Harga Plastik Meroket Akibat Konflik Global, DPRD Jember Dorong Gerakan Massal Tas Ramah Lingkungan
UpdateKilat — Lonjakan harga komoditas plastik di pasar global kini mulai dirasakan dampaknya secara nyata oleh masyarakat di tingkat akar rumput. Merespons kondisi tersebut, Wakil Ketua DPRD Jember, Widarto, meluncurkan inisiatif nyata dengan mengajak warga untuk segera beralih dari penggunaan kantong plastik sekali pakai ke alternatif yang lebih berkelanjutan.
Kenaikan harga plastik yang mencapai angka signifikan, yakni sekitar 40 persen, disinyalir merupakan dampak domino dari ketegangan geopolitik yang tengah memanas di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini membuat biaya produksi material plastik melambung, yang pada akhirnya membebani para pedagang dan konsumen di pasar tradisional.
“Kami menangkap banyak keluhan dari masyarakat, terutama kaum ibu dan pedagang kecil. Mereka merasa terbebani karena biaya untuk bungkus plastik melonjak drastis. Ini adalah beban tambahan di tengah situasi ekonomi yang menantang,” ungkap Widarto saat meninjau situasi di lapangan pada Senin (13/4/2026).
Skandal Suap Proyek RSUD Ponorogo: Kontraktor Divonis 2 Tahun Penjara, Nasib Bupati Segera Ditentukan
Aksi Nyata di Jantung Ekonomi Rakyat
Menyikapi fenomena ini, Widarto tidak sekadar melontarkan imbauan. Ia menginisiasi gerakan pembagian lebih dari 1.000 tas belanja ramah lingkungan yang dibagikan secara cuma-cuma di tiga titik ekonomi vital Jember, yakni Pasar Kepatihan, Pasar Puger, dan Pasar Arjasa.
Langkah ini diambil sebagai bentuk edukasi sekaligus solusi praktis bagi warga agar tidak terus bergantung pada plastik. Dengan menggunakan tas yang dapat dipakai berulang kali, masyarakat diharapkan bisa lebih hemat sekaligus berkontribusi menjaga lingkungan hidup dari ancaman polusi sampah plastik yang sangat sulit terurai oleh alam.
“Momentum kenaikan harga ini sebenarnya bisa kita jadikan titik balik untuk lebih bijak. Mengurangi plastik bukan hanya soal menghemat uang, tapi soal warisan lingkungan untuk generasi mendatang,” tambahnya dengan nada persuasif.
Meta Resmi Naikkan Batas Usia Pengguna Jadi 16 Tahun di Indonesia demi Patuhi PP Tunas
Dorongan Revisi Regulasi Sampah
Lebih jauh, legislator dari DPRD Jember ini melihat bahwa gejolak harga plastik saat ini adalah sinyal kuat bagi pemerintah daerah untuk memperkuat payung hukum. Ia mendorong adanya evaluasi dan revisi terhadap Peraturan Daerah (Perda) tentang Pengelolaan Sampah agar lebih spesifik dalam mengatur serta menekan volume sampah plastik di kabupaten tersebut.
Saat ini, Jember sebenarnya telah memiliki landasan hukum berupa Perda Nomor 2 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Sampah serta Perbup Nomor 52 Tahun 2023. Namun, Widarto menilai implementasinya perlu dipertegas agar dampaknya lebih masif di masyarakat.
Suara Konsumen: Plastik Berbayar Mulai Menghantui
Keresahan senada diungkapkan oleh Muslimah, salah satu pengunjung setia Pasar Kepatihan. Ia mencemaskan jika harga kantong plastik terus naik, maka harga barang pokok pun akan ikut terkerek naik karena pedagang tentu akan membebankan biaya kemasan kepada pembeli.
Aksi Berani Ahmad Sahroni Jebak KPK Gadungan yang Minta Rp 300 Juta di DPR: Ini Kronologi Lengkapnya!
“Di beberapa toko modern sudah mulai diterapkan plastik berbayar. Kalau di pasar tradisional belum sepenuhnya, tapi pedagang sekarang jadi lebih irit kasih plastik. Saya pribadi sangat terbantu dengan adanya pembagian tas kain ini, jadi tidak perlu pusing lagi soal plastik saat belanja,” pungkas Muslimah.
Dengan adanya kolaborasi antara kebijakan pemerintah dan kesadaran masyarakat, diharapkan Jember mampu bertransformasi menjadi wilayah yang lebih hijau dan tangguh terhadap fluktuasi ekonomi global.