IHSG Hari Ini 8 Mei 2026: Terkoreksi Tajam di Tengah Memanasnya Konflik Global dan Tekanan Sektor Energi

Kevin Wijaya | UpdateKilat
08 Mei 2026, 10:57 WIB
IHSG Hari Ini 8 Mei 2026: Terkoreksi Tajam di Tengah Memanasnya Konflik Global dan Tekanan Sektor Energi

UpdateKilat — Panggung pasar modal Indonesia kembali menunjukkan wajah fluktuatifnya pada penutupan sesi perdagangan menjelang akhir pekan, Jumat (8/5/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat memberikan harapan di awal pembukaan, justru harus tergelincir ke zona merah seiring dengan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan pelemahan mayoritas bursa di kawasan Asia Pasifik.

Pergerakan indeks hari ini layaknya roller coaster bagi para pelaku pasar. Setelah dibuka dengan optimisme tipis, tekanan jual yang masif mulai terasa ketika berita mengenai eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Hal ini memicu kekhawatiran global akan rantai pasok energi dan stabilitas ekonomi dunia, yang secara langsung berdampak pada psikologis investor di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Read Also

Manuver Strategis PTRO: Petrosea Sepakati Pelepasan Hampir Seluruh Saham KMS ke Singaraja Putra (SINI)

Manuver Strategis PTRO: Petrosea Sepakati Pelepasan Hampir Seluruh Saham KMS ke Singaraja Putra (SINI)

Rapor Merah IHSG di Tengah Sentimen Global

Berdasarkan data yang dihimpun oleh tim redaksi dari RTI Business, IHSG sebenarnya sempat mengawali hari dengan langkah tegap, naik 8,64 poin ke level 7.182,96. Namun, euforia tersebut hanya bertahan sekejap. Pada pukul 09.32 WIB, indeks langsung menukik tajam, terkoreksi 0,76% ke posisi 7.119. Tak hanya indeks utama, indeks LQ45 yang menjadi barometer saham-saham blue chip juga ikut terpangkas 0,78% ke level 688.

Sepanjang sesi pertama, rentang gerak IHSG berada di antara level tertinggi 7.186,83 hingga menyentuh titik terendah di 7.116,77. Kondisi pasar terlihat sangat timpang dengan 417 saham yang berguguran, sementara hanya 174 saham yang mampu bertahan di zona hijau, dan 145 saham lainnya memilih untuk stagnan. Dominasi warna merah ini mencerminkan sikap hati-hati para pemodal dalam menempatkan dana mereka di instrumen berisiko tinggi saat kondisi makroekonomi sedang tidak menentu.

Read Also

Proyeksi IHSG 15 April 2026: Menakar Peluang Bullish dan Strategi Profit di Tengah Optimisme Pasar

Proyeksi IHSG 15 April 2026: Menakar Peluang Bullish dan Strategi Profit di Tengah Optimisme Pasar

Tekanan Mata Uang dan Volume Perdagangan

Salah satu faktor yang juga memberatkan langkah IHSG adalah posisi nilai tukar rupiah yang masih tertekan. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah hari ini bertengger di kisaran Rp 17.357. Pelemahan mata uang Garuda ini tentu menjadi beban tambahan bagi emiten yang memiliki ketergantungan besar pada bahan baku impor atau memiliki utang dalam denominasi valuta asing.

Meski pasar cenderung lesu, intensitas perdagangan tetap tergolong tinggi. Tercatat frekuensi transaksi mencapai 680.880 kali dengan volume saham yang berpindah tangan sebanyak 11,8 miliar lembar saham. Total nilai transaksi harian yang dibukukan mencapai Rp 4,9 triliun, sebuah angka yang menunjukkan bahwa likuiditas pasar masih cukup terjaga di tengah aksi profit taking massal.

Read Also

Ekspansi Agresif dan Transformasi Digital, BNI Amankan Laba Rp 5,6 Triliun pada Kuartal I 2026

Ekspansi Agresif dan Transformasi Digital, BNI Amankan Laba Rp 5,6 Triliun pada Kuartal I 2026

Analisis Sektoral: Infrastruktur dan Kesehatan Menjadi Oase

Hampir seluruh sektor saham hari ini terpaksa menyerah pada keadaan. Sektor industri menjadi yang paling menderita dengan koreksi sedalam 1,31%, disusul oleh sektor properti yang terpangkas 1,19%. Sektor basic materials dan transportasi juga tidak luput dari aksi jual dengan masing-masing melemah 1,14%. Bahkan sektor energi yang biasanya diuntungkan oleh isu konflik global, kali ini justru merosot 0,74%.

Sektor keuangan, yang memiliki bobot besar terhadap pergerakan indeks, ikut turun 0,32%. Hal ini menandakan bahwa investor institusi mulai melakukan penyesuaian portofolio pada saham-saham perbankan besar. Namun, di tengah lautan warna merah tersebut, sektor kesehatan dan infrastruktur tampil sebagai penyelamat. Sektor kesehatan melonjak 1,28%, sementara sektor infrastruktur melesat tajam 1,84%, memberikan sedikit nafas bagi IHSG agar tidak jatuh lebih dalam.

Sorotan Emiten: Kejutan MORA dan Pelemahan Saham Bakrie Group

Di level individual emiten, saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) menjadi bintang lapangan hari ini. Harga saham MORA melonjak signifikan hingga 20% ke level Rp 7.500 per saham. Kenaikan fantastis ini terjadi meski pasar secara umum sedang mengalami tekanan hebat. Sebaliknya, saham-saham dari kelompok Bakrie menunjukkan performa yang kontras. Saham BUMI terpantau stagnan di harga Rp 230, sementara BNBR harus rela terkoreksi 4,85% ke posisi Rp 196.

Emiten perbankan plat merah seperti PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) juga tak kuasa menahan arus pelemahan. BBNI turun tipis 0,50% ke level Rp 3.960. Aktivitas perdagangan saham perbankan hari ini memang didominasi oleh pergerakan investor asing yang cenderung melakukan rebalancing menjelang rilis data ekonomi penting di pekan mendatang.

Daftar Top Gainers dan Losers Hari Ini

Berikut adalah rincian saham-saham yang berhasil mencatatkan kenaikan tertinggi (top gainers) di tengah badai koreksi IHSG:

  • Saham MEDS: Melonjak 26,44%
  • Saham KAEF: Menguat 20,59%
  • Saham HALO: Naik 20,99%
  • Saham MORA: Melejit 20%
  • Saham PEHA: Bertambah 14,77%

Sementara itu, deretan saham yang harus merasakan pil pahit koreksi terdalam (top losers) antara lain:

  • Saham ESIP: Merosot 14,09%
  • Saham ABDA: Turun 11,90%
  • Saham ASPR: Terpangkas 11,90%
  • Saham ALKA: Susut 11,64%
  • Saham SHIP: Melemah 11,22%

Saham Paling Aktif: BMRI dan BBCA Masih Mendominasi

Dari sisi nilai transaksi, saham-saham perbankan besar tetap menjadi primadona para trader dan investor jangka panjang. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatatkan nilai transaksi tertinggi sebesar Rp 371,4 miliar. Menyusul di belakangnya adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai transaksi Rp 316,8 miliar, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp 313,2 miliar.

Sedangkan dari sisi frekuensi perdagangan, saham ASPR menjadi yang paling banyak diperjualbelikan dengan catatan 44.118 kali transaksi. Tingginya frekuensi pada saham lapis kedua ini menunjukkan adanya spekulasi yang cukup tinggi di kalangan trader ritel yang mencoba mencari celah keuntungan di tengah volatilitas pasar yang ekstrem.

Proyeksi Pasar Menjelang Penutupan Pekan

Menutup analisis hari ini, para analis melihat bahwa IHSG masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah (bearish). Sentimen dari luar negeri, khususnya perkembangan konflik AS-Iran, akan tetap menjadi faktor penentu arah pasar di hari-hari mendatang. Investor disarankan untuk tetap waspada dan tidak terburu-buru melakukan aksi beli dalam jumlah besar (buy on dip) sebelum ada sinyal pembalikan arah yang jelas.

Penting bagi para pelaku pasar untuk terus memantau pergerakan harga komoditas dunia dan rilis laporan keuangan emiten kuartal terbaru untuk menemukan peluang di tengah sempitnya ruang gerak indeks. Manajemen risiko yang ketat menjadi kunci utama untuk bertahan di pasar saham yang sedang bergejolak seperti saat ini.

Kevin Wijaya

Kevin Wijaya

Analis pasar modal dan praktisi investasi yang membantu menyederhanakan info finansial di Kilat Saham.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *