Ketegangan AS-Iran Mereda, Bursa Saham Asia Pasifik Meledak Usai Trump Tangguhkan Serangan
UpdateKilat — Angin segar berhembus di pasar modal kawasan Asia-Pasifik seiring meredanya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Langkah mengejutkan diambil oleh Presiden AS Donald Trump yang secara resmi mengumumkan penangguhan rencana serangan terhadap infrastruktur strategis Iran selama dua pekan ke depan.
Keputusan diplomasi mendadak ini langsung direspons dengan euforia oleh para pelaku pasar global. Berdasarkan pantauan tim riset UpdateKilat pada Rabu (8/4/2026), bursa saham Asia bergerak liar di jalur hijau. Di Korea Selatan, indeks Kospi memimpin penguatan dengan lonjakan fantastis sebesar 5,3 persen, sementara indeks Kosdaq yang didominasi saham lapis kedua naik 3,4 persen. Raksasa teknologi seperti Samsung Electronics dan SK Hynix menjadi primadona investor dengan kenaikan masing-masing mencapai 7,25 persen dan 9,2 persen.
Geliat Bursa Asia: Menimbang Harapan Damai di Tengah Panasnya Hubungan Iran-AS
Dominasi Zona Hijau di Kawasan Asia-Pasifik
Optimisme tidak hanya terhenti di Seoul. Pasar saham Jepang juga mencatatkan performa impresif di mana indeks Nikkei 225 terbang 4,5 persen, disusul oleh indeks Topix yang menguat 3,2 persen. Di belahan selatan, indeks S&P/ASX 200 Australia turut terkerek naik 2,7 persen. Sementara itu, bursa Hong Kong yang baru saja kembali dari masa libur bersiap menyambut tren positif ini, terlihat dari kontrak berjangka Indeks Hang Seng yang bertengger kuat di level 25.233.
Sentimen positif ini berakar dari pernyataan Trump melalui platform Truth Social. Ia menegaskan bahwa gencatan senjata sementara ini sangat bergantung pada komitmen Teheran untuk menjamin keamanan jalur perdagangan internasional. “Langkah ini tergantung pada persetujuan Republik Islam Iran untuk pembukaan Selat Hormuz secara lengkap, segera, dan aman,” tulis Trump dalam unggahannya.
Proyeksi IHSG 9 April 2026: Menakar Peluang Reli Lanjutan dan Rekomendasi Saham Pilihan EMAS hingga MDKA
Respons Teheran dan Melandainya Harga Komoditas
Merespons tawaran tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melalui pernyataan resmi di media sosial X, memberikan sinyal positif. Ia menyatakan bahwa angkatan bersenjata Teheran akan menghentikan operasi pertahanan mereka. Koordinasi terkait jalur pelayaran aman di Selat Hormuz akan diupayakan secara intensif dalam dua minggu ke depan guna meredam gejolak di kawasan tersebut.
Kabar de-eskalasi konflik ini seketika memberikan tekanan besar pada harga minyak mentah dunia. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei dilaporkan anjlok tajam lebih dari 16 persen ke level USD 94,23 per barel. Penurunan harga komoditas ini menjadi angin lalu yang menenangkan bagi kekhawatiran inflasi global.
PNBN Putuskan Divestasi Total, Bank Panin Resmi Lepas Seluruh Kepemilikan Saham di FAC Sekuritas
“Dalam perspektif jangka panjang, harga energi adalah faktor penentu inflasi dunia. Jika saat ini muncul visibilitas bahwa harga energi bisa ditekan kembali, maka prospek pemangkasan suku bunga bank sentral menjadi lebih terbuka lebar bagi ekonomi global,” ungkap Josh Rubin, Manajer Portofolio di Thornburg Investments.
Kontras Pergerakan Wall Street
Menariknya, meskipun bursa Asia berpesta pora, respons di Wall Street cenderung lebih berhati-hati. S&P 500 tercatat naik tipis 0,08 persen ke posisi 6.616,85, sementara Nasdaq Composite menguat 0,10 persen ke level 22.017,85. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average justru mengalami koreksi ringan sebesar 0,18 persen atau turun 85,42 poin ke level 46.584,46.
Dinamika ekonomi global saat ini nampaknya masih akan terus berfluktuasi seiring dengan perkembangan stabilitas politik di Timur Tengah. Investor kini menunggu apakah komitmen dua minggu ini akan berlanjut menjadi perdamaian permanen atau sekadar jeda sejenak di tengah badai diplomasi.