Seskab Teddy Kritik Fenomena ‘Inflasi Pengamat’: Sebut Data Ngawur dan Picu Kecemasan Publik

Budi Santoso | UpdateKilat
11 Apr 2026, 02:25 WIB
Seskab Teddy Kritik Fenomena 'Inflasi Pengamat': Sebut Data Ngawur dan Picu Kecemasan Publik

UpdateKilat — Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya memberikan catatan kritis terhadap dinamika opini publik di tanah air. Dalam keterangannya di Kompleks Istana Kepresidenan, ia menyoroti fenomena yang disebutnya sebagai ‘inflasi pengamat’, di mana banyak pihak memberikan komentar tanpa didasari latar belakang keahlian yang relevan.

Kritik Atas Kompetensi dan Validitas Data

Teddy mengungkapkan kekhawatirannya terhadap banyaknya sosok yang mendadak menjadi ahli di berbagai bidang. Menurutnya, saat ini sering dijumpai pihak-pihak yang berbicara mengenai isu strategis, seperti perberasan hingga kebijakan militer, padahal rekam jejak akademis maupun profesionalnya tidak bersinggungan dengan hal tersebut.

“Ada fenomena inflasi pengamat. Jumlahnya sangat banyak, tapi bicaranya sering tidak sesuai latar belakang. Ada pengamat beras, tapi basisnya bukan di situ. Ada juga pengamat militer hingga luar negeri yang datanya sering kali keliru,” ujar Teddy kepada awak media pada Jumat (10/4/2026).

Read Also

Badai Internal PPP: Sekjen Taj Yasin dan Waketum Agus Suparmanto Dilaporkan ke Polda Metro Jaya

Badai Internal PPP: Sekjen Taj Yasin dan Waketum Agus Suparmanto Dilaporkan ke Polda Metro Jaya

Upaya Menggiring Opini Sejak Masa Pra-Jabatan

Lebih lanjut, Seskab Teddy menilai bahwa sebagian besar narasi yang dibangun oleh para pengamat ini bukanlah hal baru. Ia mensinyalir adanya upaya sistematis untuk mempengaruhi persepsi masyarakat bahkan jauh sebelum Presiden Prabowo Subianto resmi menjabat sebagai kepala negara.

Ia menegaskan bahwa data yang disuguhkan ke publik sering kali tidak sinkron dengan fakta di lapangan. Meski demikian, Teddy meyakini masyarakat kini jauh lebih cerdas dalam memilah informasi. Hal ini tercermin dari angka kepercayaan publik yang tetap solid.

“Faktanya, lebih dari 96 juta warga memberikan mandat dan kepercayaannya kepada Pak Prabowo. Ini adalah bukti nyata, bukan sekadar asumsi, bahwa rakyat lebih memilih percaya pada kepemimpinan beliau ketimbang narasi-narasi tersebut,” tegasnya.

Read Also

Aksi Heroik Polisi vs Fortuner di Ciledug: Di Balik Pengejaran Dramatis Kasus Narkoba yang Berakhir Ricuh

Aksi Heroik Polisi vs Fortuner di Ciledug: Di Balik Pengejaran Dramatis Kasus Narkoba yang Berakhir Ricuh

Imbauan: Kritik Boleh, Menebar Kecemasan Jangan

Meski bersikap kritis terhadap fenomena tersebut, Teddy memastikan bahwa pemerintah tidak antikritik. Perbedaan pandangan politik maupun masukan terhadap kebijakan pemerintah tetap dianggap sebagai bagian dari demokrasi yang sehat. Namun, ia memberikan garis tegas agar kritik tidak berubah menjadi provokasi yang meresahkan.

“Silakan berbeda pendapat, silakan beri kritik. Tapi saya meminta agar pernyataan-pernyataan yang keluar tidak mengarah pada penciptaan kecemasan di tengah masyarakat. Jangan mengajak publik untuk pesimis terhadap masa depan negeri ini,” tuturnya.

Kondisi Nasional Tetap Stabil

Menutup keterangannya, Teddy memastikan bahwa kondisi fundamental Indonesia saat ini dalam keadaan yang stabil dan terkendali. Pemerintah terus berkomitmen untuk melakukan evaluasi dan penyempurnaan terhadap program-program yang sedang berjalan.

Read Also

Polemik Chromebook Nadiem Makarim: Jaksa Sebut Salah Sasaran dan Rugikan Negara Rp 2,1 Triliun

Polemik Chromebook Nadiem Makarim: Jaksa Sebut Salah Sasaran dan Rugikan Negara Rp 2,1 Triliun

“Tentu belum ada yang sempurna, karena itu kami senantiasa terbuka menerima masukan. Setiap kekurangan akan segera kami maksimalkan dan sempurnakan demi kepentingan rakyat,” pungkasnya.

Budi Santoso

Budi Santoso

Wartawan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang berita politik dan peristiwa untuk Kilat News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *