Harga Polypropylene Melejit Akibat Tensi Global, YPAS Siapkan Manuver Penyesuaian Harga Jual

Kevin Wijaya | UpdateKilat
17 Apr 2026, 06:56 WIB
Harga Polypropylene Melejit Akibat Tensi Global, YPAS Siapkan Manuver Penyesuaian Harga Jual

UpdateKilat — Gejolak geopolitik yang tengah memanas di kawasan Timur Tengah kini mulai merembet ke sektor riil, khususnya pada industri manufaktur berbasis petrokimia di tanah air. Bayang-bayang konflik yang melibatkan Iran serta potensi gangguan di Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, yang secara langsung menyeret kenaikan harga Polypropylene (PP)—komoditas krusial bagi ekosistem industri plastik.

Merespons situasi tersebut, PT Yanaprima Hastapersada Tbk (YPAS) bersiap mengambil langkah strategis. Manajemen mengakui bahwa tekanan biaya produksi kini berada di titik yang cukup menantang. Harga bahan baku plastik jenis Polypropylene tidak hanya mengalami kenaikan harga yang signifikan, tetapi juga mulai menunjukkan gejala kelangkaan di pasar global.

Read Also

Strategi Avia Avian (AVIA) Perkuat Loyalitas Investor Lewat Dividen Jumbo Rp 1,36 Triliun

Strategi Avia Avian (AVIA) Perkuat Loyalitas Investor Lewat Dividen Jumbo Rp 1,36 Triliun

Strategi Penyesuaian Harga di Tengah Krisis

Marketing Manager YPAS, Bernard Tjandradjaja, mengungkapkan bahwa kondisi pasar saat ini memaksa perusahaan untuk lebih responsif terhadap dinamika harga. Menurutnya, tendensi konflik di Timur Tengah telah menciptakan efek domino yang membuat ketersediaan Polypropylene menjadi sangat terbatas dengan banderol harga yang melambung tinggi.

“Langkah paling realistis yang akan diambil perseroan adalah melakukan penyesuaian harga jual produk guna mengimbangi lonjakan harga bahan baku. Ini penting untuk menjaga stabilitas margin usaha kami,” tutur Bernard dalam agenda Public Expose baru-baru ini.

Kendati demikian, YPAS tidak akan mengambil kebijakan sepihak. Strategi negosiasi dan komunikasi intensif dengan para pelanggan tetap menjadi prioritas utama. Mengingat industri kemasan merupakan bagian vital dari operasional berbagai sektor bisnis, perusahaan optimis pelanggan akan memahami urgensi penyesuaian harga ini demi menjaga keberlangsungan pasokan produk.

Read Also

Aksi Borong Saham PTRO: Melejit 16,11% Berkat Efek Proyek Masela dan Kinerja Solid

Aksi Borong Saham PTRO: Melejit 16,11% Berkat Efek Proyek Masela dan Kinerja Solid

Laba Bersih 2025: Buah dari Efisiensi dan Fokus Strategis

Di balik tantangan harga bahan baku tahun ini, YPAS sebenarnya memiliki modal kuat dari performa tahun lalu. Berdasarkan laporan kinerja terbaru, emiten dengan kode saham YPAS ini sukses membukukan laba bersih sebesar Rp 5,5 miliar pada tahun 2025. Angka tersebut melesat hingga 220% melampaui target yang telah dicanangkan sebelumnya.

Direktur Keuangan YPAS, Rinawati Dinata, menjelaskan bahwa raihan positif ini merupakan hasil dari langkah efisiensi yang ketat serta pergeseran fokus penjualan ke pasar yang lebih menguntungkan. Perseroan mulai aktif merambah segmen high value, khususnya pada fasilitas kemasan food grade yang memiliki standar kualitas tinggi.

“Kami lebih selektif dalam memilih pasar dan menetapkan harga jual. Strategi ini terbukti efektif menjaga profitabilitas meskipun secara volume produksi terdapat dinamika tertentu,” jelas Rinawati.

Read Also

Langkah Strategis PT PP: Perpanjang Napas Finansial Lewat Penyesuaian Jatuh Tempo Obligasi dan Sukuk ke 2027

Langkah Strategis PT PP: Perpanjang Napas Finansial Lewat Penyesuaian Jatuh Tempo Obligasi dan Sukuk ke 2027

Pertumbuhan Segmen Ekspor dan Food Grade

Secara rinci, performa penjualan perseroan sepanjang 2025 mencapai Rp 362,4 miliar, atau tumbuh sekitar 5,4% secara tahunan. Menariknya, segmen produk roasted dan sandwich mencatat lonjakan yang sangat masif, yakni sebesar 147% seiring dengan ekspansi ke pasar luar negeri.

Sementara itu, sektor karung plastik masih memberikan kontribusi positif dengan pertumbuhan 13,5%. Meski penjualan kantong semen mengalami penurunan sekitar 21,2% akibat pelemahan permintaan domestik, YPAS berhasil menyeimbangkan neraca keuangannya melalui efisiensi biaya operasional dan optimalisasi margin kotor yang naik 1,7%.

Kini, dengan tantangan ekonomi global yang kembali bergejolak di tahun 2026, YPAS terus memperkuat fundamentalnya melalui pendekatan kolaboratif dengan mitra bisnis serta inovasi produk yang memiliki nilai tambah tinggi untuk mempertahankan momentum pertumbuhan yang telah diraih.

Kevin Wijaya

Kevin Wijaya

Analis pasar modal dan praktisi investasi yang membantu menyederhanakan info finansial di Kilat Saham.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *