SMI Siap Gebrak Pasar Modal: Kantongi Izin Terbitkan Obligasi dan Sukuk Rp 28 Triliun
UpdateKilat — Langkah strategis diambil oleh PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau SMI untuk memperkuat amunisi pendanaannya di tahun 2026. Perusahaan pelat merah yang berfokus pada akselerasi pembangunan ini baru saja mengantongi sertifikat pemeringkatan resmi dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO). Tidak tanggung-tanggung, nilai emisi yang dipersiapkan mencapai angka fantastis, yakni Rp 28 triliun.
Rencana Besar di Balik Emisi Rp 28 Triliun
Berdasarkan keterbukaan informasi yang dipantau redaksi, rencana besar ini terbagi ke dalam dua instrumen keuangan utama. Pertama adalah Obligasi Berkelanjutan V dengan plafon maksimal Rp 20 triliun. Kedua, untuk menyasar segmen syariah, SMI menyiapkan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan IV dengan nilai maksimal Rp 8 triliun.
Geliat Pasar Modal 2026: Penerbitan Obligasi Korporasi Melambung Hingga Rp 59,35 Triliun
Restu dari PEFINDO ini bukanlah proses instan. Mandat pemeringkatan tersebut telah diajukan sejak Maret 2026 dan melalui evaluasi ketat dalam rapat Komite Pemeringkatan pada awal April 2026. Dengan sertifikat ini, SMI memiliki durasi waktu hingga dua tahun untuk merealisasikan penawaran efeknya sejak pernyataan pendaftaran dinyatakan efektif oleh regulator. Strategi pembiayaan infrastruktur ini akan dilakukan secara bertahap, menyesuaikan dengan kebutuhan likuiditas dan momentum pasar.
Menjaga Transparansi dan Kepercayaan Investor
Dalam dunia pasar modal, kepercayaan adalah mata uang utama. Oleh karena itu, PEFINDO juga akan melakukan pemantauan berkelanjutan terhadap kondisi kesehatan finansial SMI. Sebagai entitas yang taat regulasi, SMI berkewajiban melaporkan setiap fakta material kepada PEFINDO maksimal dua hari kerja setelah kejadian, sesuai dengan POJK Nomor 24/2021.
Strategi Baru PT Timah Tbk: Rotasi Direksi di Tengah Ambisi Memperkuat Kinerja dan Tata Kelola BUMN
Mekanisme keberatan juga disediakan bagi perusahaan jika merasa hasil pemeringkatan tidak sesuai dengan data aktual. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan komite evaluasi setelah meninjau data pendukung yang komprehensif. Langkah ini bertujuan untuk menjamin transparansi pasar modal bagi para calon investor yang mengincar instrumen berisiko rendah namun berdampak sosial tinggi ini.
Resiliensi di Tengah Gejolak Geopolitik Global
Meski kondisi global tengah dibayangi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran, nahkoda SMI tetap optimistis. Direktur Utama PT SMI, Reynaldi Hermansjah, menegaskan bahwa portofolio perusahaan memiliki daya tahan yang cukup kuat terhadap fluktuasi eksternal.
“Sekitar 75 persen hingga 80 persen portofolio pembiayaan kami menggunakan mata uang Rupiah. Hal ini membuat kinerja perusahaan tidak terlalu rentan terhadap volatilitas nilai tukar asing akibat sentimen geopolitik,” ungkap Reynaldi dalam sebuah pertemuan terbatas di Jakarta.
Ekspansi Agresif Triniti Land (TRIN): Strategi Akuisisi Prima Pembangunan Propertindo Demi Dongkrak Pendapatan Berulang
Meski demikian, ia tidak menutup mata bahwa gangguan distribusi logistik global tetap berpotensi memberikan tantangan bagi pemilik proyek, terutama dalam hal pengadaan komponen impor seperti turbin atau peralatan teknis lainnya. Namun, dari sisi kestabilan pembiayaan, posisi SMI sejauh ini tetap kokoh dan sesuai rencana.
Performa Keuangan 2025 yang Solid
Optimisme penerbitan obligasi dan sukuk ini juga didorong oleh kinerja keuangan yang impresif pada tahun buku 2025. SMI berhasil membukukan total aset sebesar Rp 121,3 triliun, tumbuh 3,8 persen secara tahunan. Capaian laba bersihnya pun menggiurkan, menembus angka Rp 2,88 triliun.
Direktur Operasional dan Keuangan PT SMI, Aradita Priyanti, menjelaskan bahwa fundamental perusahaan sangat sehat. Dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) gross yang terjaga di level 0,87 persen dan loan loss coverage mencapai 399 persen, SMI membuktikan bahwa ekspansi besar-besaran tetap dibarengi dengan manajemen risiko yang mumpuni.
Hingga saat ini, sektor jalan tol, ketenagalistrikan, dan transportasi masih menjadi primadona dalam portofolio pembiayaan korporasi SMI. Ke depan, perusahaan berkomitmen untuk terus memperkuat peranannya sebagai lembaga pembiayaan pembangunan (DFI) yang berkelanjutan di Indonesia.