Strategi Ijo-Abang: Said Abdullah Tegaskan PDI Perjuangan Takkan Pernah Tinggalkan NU

Budi Santoso | UpdateKilat
12 Apr 2026, 15:26 WIB
Strategi Ijo-Abang: Said Abdullah Tegaskan PDI Perjuangan Takkan Pernah Tinggalkan NU

UpdateKilat — Di tengah dinamika politik yang kian cair, PDI Perjuangan menegaskan komitmennya untuk tidak pernah memunggungi Nahdlatul Ulama (NU). Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, menyatakan bahwa ikatan antara kaum nasionalis dan nahdliyin di Jawa Timur bukan sekadar strategi elektoral sesaat, melainkan sebuah persenyawaan ideologis yang telah berakar sangat dalam.

Dalam suasana hangat Halal Bihalal yang digelar di Surabaya pada Minggu (12/4/2026), Said menekankan bahwa PDI Perjuangan memiliki tanggung jawab moral untuk berjalan beriringan dengan NU dalam mengawal kesejahteraan rakyat. Baginya, memisahkan PDIP dari NU, terutama di tanah Jawa Timur, adalah sebuah kemustahilan sejarah.

Meleburnya Sekat Ijo-Abang

Said memotret fenomena sosial yang menarik tentang klasifikasi masyarakat Jawa Timur yang selama ini dikenal dengan label “Ijo-Abang” atau kaum santri dan abangan. Meski dahulu garis pemisahnya tampak sangat tegas, kini realitas di lapangan menunjukkan batas-batas tersebut semakin memudar.

Read Also

Jakarta Tetap Jadi Magnet Utama: Ribuan Pendatang Baru Padati Ibu Kota Pasca-Lebaran 2026

Jakarta Tetap Jadi Magnet Utama: Ribuan Pendatang Baru Padati Ibu Kota Pasca-Lebaran 2026

“Data survei nasional menunjukkan tren yang konsisten, di mana banyak warga yang mengidentifikasi diri sebagai kaum nahdliyin justru memberikan kepercayaan suaranya kepada PDI Perjuangan. Ini membuktikan adanya irisan perjuangan yang sangat kuat antara Nahdlatul Ulama dan kelompok nasionalis,” ungkap Said.

Lebih jauh, Said Abdullah menyoroti sebuah realitas pahit yang menjadi titik temu perjuangan kedua kelompok ini. Menurutnya, kaum santri dan abangan seringkali memiliki nasib yang serupa di lapisan akar rumput. “Perbedaan keduanya mungkin hanya setipis helai bulu. Kenyataannya, mereka menghadapi tantangan hidup yang sama; mulai dari keterbatasan akses pendidikan, kemiskinan, hingga sulitnya mendapatkan pekerjaan yang layak,” tambahnya dengan nada naratif.

Read Also

Aset Koruptor Senilai Rp 3,88 Miliar Resmi Diserahkan KPK ke Kementerian PU demi Kelancaran Proyek Tol

Aset Koruptor Senilai Rp 3,88 Miliar Resmi Diserahkan KPK ke Kementerian PU demi Kelancaran Proyek Tol

Islam Wasathiyah sebagai Kompas Politik

Dalam menjalankan roda organisasi di Jawa Timur, Said memastikan bahwa partai berlambang banteng moncong putih itu mengadopsi nilai-nilai Islam Wasathiyah. Konsep Islam yang moderat, toleran, dan inklusif ini merupakan ciri khas NU yang kini juga menjadi pedoman dalam langkah politik PDIP.

“Kami menolak keras praktik politik yang menampilkan wajah agama secara menakutkan, apalagi terhadap kaum minoritas yang merupakan saudara sebangsa. Keislaman kita haruslah merangkul, membawa rahmat, serta menghadirkan kedamaian bagi semua,” tegas pria yang juga menjabat sebagai Ketua Banggar DPR RI tersebut.

Said juga menyambut hangat tren bergabungnya tokoh-tokoh NU ke dalam gerbong PDIP. Nama-nama seperti Gus Wahab hingga Abdullah Azwar Anas disebutnya sebagai bukti nyata bahwa PDIP telah menjadi rumah politik yang nyaman bagi para kiai, gus, dan ning untuk ber-ijtihad dalam memperbaiki tatanan bangsa.

Read Also

Skandal Laporan Palsu Foto AI: Pramono Anung Tegur Keras PPSU, Minta Kerja Nyata Tanpa Manipulasi

Skandal Laporan Palsu Foto AI: Pramono Anung Tegur Keras PPSU, Minta Kerja Nyata Tanpa Manipulasi

Melawan Era Kepalsuan dengan Kejujuran

Menutup pidatonya, Said Abdullah memberikan catatan kritis mengenai tantangan era digital atau era post-truth. Ia merasa prihatin dengan maraknya informasi palsu dan degradasi otentisitas yang kini membumbui kehidupan bermasyarakat.

“Kita berada di zaman yang sulit untuk membedakan mana yang jujur dan mana yang dusta. Oleh karena itu, saya mengajak seluruh kader dan masyarakat untuk kembali pada nilai-nilai kejujuran. Politik itu harus konsisten, adil, dan menjauhi hasutan,” pungkasnya. Ia berharap semangat silaturahmi yang diwariskan oleh KH Wahab Hasbullah dan Bung Karno tetap menjadi fondasi utama dalam merajut persatuan Indonesia di masa depan.

Budi Santoso

Budi Santoso

Wartawan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang berita politik dan peristiwa untuk Kilat News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *