujud di pelataran yang dikelola yayasan Kristen tersebut adalah potret keseharian yang penuh kedamaian.

Read Also

LRT Jabodebek Siapkan 270 Perjalanan Per Hari Selama Libur Panjang: Solusi Mobilitas Tanpa Macet

LRT Jabodebek Siapkan 270 Perjalanan Per Hari Selama Libur Panjang: Solusi Mobilitas Tanpa Macet

Harmoni dalam Takbir di Pelataran Kamboja

Sejak pukul 06.00 WIB, gelombang jemaah mulai mengalir. Dari lorong-lorong sempit hingga jalan protokol, warga berbondong-bondong membawa sajadah dan mukena. Anak-anak kecil dengan baju koko baru berlarian riang, sementara para orang tua berjalan khidmat sembari melantunkan takbir yang menggema lewat pengeras suara. Lapangan YLCC pun perlahan berubah menjadi hamparan putih yang rapi.

Di balik ketertiban tersebut, tampak sejumlah pemuda berseragam pramuka sibuk mengatur barisan. Mereka adalah anggota Pramuka Satuan Komunitas Sekawan Persada Nusantara atau Sako SPN. Dengan sigap, mereka memastikan setiap jemaah mendapatkan tempat, memastikan shaf tersusun lurus, dan membantu lansia yang kesulitan berjalan. Keterlibatan aktif organisasi kepemudaan ini menjadi motor penggerak utama terselenggaranya Idul Adha yang tertib setiap tahunnya.

Read Also

KPK Dorong Reformasi Total Parpol: Dari Pembatasan Masa Jabatan Ketum Hingga Transparansi Dana Donor

KPK Dorong Reformasi Total Parpol: Dari Pembatasan Masa Jabatan Ketum Hingga Transparansi Dana Donor

Jejak Tiga Dekade Persaudaraan Tanpa Sekat

Diki Wahyu, salah satu sosok penting di balik penyelenggaraan ibadah ini, tampak tak henti berkoordinasi. Baginya, momen ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Ada sejarah panjang yang ia emban di pundaknya. Kepada tim kami, Diki mengisahkan bahwa tradisi melaksanakan salat Id di lapangan YLCC ini bukanlah hal baru. “Pelaksanaan salat di sini sudah dilakukan sejak tahun 1996. Jika dihitung, hampir 30 tahun kami konsisten merajut kebersamaan di lokasi ini,” ungkapnya dengan nada bangga.

Angka 30 tahun bukanlah waktu yang singkat. Selama tiga dekade tersebut, pergantian generasi terjadi, namun semangat untuk saling menjaga tetap lestari. Penyelenggaraan ibadah di kawasan yang mayoritas dihuni oleh komunitas non-Muslim ini membuktikan bahwa koordinasi yang baik dan komunikasi yang tulus adalah kunci utama kerukunan umat beragama.

Read Also

Fasilitas Kursi Roda Gratis di Masjidil Haram: Lokasi, Prosedur, dan Tips Ibadah Haji Ramah Lansia

Fasilitas Kursi Roda Gratis di Masjidil Haram: Lokasi, Prosedur, dan Tips Ibadah Haji Ramah Lansia

Sinergi Gereja dan Umat: Lebih dari Sekadar Berbagi Lahan Parkir

Salah satu fakta yang paling menyentuh hati adalah bagaimana Gereja Bethel Indonesia yang bertetangga langsung dengan lapangan tersebut memberikan dukungan penuh. Ketika kapasitas lapangan mulai penuh dan kendaraan jemaah meluap, pihak gereja dengan tangan terbuka membuka pintu gerbang mereka. Halaman gereja pun disulap menjadi kantong parkir darurat bagi para jemaah Muslim.

“Ini bukan hanya soal meminjamkan tempat, tapi soal rasa persaudaraan. Bahkan pihak Gereja Bethel Indonesia memberikan izin penuh untuk penggunaan fasilitas parkir mereka,” tambah Diki. Pemandangan ini seolah menjadi jawaban telak atas berbagai isu intoleransi yang kadang menerpa ibu kota dan sekitarnya. Di sini, di Jalan Kamboja, perbedaan keyakinan justru menjadi perekat yang memperkuat struktur sosial masyarakatnya.

Menengok Sejarah: Depok yang Tak Tergoyahkan Konflik

Menarik untuk menarik garis sejarah ke belakang. Diki mengenang momen-momen krusial bangsa Indonesia, salah satunya saat kerusuhan besar di Ambon pada tahun 1999. Kala itu, sentimen agama sedang berada di titik nadir di beberapa wilayah Indonesia. Namun, aura permusuhan itu tidak mampu menembus tembok toleransi di Pancoran Mas, Kota Depok.

“Saya ingat betul tahun 1999, saat daerah lain bergejolak, di sini kami tetap tenang. Kami tetap melaksanakan salat dengan damai. Bahkan, warga non-Muslim di sini ikut membantu berjaga-jaga di sekitar lapangan saat kami sedang bersujud. Mereka memastikan kami bisa beribadah dengan tenang tanpa rasa khawatir sedikit pun,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca. Inilah bukti bahwa pondasi toleransi yang dibangun oleh pendahulu mereka sangatlah kokoh.

Suara Jemaah: Kehangatan di Tengah Keberagaman

Di antara kerumunan jemaah, kami menemui Lutfi, seorang warga yang sudah dua tahun terakhir memilih melaksanakan salat Id di lapangan YLCC. Baginya, ada getaran spiritual yang berbeda saat beribadah di tempat ini. Atmosfer keterbukaan dan rasa saling menghargai sangat terasa di setiap sudut lapangan.

“Mungkin bagi orang luar ini aneh, melaksanakan salat di depan gereja atau di lapangan yayasan Kristen. Tapi bagi kami, ini adalah bentuk peradaban yang maju. Lihatlah, mereka membukakan pintu dan tersenyum kepada kita. Itu adalah bahasa universal dari rasa hormat,” tutur Lutfi. Ia merasa bahwa pengalaman beribadah di sini memberikan pelajaran berharga bagi anak-anaknya tentang arti menjadi seorang Muslim yang rahmatan lil alamin.

Harapan untuk Indonesia dari Sudut Pancoran Mas

Seiring berakhirnya ceramah agama yang disampaikan dengan penuh kesejukan, para jemaah mulai membubarkan diri dengan tertib. Tak sedikit dari mereka yang bersalaman dengan warga sekitar, termasuk warga non-Muslim yang kebetulan sedang berada di depan rumah. Pemandangan ini menutup rangkaian ibadah sholat Idul Adha dengan manis.

Lutfi menaruh harapan besar agar potret kedamaian di Depok ini bisa menjadi inspirasi bagi wilayah-wilayah lain di Indonesia. “Semoga apa yang terjadi di sini bisa menjadi barometer nasional. Bahwa kita tidak perlu seragam untuk bisa berdampingan. Cukup dengan saling memahami dan menghargai, kedamaian itu akan tercipta dengan sendirinya,” pungkasnya.

Melalui peristiwa ini, kita kembali diingatkan bahwa toleransi bukan sekadar kata-kata indah dalam buku teks kewarganegaraan, melainkan sebuah tindakan nyata yang dilakukan dengan ketulusan hati. Di Lapangan YLCC Depok, kita melihat wajah Indonesia yang sesungguhnya: wajah yang ramah, terbuka, dan penuh cinta di tengah keberagaman.

Budi Santoso

Budi Santoso

Wartawan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang berita politik dan peristiwa untuk Kilat News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *