Kisah Inspiratif Mbah Mardijiyono: Jemaah Haji Tertua Indonesia Usia 103 Tahun yang Menaklukkan Jarak dan Waktu demi Baitullah
UpdateKilat — Perjalanan spiritual menuju Tanah Suci seringkali dianggap sebagai ujian fisik yang luar biasa berat, bahkan bagi mereka yang masih berada di usia produktif. Namun, sebuah pemandangan mengharukan sekaligus membanggakan tersaji di Madinah, ketika seorang pria lanjut usia dengan langkah mantap membuktikan bahwa panggilan Tuhan tidak mengenal batas usia. Beliau adalah Mardijiyono Karto Sentono, jemaah haji asal Indonesia yang saat ini tercatat sebagai jemaah tertua dengan usia mencapai 103 tahun.
Lahir di masa yang jauh berbeda dengan zaman modern saat ini, warga Karanganom, Desa Sitimulyo, Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta ini akhirnya menginjakkan kaki di tanah para nabi. Kehadirannya di Arab Saudi bukan sekadar angka statistik dalam manifest penerbangan, melainkan simbol keteguhan niat yang melampaui logika keterbatasan fisik manusia. Di usia yang telah melewati satu abad, Mbah Mardijiyono menunjukkan bahwa semangat yang menyala mampu mengalahkan rasa lelah dalam perjalanan udara ribuan kilometer.
Menjemput Keberkahan di Penghujung Syawal: Panduan Doa dan Amalan Agar Ibadah Tak Sekadar Singgah
Keteguhan Fisik di Usia Melampaui Satu Abad
Banyak orang mungkin membayangkan sosok berusia 103 tahun sebagai pribadi yang hanya bisa terbaring lemah, namun Mbah Mardijiyono mematahkan stigma tersebut. Sejak tiba di Madinah pada Minggu, 3 Mei 2026, ia menunjukkan kemandirian yang mengagumkan. Meskipun tetap mendapatkan pengawasan dari petugas haji Indonesia, Mbah Mardijiyono masih mampu menjalani aktivitas harian secara mandiri.
Untuk urusan mandi dan keperluan pribadi lainnya, ia melakukannya sendiri dengan bantuan kruk atau tongkat penyangga. Langkah kakinya mungkin melambat, namun tujuannya sangat jelas: bersujud di hadapan Sang Pencipta. Saat waktu salat tiba, ia melaksanakannya dengan penuh khusyuk. Meskipun harus dilakukan sambil duduk karena faktor sendi yang tak lagi muda, raut wajahnya tetap memancarkan kesegaran dan ketenangan yang luar biasa. Tidak tampak gurat kelelahan yang berarti di wajahnya, padahal ia baru saja menempuh perjalanan panjang dari Bandara Internasional Yogyakarta menuju Madinah.
Menggapai Berkah di Fajar Shadiq: Panduan Lengkap dan Rahasia Keutamaan Sholat Sunnah Sebelum Subuh
Rahasia Kebugaran: Hati yang Ringan dan Selalu Gembira
Tentu banyak yang bertanya-tanya, apa rahasia di balik umur panjang dan kebugaran Mbah Mardijiyono? Saat ditemui oleh tim media di pemondokannya di Madinah, ia dengan ramah berbagi filosofi hidup yang selama ini ia pegang teguh. Ternyata, kuncinya bukan pada ramuan obat-obatan mahal, melainkan pada pengelolaan hati.
“Kuncinya selalu merasa gembira. Apa pun yang terjadi dalam hidup, dihadapi dengan hati yang senang,” ujar Mardijiyono dengan suara yang masih terdengar jelas dan mantap. Dalam budaya Jawa, prinsip ini sering dikaitkan dengan konsep ‘nrimo ing pandum’, namun ditingkatkan menjadi sebuah optimisme yang aktif. Ia percaya bahwa beban pikiran adalah akar dari segala penyakit. Dengan menjaga hati agar tetap ringan, tubuh pun akan mengikuti ritme kesehatan yang positif. Tips kesehatan lansia versi Mbah Mardijiyono ini menjadi pengingat bagi jemaah lain yang jauh lebih muda agar tidak terlalu stres dalam menghadapi kendala selama ibadah.
Menyelami Makna Doa Qunut Subuh: Panduan Bacaan Lengkap dan Keutamaannya dalam Ibadah
Ziarah Tanpa Sang Pendamping Setia
Di balik senyumnya yang tulus, tersimpan sebuah kisah perjuangan yang menyentuh hati. Keberangkatan haji ini sebenarnya merupakan impian yang ia susun bersama sang istri tercinta. Mereka telah lama menabung dan merencanakan perjalanan suci ini sebagai puncak pengabdian mereka kepada Allah SWT. Namun, takdir memiliki skenario yang berbeda. Sebelum sempat mencium bau tanah suci bersama, sang istri telah lebih dulu dipanggil kembali ke pangkuan Sang Khalik.
Kepergian pasangan hidup tentu menjadi pukulan berat, namun hal itu tidak meruntuhkan niat Mbah Mardijiyono. Ayah dari delapan anak ini memutuskan untuk tetap berangkat seorang diri. Ia membawa serta kenangan dan doa-doa titipan almarhumah istrinya. Baginya, menunaikan haji adalah janji yang harus ditepati, meski kini ia harus melangkah tanpa tangan sang istri yang biasanya menggandengnya. Dukungan dari delapan anaknya menjadi suplemen semangat tambahan bagi Mbah Mardijiyono untuk menyelesaikan seluruh rangkaian rukun Islam kelima ini.
Komitmen Pemerintah dalam Layanan Haji Ramah Lansia
Kisah Mbah Mardijiyono juga menjadi potret keberhasilan program Haji Ramah Lansia yang dicanangkan oleh Kementerian Agama. Mengingat usianya yang sangat lanjut, penyelenggara haji memberikan perhatian ekstra tanpa mengurangi kemandirian sang jemaah. Petugas dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) serta petugas kesehatan daerah terus memantau kondisinya secara berkala.
Kepala Daerah Kerja (Daker) Madinah, Khalilurrahman, mengungkapkan rasa haru sekaligus kekagumannya saat menyambut kehadiran Mbah Mardijiyono. Menurutnya, Mbah Mardijiyono adalah bukti nyata bahwa jika Allah sudah memanggil seorang hamba ke rumah-Nya, maka tidak ada rintangan yang mustahil untuk dilewati.
“Di usia yang sangat lanjut, semangat beliau menjadi contoh nyata keteguhan niat seorang hamba. Ini adalah inspirasi bagi kita semua, terutama bagi petugas untuk memberikan pelayanan terbaik,” ungkap Khalilurrahman. Beliau juga menegaskan bahwa seluruh petugas haji telah diinstruksikan untuk memberikan pendampingan yang humanis, memastikan jemaah seperti Mbah Mardijiyono dapat beribadah dengan lancar, aman, dan nyaman hingga kembali ke tanah air dengan predikat haji yang mabrur.
Menapaki Impian di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram
Kini, Mbah Mardijiyono tengah menikmati hari-harinya di Madinah, kota Nabi yang penuh ketenangan. Impian lamanya untuk bisa bersujud di Masjid Nabawi telah menjadi kenyataan. Setelah menyelesaikan masa arbain di Madinah, ia dijadwalkan akan bergerak menuju Mekkah untuk melaksanakan ibadah umrah wajib dan puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Perjalanan dari sebuah desa kecil di Piyungan, Bantul, menuju pusat peradaban Islam di Arab Saudi adalah sebuah narasi tentang harapan. Di antara ribuan jemaah yang berlalu-lalang di pelataran masjid, sosok Mbah Mardijiyono dengan kruknya menjadi pengingat bagi setiap mata yang memandang: bahwa fisik boleh menua, tulang boleh merapuh, namun jika jiwa sudah terpaut pada Sang Pencipta, maka energi yang dihasilkan akan melampaui batas-batas kemanusiaan.
Kisah ini bukan sekadar berita tentang jemaah tertua, melainkan sebuah pesan universal tentang ketulusan. Mbah Mardijiyono mengajarkan kepada kita bahwa kebahagiaan hati adalah kunci utama dalam menjalani ujian hidup yang paling berat sekalipun. Semoga semangatnya menular kepada seluruh jemaah Indonesia yang tengah berjuang meraih rida Allah di Tanah Suci.