Badai di Bursa: 10 Saham Paling Terkoreksi Saat IHSG Anjlok di Akhir April 2026
UpdateKilat — Pekan perdagangan yang berlangsung pada 20 hingga 24 April 2026 menjadi periode yang cukup kelam bagi para pelaku pasar modal di Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau mengalami tekanan hebat yang menyeretnya ke zona merah dengan depresiasi yang cukup signifikan. Di tengah hiruk-pikuk koreksi pasar tersebut, tercatat sepuluh emiten yang harus menelan pil pahit sebagai jajaran saham dengan penurunan terdalam atau yang dikenal dengan sebutan top losers.
Berdasarkan data resmi dari Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dihimpun tim redaksi, IHSG selama sepekan tersebut merosot tajam sebesar 6,61 persen. Indeks menutup pekan di level 7.129,49, sebuah angka yang cukup kontras jika dibandingkan dengan posisi pekan sebelumnya. Pergerakan pasar terlihat sangat volatil, di mana indeks sempat menyentuh level tertinggi di 7.692,14 sebelum akhirnya terhempas ke titik terendahnya di 7.115,97. Fenomena ini memicu kekhawatiran di kalangan investor saham yang mulai melakukan kalkulasi ulang terhadap portofolio mereka.
Kinerja Keuangan RALS Kuartal I 2026: Strategi Ramayana Menghadapi Kontraksi Pendapatan dan Dinamika Pasar Ritel
Guncangan Sektoral dan Eksodus Modal Asing
Pelemahan IHSG tidak terjadi tanpa alasan. Hampir seluruh sektor saham mengalami tekanan jual yang masif. Sektor teknologi menjadi salah satu yang paling terdampak dengan penurunan mencapai 5,09 persen, disusul oleh sektor infrastruktur yang terpangkas hingga 5,57 persen. Sektor-sektor penyokong ekonomi lainnya seperti basic material, industri, dan konsumer nonsiklikal juga tak luput dari tren negatif, masing-masing melemah di kisaran 3 hingga 4 persen. Satu-satunya anomali positif hanya terlihat pada sektor transportasi dan logistik yang justru berhasil tumbuh 4,61 persen di tengah badai.
Kondisi ini diperparah dengan aksi lepas saham oleh investor asing. Sepanjang pekan tersebut, tercatat nilai jual bersih (net sell) asing mencapai Rp 2,95 triliun. Angka ini meningkat jika dibandingkan pekan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 2,71 triliun. Secara akumulatif sepanjang tahun 2026, arus modal keluar dari investor mancanegara telah menembus angka Rp 42,80 triliun, mencerminkan sikap kehati-hatian global terhadap pasar keuangan domestik.
IHSG Meroket di Tengah Redupnya Ketegangan Global, Namun 10 Saham Ini Justru Terperosok
Menelisik 10 Saham ‘Top Losers’ Sepekan
Dalam daftar sepuluh saham yang mengalami penurunan paling drastis, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) berada di urutan teratas. Saham ini mengalami koreksi yang sangat tajam sebesar 37,85 persen, terjun bebas ke harga Rp 2.020 per lembar saham dari harga pekan sebelumnya yang masih bertengger di Rp 3.250. Penurunan ini memberikan pukulan telak bagi kapitalisasi pasar emiten tersebut.
Tak jauh berbeda, PT Ifishdeco Tbk (IFSH) juga mencatatkan kinerja yang mengecewakan dengan penurunan 32,79 persen, berakhir di level Rp 2.020 per saham. Sementara itu, saham emiten energi terbarukan yang sempat populer, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), harus rela terkoreksi 30,26 persen menjadi Rp 4.620 per saham.
Wall Street Cetak Rekor Bersejarah: Ledakan Data Pekerjaan AS dan Ketegangan Geopolitik Global
Berikut adalah rincian lengkap 10 saham top losers pada periode 20-24 April 2026:
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA): Anjlok 37,85% ke level Rp 2.020 per saham.
- PT Ifishdeco Tbk (IFSH): Terperosok 32,79% ke posisi Rp 2.020 per saham.
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN): Merosot 30,26% menuju harga Rp 4.620 per saham.
- PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE): Turun 28,36% ke level Rp 1.705 per saham.
- PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN): Melemah 19,57% ke angka Rp 1.130 per saham.
- PT Multipolar Technology Tbk (MLPT): Terkoreksi 18,97% ke harga Rp 23.500 per saham.
- PT Red Planet Indonesia Tbk (PSKT): Turun 18,88% menjadi Rp 232 per saham.
- PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk (GMTD): Merosot 18,11% ke posisi Rp 1.560 per saham.
- PT MD Entertainment Tbk (FILM): Melemah 17,95% ke level Rp 2.240 per saham.
- PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS): Terpangkas 17,93% ke angka Rp 1.030 per saham.
Analisis Pakar: Kombinasi Faktor Domestik dan Global
Menganalisis fenomena anjloknya indeks ini, Herditya Wicaksana selaku analis dari PT MNC Sekuritas memberikan pandangannya. Menurutnya, penurunan agresif IHSG sebesar 6,61 persen ini didorong oleh kombinasi tekanan jual besar dan rilis data makroekonomi yang kurang menggembirakan. Salah satu faktor kunci adalah kebijakan suku bunga. Meskipun BI Rate bertahan di level 4,75 persen dan suku bunga China juga stabil, pasar tampaknya mengharapkan stimulus yang lebih agresif yang belum kunjung datang.
“Ada sentimen dari pasar komoditas dunia, di mana harga minyak mentah kembali merangkak naik. Ini secara otomatis memicu kekhawatiran mengenai inflasi yang mungkin kembali melonjak dan berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi global di masa depan,” ungkap Herditya. Kekhawatiran ini membuat sentimen pasar menjadi cenderung defensif dan menghindari aset-aset berisiko tinggi.
Tekanan Rupiah dan Risiko Fiskal
Faktor lain yang tak kalah krusial adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Selama sepekan perdagangan tersebut, rupiah sempat menyentuh area Rp 17.300 per dolar AS. Level ini dianggap sebagai zona waspada karena dapat membebani APBN dan meningkatkan risiko fiskal negara, terutama terkait dengan pembayaran utang luar negeri dan subsidi energi.
Di sisi operasional bursa, meskipun rata-rata nilai transaksi harian merosot 3,67 persen menjadi Rp 19,61 triliun, terjadi peningkatan pada rata-rata volume transaksi harian sebesar 4,44 persen menjadi 44,88 miliar saham. Hal ini mengindikasikan adanya aktivitas perdagangan yang sangat aktif namun didominasi oleh tekanan jual, di mana para pemegang saham berupaya melakukan likuidasi di tengah ketidakpastian pasar.
Meskipun situasi tampak suram, para ahli tetap menyarankan agar investor tidak terjebak dalam aksi panic selling yang berlebihan. Melakukan analisis fundamental secara mendalam terhadap emiten-emiten yang memiliki kinerja solid namun ikut terseret pelemahan pasar bisa menjadi strategi untuk menemukan peluang di tengah koreksi. Transparansi data dari Bursa Efek Indonesia diharapkan tetap menjadi panduan utama bagi pelaku pasar dalam mengambil keputusan investasi di masa mendatang.
Ke depannya, pelaku pasar akan terus memantau perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah, meskipun laporan terakhir menunjukkan adanya indikasi gencatan senjata yang sempat meredakan ketegangan. Namun, selama volatilitas nilai tukar dan harga komoditas masih tinggi, IHSG diprediksi masih akan mencari titik kesetimbangan baru sebelum kembali ke jalur bullish-nya.