Langkah Strategis ATIC: Gaet Eks Bos Garuda Irfan Setiaputra Jadi Presiden Komisaris demi Akselerasi Transformasi Digital

Kevin Wijaya | UpdateKilat
08 Mei 2026, 15:04 WIB
Langkah Strategis ATIC: Gaet Eks Bos Garuda Irfan Setiaputra Jadi Presiden Komisaris demi Akselerasi Transformasi Digita

UpdateKilat — Dunia industri teknologi informasi dan komunikasi (TIK) tanah air baru saja menyaksikan sebuah pergerakan strategis yang cukup signifikan. PT Anabatic Technologies Tbk, perusahaan yang dikenal luas melalui kode saham ATIC, secara resmi mengumumkan perubahan besar dalam struktur kepemimpinannya. Melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diselenggarakan pada 7 Mei 2026, perseroan menetapkan sosok senior Irfan Setiaputra sebagai Presiden Komisaris yang baru.

Langkah ini bukan sekadar rotasi jabatan biasa. Kehadiran Irfan Setiaputra, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, membawa angin segar sekaligus ekspektasi tinggi bagi masa depan ATIC. Keputusan ini dinilai banyak pihak sebagai upaya perusahaan untuk mengintegrasikan pengalaman kepemimpinan tingkat tinggi dengan dinamika sektor transformasi digital yang tengah melaju pesat.

Read Also

ABM Investama (ABMM) Siap Guyur Dividen Rp 267,05 Miliar: Cek Jadwal Lengkap dan Analisis Pergerakan Sahamnya

ABM Investama (ABMM) Siap Guyur Dividen Rp 267,05 Miliar: Cek Jadwal Lengkap dan Analisis Pergerakan Sahamnya

Penyegaran di Jajaran Elit Manajemen ATIC

Dalam pertemuan tahunan tersebut, para pemegang saham tidak hanya memberikan lampu hijau bagi penunjukan Irfan. ATIC juga melakukan penguatan di lini pengawasan dengan mengusulkan Prasetio sebagai Komisaris Independen serta Victor Budi Tanuadji sebagai Komisaris. Kombinasi ini diharapkan mampu menciptakan mekanisme check and balance yang lebih kokoh bagi jalannya roda manajemen perusahaan.

Tidak hanya di kursi komisaris, perubahan juga merambah ke jajaran direksi. Perseroan secara resmi menerima pengunduran diri Hideaki Ohaishi dan Rieko Kawaguchi dari posisi direksi. Sebagai gantinya, Jonathan Budi Tanuadji diperkenalkan untuk mengisi kekosongan tersebut. Perubahan struktur ini mencerminkan keinginan perusahaan untuk melakukan regenerasi sekaligus adaptasi terhadap tantangan pasar yang semakin kompleks dan menuntut kecepatan dalam pengambilan keputusan.

Read Also

Transformasi Bank BJB: Susi Pudjiastuti Resmi Nakhodai Dewan Komisaris, Siap Bawa Angin Segar di Industri Perbankan

Transformasi Bank BJB: Susi Pudjiastuti Resmi Nakhodai Dewan Komisaris, Siap Bawa Angin Segar di Industri Perbankan

Mengapa Irfan Setiaputra? Mengenal Sosok Sang Presiden Komisaris

Penunjukan Irfan Setiaputra tentu bukan tanpa alasan yang kuat. Selama memimpin maskapai pelat merah Garuda Indonesia pada periode 2020-2024, Irfan dikenal sebagai pemimpin yang tahan banting. Ia berhasil membawa perusahaan melalui badai pandemi COVID-19 yang melumpuhkan industri penerbangan global, serta menavigasi proses restrukturisasi utang yang sangat rumit.

Pengalamannya dalam mengelola perusahaan besar di industri yang sangat terikat aturan ketat (highly regulated) menjadi modal berharga bagi ATIC. Di era di mana investasi teknologi melibatkan banyak regulasi mengenai privasi data dan kedaulatan digital, perspektif strategis Irfan diharapkan mampu memandu ATIC dalam menghadapi lanskap hukum dan persaingan bisnis yang dinamis. Perseroan meyakini bahwa sentuhan kepemimpinan Irfan akan memberikan arah baru dalam menangkap peluang-peluang besar di masa depan.

Read Also

Agenda Penting Berubah, Telkom Indonesia Resmi Batalkan RUPSLB April 2026

Agenda Penting Berubah, Telkom Indonesia Resmi Batalkan RUPSLB April 2026

Kinerja Keuangan yang Solid sebagai Fondasi Ekspansi

Kepemimpinan baru ini masuk pada saat yang sangat tepat, di mana kondisi kesehatan finansial ATIC sedang berada dalam tren yang sangat positif. Berdasarkan data yang dirilis, sepanjang tahun fiskal 2025, Anabatic Technologies berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 13,2 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan ini merupakan buah manis dari strategi efisiensi operasional yang dijalankan secara konsisten oleh manajemen.

Jika kita menilik lebih dalam pada kinerja keuangan perusahaan, terlihat adanya peningkatan kualitas profitabilitas yang cukup impresif. Margin laba bruto tercatat naik ke angka 13,6 persen, sementara margin laba bersih mencapai 3,9 persen. Yang paling mencolok adalah lonjakan ekuitas perseroan yang tumbuh signifikan sebesar 33,3 persen secara tahunan. Angka-angka ini menjadi fondasi yang kuat bagi Irfan Setiaputra dan jajaran direksi untuk melakukan ekspansi bisnis yang lebih agresif tanpa harus khawatir dengan stabilitas internal.

Diversifikasi Portofolio dan Serangan Inovasi AI

Di bawah komando baru ini, ATIC tampaknya tidak akan mengendurkan ambisinya di sektor teknologi. Perusahaan terus mendorong diversifikasi portofolio produk dan layanan bernilai tambah. Fokus utamanya kini tertuju pada dua pilar besar: Data Modernization dan AI Digital Contact Center. Dua sektor ini dianggap sebagai “tambang emas” baru dalam dunia bisnis modern.

Pada segmen Cloud & Digital Platform Partner (CDPP), ATIC menunjukkan agresivitasnya dengan menambahkan 26 produk baru sepanjang tahun 2025. Tidak hanya menjadi distributor, mereka juga mulai meluncurkan produk berbasis Intellectual Property (IP) sendiri. Hal ini menandakan pergeseran ATIC dari sekadar perusahaan jasa menjadi perusahaan pencipta teknologi.

Sementara itu, di segmen Digital Enriched Outsourcing Services (DEOS), integrasi teknologi kecerdasan buatan atau AI menjadi jantung pengembangan layanan. Dengan memanfaatkan AI, ATIC mampu menawarkan solusi layanan pelanggan yang lebih cerdas, efisien, dan memiliki skalabilitas tinggi. Penggunaan AI ini diharapkan dapat mendongkrak margin keuntungan perusahaan di masa mendatang karena mampu menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan kepuasan klien.

Menatap Masa Depan Industri TIK Nasional senilai 46 Miliar Dolar

Visi besar ATIC selaras dengan proyeksi pertumbuhan industri TIK di Indonesia yang sangat menggiurkan. Diperkirakan pada tahun 2025, nilai pasar TIK nasional akan menyentuh angka 46 miliar dolar Amerika Serikat. Dengan potensi pertumbuhan tahunan rata-rata (CAGR) sebesar 8 hingga 10 persen hingga tahun 2030, pasar Indonesia adalah salah satu yang paling prospektif di Asia Tenggara.

Harry Surjanto Hambali, Presiden Direktur PT Anabatic Technologies Tbk, dalam pernyataan resminya menegaskan bahwa perubahan pengurus ini adalah bagian dari komitmen jangka panjang. “Kami ingin memastikan kepemimpinan ATIC berada dalam posisi yang tepat untuk menangkap peluang emas ini,” ujarnya. Dengan struktur kepemimpinan yang lebih matang dan dukungan finansial yang kuat, ATIC optimis dapat memperkokoh posisinya bukan hanya sebagai pemain lokal, tetapi juga sebagai mitra transformasi digital yang diperhitungkan di tingkat regional.

Kesimpulan

Kehadiran Irfan Setiaputra di jajaran komisaris ATIC menandai babak baru bagi perusahaan dalam menavigasi industri teknologi yang penuh turbulensi. Penunjukan ini bukan sekadar soal nama besar, melainkan tentang penggabungan keahlian manajemen korporasi skala besar dengan inovasi teknologi terdepan. Bagi para investor dan pemangku kepentingan, langkah ini memberikan sinyal positif bahwa ATIC siap untuk berlari lebih kencang di tengah ekonomi digital yang terus berkembang.

Dengan fundamental yang kokoh, fokus pada teknologi masa depan seperti AI dan Cloud, serta pengawasan dari sosok bertangan dingin seperti Irfan, Anabatic Technologies tampak sangat siap menghadapi tantangan tahun 2026 dan seterusnya. Publik kini menantikan langkah-langkah strategis apa yang akan diambil oleh dewan komisaris baru ini untuk membawa ATIC mencapai level tertinggi dalam industri TIK global.

Kevin Wijaya

Kevin Wijaya

Analis pasar modal dan praktisi investasi yang membantu menyederhanakan info finansial di Kilat Saham.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *