Menjaga Marwah Ikon Betawi: Pramono Anung Tegaskan Larangan Ondel-ondel Ngamen di Jalanan

Budi Santoso | UpdateKilat
12 Apr 2026, 09:26 WIB
Menjaga Marwah Ikon Betawi: Pramono Anung Tegaskan Larangan Ondel-ondel Ngamen di Jalanan

UpdateKilat — Wajah Jakarta yang terus bersolek menuju kota global tampaknya ingin kembali memoles jati diri budayanya dengan lebih elegan. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, baru-baru ini mengeluarkan pernyataan tegas terkait eksistensi salah satu simbol kebanggaan warga ibu kota: Ondel-ondel. Sang Gubernur secara resmi melarang penggunaan boneka raksasa tersebut untuk aktivitas mengamen di jalanan Jakarta, sebuah praktik yang belakangan kerap terlihat di berbagai sudut kota.

Keputusan besar ini diungkapkan oleh Pramono Anung sesaat setelah dirinya membuka kemeriahan acara Lebaran Betawi 2026 yang berlangsung di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Langkah ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan sebagai upaya untuk mengembalikan marwah budaya yang selama ini seolah tereduksi menjadi sekadar alat mencari recehan di trotoar.

Read Also

Skandal Suap Ijon Rp14,2 Miliar: KPK Terus Buru Bukti Baru di Lingkungan Pemkab Bekasi

Skandal Suap Ijon Rp14,2 Miliar: KPK Terus Buru Bukti Baru di Lingkungan Pemkab Bekasi

Ondel-ondel Sebagai Simbol Kebanggaan, Bukan Sekadar Hiburan Pinggiran

Menurut Pramono, Ondel-ondel bukan sekadar properti pertunjukan, melainkan sebuah identitas yang melekat pada sejarah panjang Jakarta. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menetapkan regulasi khusus untuk menyudahi fenomena ondel-ondel ngamen di jalanan.

“Mengenai ondel-ondel, kami sudah bulat membuat keputusan untuk melarang kehadirannya di jalanan untuk tujuan mengamen,” tegas Pramono dengan nada diplomatis namun pasti. Baginya, Ondel-ondel adalah trademark utama Jakarta. Terlebih lagi, menyambut perayaan 500 tahun Jakarta pada tahun mendatang, Pemprov DKI berencana menghadirkan pesta rakyat yang jauh lebih megah dengan menempatkan ikon Betawi ini pada posisi yang lebih terhormat.

Langkah Persuasif Sebelum Penindakan

Meski larangan telah diketok, politisi senior PDI Perjuangan ini menjelaskan bahwa pendekatan yang diambil oleh pemerintah tidak akan bersifat represif seketika. Fokus utama saat ini adalah memberikan edukasi kepada masyarakat dan para penggiat seni jalanan yang masih mengandalkan ondel-ondel sebagai media mencari nafkah.

Read Also

Buntut Ibu Linglung Dilepas Begitu Saja, Personel Polsek Pasar Minggu Kini Berurusan dengan Propam

Buntut Ibu Linglung Dilepas Begitu Saja, Personel Polsek Pasar Minggu Kini Berurusan dengan Propam

“Langkah pertama adalah edukasi. Saya juga telah menginstruksikan jajaran Satpol PP untuk melakukan pengawasan dan pelarangan di titik-titik keramaian. Untuk sanksi, menurut saya belum saatnya diberlakukan sekarang, namun yang pasti, aktivitas tersebut tetap dilarang,” imbuhnya.

Menilik Kembali Akar Spiritual Ondel-Ondel

Menarik untuk melihat kembali bagaimana Ondel-ondel bermula. Jauh sebelum hiruk-pikuk klakson kendaraan mengelilinginya, boneka setinggi 2,5 meter ini merupakan sosok yang sakral. Dalam tradisi Betawi kuno yang kental dengan kepercayaan animisme, Ondel-ondel—atau yang dulu disebut Barongan—dipercaya sebagai pelindung kampung. Kehadirannya berfungsi sebagai ritual penolak bala untuk menjauhkan warga dari wabah penyakit dan gangguan roh jahat.

Perjalanan sejarah mencatat bahwa Ondel-ondel memiliki kemiripan fungsi dengan Barong di Bali atau Reog di Jawa Timur. Pada masa kolonial Batavia, penampilan Ondel-ondel hanya bisa disaksikan dalam momen-momen sakral seperti bersih desa atau hajatan besar masyarakat setempat. Transformasi drastis terjadi pada era 1970-an di bawah kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin, di mana Ondel-ondel mulai dipromosikan sebagai identitas pariwisata dan kesenian rakyat yang lebih terbuka.

Read Also

Komitmen Mendagri Tito Karnavian: Perkuat Pengawasan Dana Otsus Demi Akselerasi Pembangunan Daerah

Komitmen Mendagri Tito Karnavian: Perkuat Pengawasan Dana Otsus Demi Akselerasi Pembangunan Daerah

Kini, di bawah arahan Pramono Anung, Jakarta seolah ingin kembali menarik garis tegas: bahwa warisan leluhur yang agung ini layak mendapatkan panggung yang lebih layak daripada sekadar berkeliling di tengah kepulan asap knalpot jalanan ibu kota.

Budi Santoso

Budi Santoso

Wartawan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang berita politik dan peristiwa untuk Kilat News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *