Sisi Kelam Tanah Abang: Jeritan Sopir Bajaj yang Terjepit Lingkaran Setan Pungli

Budi Santoso | UpdateKilat
13 Apr 2026, 19:55 WIB
Sisi Kelam Tanah Abang: Jeritan Sopir Bajaj yang Terjepit Lingkaran Setan Pungli

UpdateKilat — Di balik kemegahan gedung pencakar langit Jakarta, riuh rendah kawasan Tanah Abang tetap menjadi denyut nadi ekonomi bagi ribuan jiwa. Di sini, di tengah kemacetan yang seolah tak pernah tidur, roda-roda tiga sopir bajaj terus berputar sebagai saksi bisu kerasnya mencari sesuap nasi. Namun, bagi mereka, aspal jalanan bukan hanya tentang mencari penumpang, melainkan juga tentang bagaimana bertahan hidup dari bayang-bayang intimidasi yang kian mengakar.

Drama ‘Jatah Preman’ di Pintu Masuk Blok A

Pemandangan di depan pintu masuk Blok A Pasar Tanah Abang siang itu terasa begitu kontras. Sebuah bajaj baru saja menepi untuk menurunkan penumpang, namun sebelum sang sopir sempat menarik napas lega, dua pria dengan langkah santai namun intimidatif sudah menghampirinya. Percakapan singkat terjadi; ada nada protes yang tersirat dari raut wajah sopir tersebut, namun ujungnya tetap sama: lembaran uang berpindah tangan.

Read Also

Skandal Pelecehan di FHUI Memanas, BEM Desak Kemendiktisaintek Bertindak Tegas Lawan Intervensi

Skandal Pelecehan di FHUI Memanas, BEM Desak Kemendiktisaintek Bertindak Tegas Lawan Intervensi

Pria di balik kemudi itu adalah Edi, seorang veteran jalanan yang telah mengabdi pada profesi ini selama 11 tahun. Baginya, praktik pungutan liar alias pungli bukanlah hal baru. Ini adalah santapan pahit yang harus ia telan setiap hari agar tetap bisa mencari rezeki di kawasan legendaris Jakarta Pusat tersebut.

“Kalau cuma satu orang sih tidak masalah, tapi di Blok A itu yang minta banyak. Sekali mangkal, jatahnya bisa ke beberapa tangan,” ungkap Edi dengan nada getir saat berbincang dengan tim UpdateKilat. Dalam sehari, Edi bisa dihampiri hingga lima orang berbeda yang meminta ‘uang jatah’ dengan berbagai dalih.

Kalkulasi Pahit: Pendapatan yang Tergerus Intimidasi

Bagi Edi dan rekan-rekan sejawatnya, uang Rp5.000 mungkin terlihat sepele bagi sebagian orang. Namun, jika dalam sehari ada lima hingga sepuluh ‘tangan’ yang menadah, akumulasi pungli tersebut menjadi beban yang menyesakkan dada. Dari rata-rata penghasilan harian sebesar Rp200 ribu, Edi masih harus menyisihkan uang untuk setoran pemilik bajaj, bahan bakar, dan kebutuhan dapur di rumah.

Read Also

Skandal Korupsi di Tulungagung: Bupati Gatut Sunu Wibowo Resmi Jadi Tersangka KPK Atas Dugaan Pemerasan

Skandal Korupsi di Tulungagung: Bupati Gatut Sunu Wibowo Resmi Jadi Tersangka KPK Atas Dugaan Pemerasan

Mirisnya, intensitas premanisme ini justru meningkat tajam di momen-momen tertentu, seperti menjelang bulan suci Ramadan. Saat aktivitas belanja di Pasar Tanah Abang memuncak, para oknum ini seolah tak mau ketinggalan ‘merayakan’ keramaian dengan meningkatkan tekanan pungutan. Bulan yang seharusnya penuh berkah justru menjadi masa yang penuh keresahan bagi para sopir bajaj.

Antara Keselamatan Fisik dan Kebutuhan Perut

Mengapa mereka tidak melawan? Jawaban Edi sangat sederhana sekaligus menyayat hati: risiko. Menolak memberikan uang jatah sama saja dengan mengundang malapetaka. Ancaman yang mereka hadapi mulai dari larangan mangkal hingga tindakan kekerasan fisik secara berkelompok.

“Pernah ada yang mencoba melawan, tapi akhirnya dikeroyok. Bahkan petugas keamanan di sekitar sini pun seringkali hanya bisa diam tak berdaya. Kami ini orang kecil, tidak punya perlindungan,” kenang Edi. Ketakutan inilah yang membuat praktik pungli tetap lestari dan seolah menjadi hukum rimba yang tak tertulis di kawasan tersebut.

Read Also

Gibran Rakabuming Raka Puji Jusuf Kalla sebagai Mentor dan Idola di Tengah Hiruk Pikuk Klaim Politik

Gibran Rakabuming Raka Puji Jusuf Kalla sebagai Mentor dan Idola di Tengah Hiruk Pikuk Klaim Politik

Menanti Langkah Nyata dari Pemerintah

Harapan Edi tidaklah muluk. Ia tidak meminta subsidi besar atau fasilitas mewah dari pemerintah. Ia hanya ingin bekerja dengan tenang tanpa dihantui rasa takut. Ia memimpikan sebuah sistem pengamanan yang konsisten, bukan sekadar razia formalitas yang hanya panas di awal namun kembali dingin setelah pemberitaan mereda.

“Kami minta tolong, tolong dijaga setiap hari. Jangan cuma sekali-kali saja ada razia, karena setelah petugas pergi, mereka (preman) muncul lagi,” tegasnya. Kehadiran aparat yang tegas dan kebijakan yang serius sangat dinantikan untuk memutus rantai pungli yang telah puluhan tahun mencekik napas para pejuang jalanan di Tanah Abang. Hingga saat itu tiba, Edi akan terus memacu bajajnya, menembus kemacetan, sembari menyelipkan sisa-sisa keberanian di balik sakunya yang kian tipis.

Budi Santoso

Budi Santoso

Wartawan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang berita politik dan peristiwa untuk Kilat News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *