Rekor Baru! Transaksi SPPA BEI Melonjak Drastis 461% Hingga Tembus Rp 1.382 Triliun di 2025

Kevin Wijaya | UpdateKilat
13 Apr 2026, 15:57 WIB
Rekor Baru! Transaksi SPPA BEI Melonjak Drastis 461% Hingga Tembus Rp 1.382 Triliun di 2025

UpdateKilat — Pasar modal Indonesia kembali menorehkan tinta emas melalui performa luar biasa dari Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA). Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi mengumumkan bahwa sepanjang tahun 2025, total nilai transaksi pada platform tersebut berhasil menembus angka fantastis sebesar Rp 1.382,1 triliun. Angka ini mencerminkan lonjakan masif hingga 461,6 persen jika dibandingkan dengan perolehan pada tahun sebelumnya.

Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Kristian S. Manullang, mengungkapkan rasa optimisnya dalam acara SPPA Award 2025 yang digelar di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Menurutnya, pertumbuhan yang sangat signifikan ini menjadi bukti nyata betapa kuatnya kepercayaan para pelaku pasar terhadap ekosistem investasi di tanah air, khususnya pada instrumen surat utang dan pasar uang.

Read Also

Jasa Marga (JSMR) Agendakan RUPS Tahunan Mei 2026, Simak Jadwal Lengkap dan Jejak Kinerjanya

Jasa Marga (JSMR) Agendakan RUPS Tahunan Mei 2026, Simak Jadwal Lengkap dan Jejak Kinerjanya

Revolusi Transaksi Melalui REPO

Salah satu pendorong utama di balik meroketnya performa SPPA adalah suksesnya implementasi transaksi Repurchase Agreement (REPO). Sejak mulai diintegrasikan ke dalam sistem pada 10 Maret, fitur REPO langsung menjadi primadona baru di kalangan pemodal. Tercatat, transaksi REPO memberikan kontribusi jumbo senilai Rp 751,6 triliun terhadap total volume perdagangan.

“Peningkatan drastis ini tak lepas dari peran vital transaksi REPO yang telah kita implementasikan sejak awal Maret tahun lalu. Kehadirannya mampu mengubah peta likuiditas pasar kita secara fundamental,” ujar Kristian dalam keterangannya di hadapan para pemangku kepentingan industri keuangan.

Pertumbuhan Sektor Outright yang Tak Kalah Agresif

Tidak hanya REPO, transaksi outright atau jual-beli putus juga memperlihatkan ototnya. Sektor ini tumbuh signifikan sebesar 196,2 persen secara tahunan dengan nilai transaksi mencapai Rp 630,5 triliun. Data internal menunjukkan bahwa di pasar inter-dealer, transaksi outright berhasil menguasai pangsa pasar sebesar 23 persen, sementara instrumen REPO memimpin dengan perolehan 28 persen.

Read Also

Kalender Libur Bursa Mei 2026: Panduan Strategi Investor di Tengah Dinamika IHSG

Kalender Libur Bursa Mei 2026: Panduan Strategi Investor di Tengah Dinamika IHSG

Keberhasilan ini dipandang sebagai hasil dari ketersediaan platform yang mampu menjawab kebutuhan industri akan sistem yang terstandarisasi, aman, transparan, serta mengedepankan efisiensi. SPPA kini menjadi pilihan utama bagi perdagangan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) dengan underlying Surat Utang Negara (SUN).

Memperkuat Ekosistem Pasar Alternatif

BEI berkomitmen untuk terus memoles SPPA sebagai lini bisnis strategis di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sebagai sarana perdagangan resmi di pasar sekunder, platform ini kini telah merangkul 39 pengguna jasa dari berbagai latar belakang, mulai dari Bank Umum, Bank Pembangunan Daerah (BPD), hingga perusahaan sekuritas papan atas. Menariknya, 14 di antaranya telah aktif memanfaatkan fitur likuiditas pasar melalui mekanisme REPO.

Read Also

IHSG Terbang Tinggi 6,14 Persen, Damai AS-Iran Jadi Booster Utama Pasar Modal

IHSG Terbang Tinggi 6,14 Persen, Damai AS-Iran Jadi Booster Utama Pasar Modal

Fleksibilitas menjadi keunggulan utama platform ini. SPPA menawarkan mekanisme matching yang paling komprehensif untuk instrumen over-the-counter (OTC), mulai dari sistem order book hingga perdagangan bilateral yang lebih personal.

Menilik Jejak Pertumbuhan Historis

Jika kita menilik ke belakang, perjalanan SPPA sebenarnya cukup dinamis. Pada tahun 2021, transaksi tercatat di angka Rp 149,2 triliun, namun sempat mengalami sedikit koreksi pada 2022 menjadi Rp 125,1 triliun. Momentum pemulihan mulai terasa pada 2023 dengan nilai Rp 139,3 triliun, yang kemudian disusul lompatan awal pada 2024 ke level Rp 246,0 triliun.

Namun, tahun 2025 tetap menjadi anomali positif yang luar biasa dalam sejarah Bursa Efek Indonesia. Kenaikan berkali-kali lipat ini diharapkan dapat terus berlanjut, membawa pasar keuangan domestik menuju kedalaman likuiditas yang setara dengan pasar global.

Kevin Wijaya

Kevin Wijaya

Analis pasar modal dan praktisi investasi yang membantu menyederhanakan info finansial di Kilat Saham.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *