Geliat Bursa Asia: Pasar Merespons Positif Gencatan Senjata AS-Iran yang Rapuh
UpdateKilat — Laju pasar modal di kawasan Asia-Pasifik menunjukkan geliat positif pada perdagangan Jumat pagi (10/4/2026). Optimisme investor tampaknya mulai merayap naik seiring dengan adanya kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran. Meski demikian, suasana di lantai bursa tetap diselimuti kewaspadaan tinggi mengingat stabilitas politik di Timur Tengah yang masih berada di ujung tanduk.
Dominasi Hijau di Kawasan Asia-Pasifik
Berdasarkan pantauan tim redaksi, mayoritas indeks utama di Asia bergerak di zona hijau. Indeks Kospi di Korea Selatan memimpin penguatan dengan lonjakan signifikan sebesar 1,88%, disusul oleh indeks saham berkapitalisasi kecil, Kosdaq, yang naik 1,04%. Langkah serupa juga terlihat di pasar saham Jepang; Nikkei 225 terapresiasi 1%, sementara indeks Topix merangkak naik 0,34%.
Saham PTRO Melesat 10,83% di Sesi Pertama: Buah Manis Kepercayaan Direksi dan Proyek Strategis Masela
Kondisi sedikit berbeda terjadi di Australia, di mana indeks S&P/ASX 200 justru tergelincir 0,68% di awal sesi. Sementara itu, indeks Hang Seng di Hong Kong terpantau berada di level 25.900, menunjukkan penguatan dibandingkan penutupan hari sebelumnya di angka 25.752,40. Pergerakan ini mencerminkan betapa dinamisnya respon para pelaku pasar terhadap isu geopolitik global yang berkembang saat ini.
Ketegangan Selat Hormuz dan Tekanan Harga Minyak
Di balik penguatan bursa, bayang-bayang konflik Timur Tengah yang telah berlangsung lebih dari sebulan tetap menjadi perhatian utama. Selat Hormuz, jalur nadi energi dunia, hingga kini masih mengalami pembatasan lalu lintas meskipun kesepakatan damai sementara telah diteken. Teheran dikabarkan setuju untuk membuka kembali selat tersebut selama 14 hari ke depan dengan syarat seluruh serangan terhadap wilayah mereka dihentikan sepenuhnya.
Strategi Lincah Manulife Hadapi Volatilitas Global: Mengintip Peluang di Balik Ketidakpastian Pasar
Laporan dari berbagai sumber menyebutkan bahwa Israel juga telah menyepakati gencatan senjata ini, menyusul langkah Presiden AS Donald Trump yang memutuskan untuk menunda serangan terhadap Iran. Namun, retorika keras masih terdengar. Trump memperingatkan agar Iran tidak memungut biaya tambahan kepada kapal-kapal tanker yang melintas di selat tersebut. Situasi ini pun langsung berdampak pada pasar minyak mentah dunia.
Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik 0,64% ke posisi USD 98,50 per barel, bahkan sempat menyentuh angka psikologis USD 100 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent turut terkerek 0,90% ke level USD 96,83 per barel akibat minimnya arus lalu lintas kapal tanker di jalur vital tersebut.
Tensi Geopolitik AS-Iran Memanas, Pasar Keuangan Global dan Domestik Berada di Persimpangan Jalan
Imbas Positif dari Wall Street
Sentimen positif di Asia ini tidak lepas dari performa solid bursa saham Amerika Serikat pada penutupan perdagangan sebelumnya. Wall Street berhasil mengakhiri sesi dengan catatan manis; S&P 500 naik 0,62% ke level 6.824,66, dan Nasdaq Composite melesat 0,83% ke posisi 22.822,42. Dow Jones Industrial Average juga tak mau ketinggalan dengan tambahan 275,88 poin atau naik 0,58%, yang membawa indeks ini mencatatkan performa positif sepanjang tahun berjalan sebesar 0,25%.
Bagi para pelaku pasar di tanah air, pergerakan global ini diharapkan mampu memberikan dampak psikologis yang baik bagi pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia. Tetap pantau perkembangan terkini hanya di UpdateKilat untuk strategi investasi Anda hari ini.