Mengupas Gurita Saham Lo Kheng Hong: Strategi ‘Warren Buffett Indonesia’ di Balik Porsi Kepemilikan Jumbo

Kevin Wijaya | UpdateKilat
09 Mei 2026, 07:00 WIB
Mengupas Gurita Saham Lo Kheng Hong: Strategi 'Warren Buffett Indonesia' di Balik Porsi Kepemilikan Jumbo

**UpdateKilat** — Di tengah fluktuasi pasar modal yang dinamis, sosok Lo Kheng Hong tetap menjadi kiblat bagi banyak investor ritel di tanah air. Pria yang kerap dijuluki sebagai ‘Warren Buffett Indonesia’ ini kembali mencuri perhatian publik setelah data terbaru mengungkapkan besarnya porsi kepemilikannya di sejumlah emiten strategis. Dengan kesetiaan pada prinsip value investing, Lo Kheng Hong membuktikan bahwa kesabaran dan ketelitian dalam memilih saham ‘salah harga’ dapat membuahkan portofolio yang luar biasa masif.

Berdasarkan penelusuran data keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) per Mei 2026, jejak investasi sang investor kawakan ini tersebar luas di berbagai sektor, mulai dari properti, manufaktur, hingga energi. Dominasi kepemilikannya yang di atas 1 persen pada banyak perusahaan menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang tinggi terhadap fundamental emiten yang ia pilih. Mari kita bedah lebih dalam bagaimana peta kekuatan investasi saham milik sang maestro ini.

Read Also

Geliat Pasar Surat Utang Indonesia: Mengapa Kedalaman Pasar Masih Menjadi Tantangan Besar?

Geliat Pasar Surat Utang Indonesia: Mengapa Kedalaman Pasar Masih Menjadi Tantangan Besar?

Dominasi di Sektor Properti dan Media: Pilar Utama Portofolio

Salah satu pilar terkuat dalam portofolio Lo Kheng Hong saat ini adalah PT Intiland Development Tbk (DILD). Di perusahaan pengembang properti ini, ia tercatat menggenggam sekitar 716,8 juta lembar saham. Angka ini setara dengan 6,92 persen dari total kepemilikan perusahaan. Langkah ini mempertegas pandangannya bahwa sektor properti memiliki aset yang sering kali dihargai jauh di bawah nilai bukunya oleh pasar.

Tak hanya di bidang properti, Lo Kheng Hong juga menunjukkan taringnya di industri media. Ia mengoleksi saham PT Global Mediacom Tbk (BMTR) dalam jumlah yang fantastis, yakni mencapai 1,06 miliar lembar saham atau sekitar 6,43 persen. Kepemilikan besar di BMTR ini mengindikasikan bahwa ia melihat potensi jangka panjang dalam konglomerasi media, meskipun industri ini tengah menghadapi tantangan digitalisasi yang masif.

Read Also

Update Strategi UNSP: Menakar Dampak Regulasi Baru Ekspor SDA Terhadap Roda Bisnis Bakrie Sumatera Plantations

Update Strategi UNSP: Menakar Dampak Regulasi Baru Ekspor SDA Terhadap Roda Bisnis Bakrie Sumatera Plantations

Energi dan Infrastruktur: Mengincar Arus Kas yang Stabil

Kejelian Lo Kheng Hong dalam melihat peluang juga merambah ke sektor energi dan jasa pertambangan. Melalui PT ABM Investama Tbk (ABMM), ia mengamankan porsi kepemilikan sebesar 5,64 persen atau setara dengan 155,38 juta lembar saham. ABMM, yang dikenal memiliki kinerja keuangan solid dan rutin membagikan dividen, tampaknya menjadi salah satu mesin pencetak uang bagi sang investor.

Sektor manufaktur ban juga tidak luput dari pantauannya. Melalui PT Gajah Tunggal Tbk (GJLT), ia menguasai 232,79 juta lembar saham yang setara dengan 6,68 persen kepemilikan. GJLT merupakan contoh klasik saham pilihan Lo Kheng Hong: perusahaan dengan pangsa pasar besar namun sering kali diperdagangkan dengan valuasi yang relatif rendah di mata pasar modal.

Read Also

Mengintip Pesona Obligasi Korporasi: Pilihan Strategis Investor di Tengah Stagnasi Pasar Saham

Mengintip Pesona Obligasi Korporasi: Pilihan Strategis Investor di Tengah Stagnasi Pasar Saham

Agribisnis dan Ritel: Strategi Diversifikasi yang Terukur

Di sektor agribisnis, Lo Kheng Hong memiliki posisi yang cukup signifikan pada dua nama besar. Ia tercatat mengantongi 771,01 juta lembar saham PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), yang mencerminkan 4,97 persen kepemilikan. Selain itu, ia juga menanamkan modalnya di PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dengan kepemilikan 1,31 persen atau sekitar 89,04 juta lembar saham.

Sektor konsumsi dan ritel pun ikut mewarnai daftar portofolionya. PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), sang raksasa departemen store, menjadi pilihan dengan kepemilikan 201,34 juta lembar saham atau sekitar 2,84 persen. Pemilihan RALS menunjukkan ketertarikan Lo Kheng Hong pada perusahaan yang memiliki manajemen kas yang kuat dan mampu bertahan di tengah pergeseran gaya belanja masyarakat ke platform digital.

Daftar Emiten Lain dengan Kepemilikan di Atas 1 Persen

Selain deretan nama besar di atas, Lo Kheng Hong juga menyebarkan investasinya ke berbagai emiten lain dengan porsi yang tetap signifikan (di atas 1 persen). Hal ini menunjukkan bahwa ia terus mencari peluang di berbagai sudut pasar modal Indonesia. Berikut adalah beberapa daftar lainnya:

  • PT Polychem Indonesia Tbk (ADMG): Kepemilikan 1,29 persen atau 50,31 juta lembar saham.
  • PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST): Mengantongi 1,45 persen atau 139,42 juta lembar saham di sektor kawasan industri.
  • PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN): Memegang 1,9 persen saham atau setara 75,59 juta lembar di sektor pembiayaan.
  • PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN): Memiliki 1,24 persen atau 27,65 juta lembar saham di sektor pakan ternak.
  • PT Paninvest Tbk (PNIN): Tercatat memiliki 1,23 persen atau 50,19 juta lembar saham.
  • PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL): Meskipun tengah menghadapi tantangan restrukturisasi, ia masih memegang 1,02 persen atau 209,33 juta lembar saham.

Menganalisis Langkah Profit Taking: Belajar dari Kasus Saham SIMP

Salah satu momen yang sempat mengejutkan pasar adalah ketika Lo Kheng Hong memutuskan untuk melepas sebagian kecil kepemilikannya di saham SIMP pada April 2026. Dalam transaksi tersebut, ia melepas total 8,18 juta lembar saham dalam dua tahap dengan harga di kisaran Rp 920 hingga Rp 925 per saham. Nilai transaksi tersebut mencapai angka Rp 7,54 miliar.

Langkah ini dilakukan semata-mata untuk merealisasikan keuntungan (profit taking). Menariknya, meskipun telah menjual jutaan lembar, posisi kepemilikannya di SIMP tetap berada di angka 4,97 persen. Hal ini mengajarkan kepada investor ritel bahwa mengambil keuntungan adalah bagian dari strategi investasi yang sehat, asalkan dilakukan pada saat nilai saham sudah mendekati atau mencapai nilai intrinsiknya.

Berdasarkan data pasar, saham SIMP memang sempat menunjukkan performa gemilang dengan lonjakan harga hingga 42,98 persen secara year to date (ytd) sebelum akhirnya mengalami koreksi teknis. Pergerakan ini mengonfirmasi ketajaman analisis Lo Kheng Hong dalam menentukan momentum jual yang tepat.

Kesimpulan: Konsistensi Menuju Kekayaan dari Bursa

Kisah perjalanan portofolio Lo Kheng Hong memberikan pelajaran berharga bahwa kekayaan di bursa saham tidak didapatkan secara instan. Dengan strategi yang berfokus pada fundamental perusahaan, ia berhasil membangun kekayaan melalui kepemilikan mayoritas di berbagai emiten lintas industri. Bagi para pengikut setianya, daftar portofolio ini bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata dari filosofi ‘tidur dan menjadi kaya’ yang ia populerkan.

Penting bagi investor untuk selalu melakukan analisis mandiri sebelum mengikuti jejak tokoh besar. Namun, melihat konsistensi sang maestro, tidak mengherankan jika setiap gerak-geriknya selalu menjadi kompas bagi arah angin di lantai bursa. Tetaplah pantau update terbaru mengenai pergerakan emiten-emiten pilihan ini hanya di UpdateKilat.

Kevin Wijaya

Kevin Wijaya

Analis pasar modal dan praktisi investasi yang membantu menyederhanakan info finansial di Kilat Saham.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *