Diplomasi Hangat Megawati dan Dubes Jerman: Dari Nostalgia ‘Uncle’ Hingga Strategi Hadapi Krisis Global

Budi Santoso | UpdateKilat
17 Apr 2026, 20:55 WIB
Diplomasi Hangat Megawati dan Dubes Jerman: Dari Nostalgia 'Uncle' Hingga Strategi Hadapi Krisis Global

UpdateKilat — Kediaman Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, di kawasan Menteng, Jakarta, menjadi saksi bisu sebuah diskusi diplomasi yang mendalam pada Jumat (17/4/2026). Megawati menerima kunjungan hangat dari Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, guna membedah berbagai isu strategis, mulai dari ketegangan geopolitik hingga refleksi sejarah panjang bangsa.

Benang Merah Geopolitik dan Semangat Bandung

Pertemuan yang berlangsung dalam suasana akrab tersebut menyoroti kondisi geopolitik terkini, khususnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Sekretaris Jenderal DPP PDIP, Hasto Kristiyanto, yang turut mendampingi dalam pertemuan tersebut, mengungkapkan bahwa diskusi ini juga bertepatan dengan momentum peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) yang jatuh pada esok hari.

Read Also

Langkah Tegas BGN: Ratusan Dapur Program Makan Bergizi Gratis Disuspensi Demi Keamanan Pangan

Langkah Tegas BGN: Ratusan Dapur Program Makan Bergizi Gratis Disuspensi Demi Keamanan Pangan

Dubes Ralf Beste berbagi ceritanya saat mengunjungi Bandung dan Museum KAA untuk mengenal lebih dalam identitas Indonesia. Ketertarikan Dubes Jerman terhadap sejarah Indonesia ini disambut antusias oleh Megawati, yang kemudian membagikan potongan memori masa mudanya yang luar biasa.

Kisah Delegasi Termuda dan Panggilan ‘Uncle’

Mendengar penyebutan KAA, memori Megawati membawa hadirin kembali ke tahun 1961. Ia menceritakan pengalamannya saat berusia 14 tahun, mendampingi Bung Karno dalam KTT Gerakan Non-Blok di Beograd, Yugoslavia. Sebagai delegasi termuda kala itu, Megawati memiliki tugas khusus dari sang ayah: bertemu para pemimpin dunia dan mencatat pemikiran-pemikiran mereka.

Sambil tersenyum, Megawati mengenang bagaimana ia dengan akrab menyapa tokoh-tokoh besar dunia seperti Jawaharlal Nehru dari India dan Gamal Abdel Nasser dari Mesir dengan sebutan “Uncle”. Sebuah sisi humanis dari sejarah Indonesia yang jarang tersorot, menunjukkan bagaimana diplomasi dijalin sejak dini melalui kedekatan personal.

Read Also

Kawal Pembangunan dari Akar: Jaksa Agung ST Burhanuddin Pertegas Peran Program Jaga Desa untuk Masa Depan Bangsa

Kawal Pembangunan dari Akar: Jaksa Agung ST Burhanuddin Pertegas Peran Program Jaga Desa untuk Masa Depan Bangsa

Resep Menghadapi Krisis Global

Selain nostalgia, pertemuan ini juga membahas isu serius terkait antisipasi krisis global. Ketua DPP PDIP Ahmad Basarah menjelaskan bahwa Megawati sangat menekankan pentingnya kesiapsiagaan negara dalam menghadapi dampak perang, seperti blokade Selat Hormuz yang bisa mengancam stabilitas ekonomi dunia.

Megawati pun memaparkan rekam jejaknya saat menakhodai Indonesia keluar dari krisis multidimensi pasca-1997. Ia menceritakan bagaimana pemerintahannya saat itu berhasil menstabilkan nilai tukar Rupiah, menyelesaikan persoalan di BPPN, hingga melunasi utang ke IMF. Pengalaman ini dibagikan sebagai pelajaran berharga bahwa ketegasan dan strategi yang tepat adalah kunci dalam menghadapi badai ekonomi.

Literasi Kebangsaan dan Momen Akrab

Sebagai bentuk penghormatan, Megawati memberikan cinderamata berupa literasi penting bagi Dubes Jerman. Beberapa di antaranya adalah:

Read Also

Skandal Pemerasan Tulungagung: Peran Vital Ajudan Bupati yang Bertindak Bak Penagih Utang

Skandal Pemerasan Tulungagung: Peran Vital Ajudan Bupati yang Bertindak Bak Penagih Utang
  • Buku teks pidato Bung Karno di KAA.
  • Pidato legendaris Bung Karno di PBB bertajuk To Build The World A New.
  • Buku tentang sejarah Lahirnya Pancasila.

Pertemuan ditutup dengan momen santai yang mengundang tawa. Saat sesi foto bersama, Megawati sempat menanyakan tinggi badan Ralf Beste yang menjulang tinggi, memperlihatkan sisi hangat seorang tokoh bangsa sebelum sang Duta Besar berpamitan. Diskusi ini mempertegas bahwa hubungan diplomasi bukan sekadar urusan formal, melainkan soal pertukaran gagasan dan penghormatan terhadap nilai-nilai internasional yang relevan sepanjang masa.

Budi Santoso

Budi Santoso

Wartawan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang berita politik dan peristiwa untuk Kilat News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *