Kisah Inspiratif Marjono: Dua Dekade Merawat Tradisi Gudeg Bu Sri dan Transformasi Digital di Cileungsi

Budi Santoso | UpdateKilat
24 Mei 2026, 07:02 WIB
Kisah Inspiratif Marjono: Dua Dekade Merawat Tradisi Gudeg Bu Sri dan Transformasi Digital di Cileungsi

UpdateKilat — Di tengah hiruk-pikuk kawasan Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, sebuah aroma manis nan gurih menyeruak, seolah membawa siapa pun yang melintas kembali ke atmosfer hangat Yogyakarta. Aroma itu bersumber dari kepulan uap di warung Gudeg Bu Sri, sebuah oase kuliner yang telah berdiri kokoh selama lebih dari dua dekade. Di balik meja saji yang dipenuhi nangka muda masak cokelat dan krecek pedas, sosok Marjono (60) tersenyum ramah melayani pelanggan yang silih berganti datang.

Marjono bukanlah pemain baru dalam industri kuliner tradisional. Pria asli Yogyakarta ini memulai petualangannya di tanah rantau pada tahun 2002. Keputusannya untuk meninggalkan kenyamanan kampung halaman dan berhenti dari pekerjaannya di Jogja menjadi titik balik hidupnya. Dengan modal tekad dan resep turun-temurun, ia memilih Cileungsi sebagai tempat menancapkan kuku bisnisnya. Namun, seperti banyak kisah sukses lainnya, perjalanan Marjono tidaklah semanis rasa gudeg buatannya sejak hari pertama.

Read Also

DPR RI Tekankan Revisi UU Pemilu Tak Boleh Terburu-buru Demi Hindari Gugatan Hukum Berulang

DPR RI Tekankan Revisi UU Pemilu Tak Boleh Terburu-buru Demi Hindari Gugatan Hukum Berulang

Satu Tahun Pertama: Ujian Kesabaran di Tanah Rantau

Membangun usaha di wilayah yang baru memerlukan lebih dari sekadar keahlian memasak. Marjono mengenang bagaimana warungnya sempat sepi di masa awal berdiri. Berbeda dengan banyak perantau yang sering berpindah tempat tinggal, Marjono memilih untuk setia pada satu titik di Cileungsi sejak ia menginjakkan kaki di Bogor. Keuletannya diuji ketika pelanggan tak kunjung ramai datang dalam beberapa bulan pertama.

“Setahun pertama itu benar-benar masa perjuangan. Belum banyak yang tahu, belum banyak langganan. Baru setelah lewat satu tahun, grafik penjualannya mulai naik perlahan tapi pasti,” kenang Marjono dengan nada reflektif. Kini, usaha kecil yang ia rintis bersama istrinya telah menjadi bisnis keluarga yang melibatkan anak-anaknya. Kolaborasi antar-generasi inilah yang kemudian membawa napas baru ke dalam manajemen warung Gudeg Bu Sri, termasuk dalam hal adaptasi teknologi.

Read Also

Larangan City Tour Luar Kota Makkah: Menjaga Stamina Jemaah Menuju Puncak Haji Armuzna

Larangan City Tour Luar Kota Makkah: Menjaga Stamina Jemaah Menuju Puncak Haji Armuzna

Era Digital: Ketika Gudeg Bertemu QRIS BRI

Meskipun warungnya tetap mempertahankan nuansa tradisional yang otentik, Marjono tidak menutup mata terhadap perubahan zaman. Tahun 2020 menjadi momentum penting bagi Gudeg Bu Sri untuk masuk ke ekosistem ekonomi digital. Atas saran dari petugas bank yang mendatangi tempat usahanya, Marjono memutuskan untuk mulai menyediakan layanan pembayaran nontunai melalui QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) dari BRI.

Proses integrasinya pun tergolong cepat. Hanya dalam kurun waktu satu minggu setelah pendaftaran, stiker kode QR sudah terpampang di depan kasirnya. Marjono menyadari bahwa perilaku konsumen modern mulai berubah; banyak dari mereka yang kini lebih sering membawa ponsel pintar dibandingkan dompet berisi uang tunai. Kehadiran QRIS menjadi solusi praktis yang mempermudah transaksi sehari-hari.

Read Also

Geger Video ‘Sel Sultan’ di Lapas Cilegon, Kalapas Buka Suara: Kami Tak Ada Pilih Kasih!

Geger Video ‘Sel Sultan’ di Lapas Cilegon, Kalapas Buka Suara: Kami Tak Ada Pilih Kasih!

“Memang sebagian besar pelanggan masih suka pakai uang tunai, tapi QRIS ini sangat membantu kalau ada pembeli yang lupa bawa dompet atau memang lebih suka pakai aplikasi perbankan. Semuanya jadi lebih praktis dan modern,” tuturnya. Meski secara volume transaksi digital belum mendominasi, keberadaan fitur ini meningkatkan citra profesionalitas warungnya di mata pelanggan.

Benteng Pertahanan dari Ancaman Uang Palsu

Salah satu alasan kuat mengapa Marjono mengapresiasi pembayaran digital adalah sisi keamanannya. Selama 22 tahun berjualan, ia mengaku telah menjadi korban peredaran uang palsu setidaknya enam kali. Kejadian pahit ini biasanya terjadi saat kondisi warung sedang sangat ramai, di mana ketelitian sering kali terabaikan demi kecepatan pelayanan.

Uang pecahan Rp 50.000 dan Rp 100.000 menjadi yang paling sering dipalsukan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Marjono menduga ada unsur kesengajaan dari pembeli yang memanfaatkan situasi sibuk untuk menyisipkan uang palsu. “Sekarang anak-anak yang bantu di warung sudah saya ajari cara membedakan uang asli dan palsu. Tapi dengan adanya QRIS, risiko seperti itu otomatis hilang. Uang langsung masuk ke rekening dan jumlahnya pasti pas,” jelasnya.

Meskipun terkadang terjadi kendala teknis seperti gangguan sistem yang sempat ia alami selama satu bulan, Marjono tetap menganggap teknologi ini sebagai kemajuan positif. Saat sistem QRIS terkendala, ia tidak jarang meminta pelanggan untuk melakukan transfer manual sebagai alternatif, menunjukkan betapa cairnya proses transaksi di warungnya kini.

Sokongan Modal KUR BRI untuk Ekspansi Bisnis

Keberhasilan Gudeg Bu Sri bertahan selama dua dekade juga tidak lepas dari dukungan finansial yang tepat. Marjono mengungkapkan bahwa dirinya telah dua kali memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI. Pinjaman modal ini ia gunakan secara bijak untuk memutar roda usaha, membeli bahan baku berkualitas dalam jumlah besar, hingga membantu pemenuhan kebutuhan pribadi seperti renovasi tempat tinggal.

Dukungan modal usaha ini memungkinkan Marjono untuk menjaga stabilitas bisnisnya di tengah fluktuasi harga bahan pangan. Baginya, akses ke perbankan yang mudah adalah kunci bagi pelaku UMKM untuk terus berkembang dan tidak stagnan di satu titik saja. Dengan pengelolaan keuangan yang disiplin, Marjono berhasil membuktikan bahwa usaha tradisional bisa memiliki manajemen keuangan yang sehat layaknya bisnis modern.

Perspektif BRI: Mendorong Digitalisasi UMKM di Cileungsi

Fenomena yang dialami Marjono selaras dengan misi besar yang dibawa oleh BRI Unit Cileungsi. Luki Perdana, Kepala BRI Unit Cileungsi, menjelaskan bahwa pihaknya memang tengah gencar mengintegrasikan layanan digital ke dalam ekosistem UMKM lokal. Strategi yang dijalankan adalah dengan mewajibkan atau menyarankan setiap nasabah penerima pinjaman untuk langsung memiliki QRIS.

“Kami ingin nasabah tidak hanya mendapatkan pinjaman, tapi juga mendapatkan alat transaksi yang modern. Biasanya, dua sampai tiga hari setelah pinjaman cair, QRIS sudah siap dipasang di tempat usaha. Ini krusial agar pedagang tidak kehilangan peluang penjualan hanya karena pembeli tidak membawa uang tunai,” kata Luki. BRI juga memberikan pendampingan intensif melalui para ‘Mantri’ atau petugas lapangan untuk mengedukasi pedagang mengenai penggunaan aplikasi BRI Merchant.

Luki menambahkan bahwa transaksi digital seperti QRIS memberikan keuntungan ganda: keamanan dari uang palsu dan pencatatan keuangan yang otomatis. Hal ini sangat membantu pelaku UMKM Indonesia dalam melacak pendapatan harian mereka tanpa perlu melakukan pembukuan manual yang rumit. Tren ini terus meningkat di Cileungsi, seiring dengan semakin terbiasanya masyarakat menggunakan gawai untuk segala keperluan.

Menjaga Autentisitas di Tengah Arus Modernitas

Meskipun sudah melek teknologi pembayaran, Marjono tetap memilih jalur konservatif dalam hal pemasaran digital. Hingga kini, ia belum mendaftarkan warungnya ke platform pesan antar makanan daring seperti GoFood atau ShopeeFood. Alasan utamanya adalah kesederhanaan operasional. Marjono merasa pengelolaan aplikasi tersebut cukup rumit bagi dirinya yang lebih suka berinteraksi langsung dengan pembeli.

Menariknya, hal ini tidak menyurutkan niat pelanggan. Banyak pelanggan setia dari Bekasi hingga Jakarta tetap memesan gudegnya melalui jasa ojek online secara mandiri. Kesetiaan pelanggan ini menjadi bukti bahwa kualitas rasa tetap menjadi magnet utama, sementara teknologi pembayaran bertindak sebagai pendukung kenyamanan. Bagi Marjono, menjaga cita rasa asli gudeg Jogja adalah harga mati, sementara digitalisasi adalah jembatan untuk memudahkan langkahnya menuju masa depan yang lebih mapan.

Kisah Marjono dan Gudeg Bu Sri menjadi cerminan nyata bagaimana tradisi dan teknologi bisa berjalan beriringan. Di bawah naungan langit Cileungsi, sepiring gudeg hangat tetap menjadi penghubung rindu, kini dengan kemudahan sekali pindai kode QR yang membawa keamanan dan kepastian bagi sang pemilik usaha.

Budi Santoso

Budi Santoso

Wartawan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang berita politik dan peristiwa untuk Kilat News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *