Kisah Inspiratif Mbah Marsiyah: Rahasia Bugar Jemaah Haji Tertua Berusia 104 Tahun di Tengah Terik Makkah

Ustadzah Sarah | UpdateKilat
22 Jun 2026, 18:56 WIB
Kisah Inspiratif Mbah Marsiyah: Rahasia Bugar Jemaah Haji Tertua Berusia 104 Tahun di Tengah Terik Makkah

UpdateKilat — Di balik riuh rendah jutaan manusia yang memadati Tanah Suci, terselip sebuah kisah yang melampaui logika kebugaran fisik pada umumnya. Ketika banyak jemaah muda bertumbangan karena kelelahan atau perubahan cuaca yang ekstrem, sosok Mbah Marsiyah justru tampil sebagai anomali yang menginspirasi. Di usianya yang telah menyentuh angka 104 tahun, jemaah tertua dari Kelompok Terbang (Kloter) SUB 112 ini menunjukkan bahwa keteguhan hati dan pola hidup sederhana adalah kunci utama dalam menaklukkan beratnya medan ibadah haji.

Ketangguhan Fisik yang Memukau di Usia Senja

Hampir satu bulan lamanya Mbah Marsiyah berada di bawah naungan langit Makkah. Kota yang dikenal dengan suhu udara menyengat dan mobilitas fisik yang tinggi ini biasanya menjadi tantangan berat bagi para lansia. Namun, bagi perempuan asal Indonesia ini, hari-harinya dihabiskan dengan penuh ketenangan. Tim medis dan petugas haji yang berjaga di sektornya pun dibuat takjub; nyaris tidak ada keluhan kesehatan berarti yang keluar dari lisan Mbah Marsiyah.

Read Also

100 Quotes Idul Adha 2026: Meresapi Makna Keikhlasan dan Pengorbanan Melalui Kata-Kata yang Menyentuh Hati

100 Quotes Idul Adha 2026: Meresapi Makna Keikhlasan dan Pengorbanan Melalui Kata-Kata yang Menyentuh Hati

Kondisi ini terbilang sangat kontras jika dibandingkan dengan rekan sejawat atau bahkan jemaah yang usianya jauh lebih muda. Di saat virus batuk dan pilek mulai menyerang ruang-ruang penginapan jemaah akibat kelelahan pasca-puncak haji, Mbah Marsiyah tetap berdiri tegak dengan napas yang teratur. Keajaiban kecil ini menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan petugas jemaah haji Indonesia yang melihat langsung keseharian sang nenek.

Rahasia Sehat: Filosofi ‘Nrimo’ dalam Setiap Hidangan

Aniswatun Nadhiroh, Ketua Kloter SUB 112, menjadi salah satu saksi mata yang paling sering memantau kondisi Mbah Marsiyah. Ia kerap kali mengunjungi kamar sang nenek untuk memastikan bahwa kebutuhan dasarnya terpenuhi. Namun, setiap kali pintu kamar diketuk, yang ditemukan Aniswatun hanyalah senyum simpul dan kondisi fisik yang prima.

Read Also

Umroh Dulu atau Haji? Menimbang Skala Prioritas di Tengah Panjangnya Antrean Baitullah

Umroh Dulu atau Haji? Menimbang Skala Prioritas di Tengah Panjangnya Antrean Baitullah

“Alhamdulillah, kondisi Mbah Marsiyah sangat luar biasa. Selama satu bulan di sini, beliau benar-benar sehat tanpa keluhan sakit sedikit pun. Padahal, anak kandungnya yang mendampingi, bahkan teman-teman sekamarnya, sempat terserang batuk dan pilek hebat. Tapi beliau tetap stabil,” ungkap Aniswatun saat berbincang dengan tim Media Center Haji di Makkah.

Ketika ditanya apa rahasianya, jawaban yang muncul justru sangat sederhana namun mendalam: Mbah Marsiyah tidak pernah memilih-milih makanan. Dalam dunia medis, sikap ini mencerminkan kesehatan lansia yang terjaga karena asupan nutrisi yang beragam. Ia menerima setiap menu katering yang disediakan pemerintah dengan penuh rasa syukur. Tidak ada permintaan khusus, tidak ada keluhan soal rasa, dan tidak ada keinginan untuk mencari makanan di luar jadwal yang telah ditentukan.

Read Also

Rekor Serapan Kuota Haji Khusus 2026: Tersisa Hanya 69 Kursi, Sebuah Catatan Sejarah Baru dalam Penyelenggaraan Ibadah

Rekor Serapan Kuota Haji Khusus 2026: Tersisa Hanya 69 Kursi, Sebuah Catatan Sejarah Baru dalam Penyelenggaraan Ibadah

Menjaga Pola Makan dan Menghindari Pantangan

Meski dikenal sebagai sosok yang menerima apa adanya, Mbah Marsiyah tetap memiliki batasan diri yang disiplin. Saat berbincang mengenai persiapan keberangkatannya menuju Madinah, ia membocorkan sedikit rutinitasnya. Salah satu hal yang konsisten ia lakukan adalah menghindari makanan pedas. Baginya, menjaga pencernaan adalah kunci agar tubuh tidak mudah lemas di tengah cuaca panas.

“Kalau makan, saya cari yang tidak pedas,” tuturnya singkat dalam bahasa Jawa yang kental. Ia sangat menggemari nasi sebagai sumber energi utama, namun porsinya tetap dijaga agar tidak berlebihan. Kedisiplinan ini dipadukan dengan asupan buah-buahan segar yang rutin diberikan oleh pendamping setianya, Maidah.

Maidah menceritakan bahwa nafsu makan Mbah Marsiyah sangat stabil dan cenderung lahap. Untuk menjaga stamina, Maidah selalu menyediakan stok buah-buahan seperti pisang, jeruk, dan apel di kamar. Kombinasi antara karbohidrat yang cukup, serat dari buah, dan air putih yang terjaga membuat metabolisme tubuh nenek berusia satu abad ini tetap berjalan optimal layaknya orang yang jauh lebih muda.

Ritual Ibadah yang Dilakukan secara Mandiri

Kekuatan fisik Mbah Marsiyah bukan hanya sekadar teori di atas meja makan, melainkan terbukti dalam praktik ibadah di lapangan. Banyak yang mengira jemaah berusia 104 tahun akan menghabiskan seluruh waktunya di kursi roda atau hanya berdiam diri di hotel. Namun, Mbah Marsiyah mematahkan asumsi tersebut dengan menyelesaikan rangkaian rukun dan wajib haji hampir sepenuhnya secara mandiri.

Mulai dari umrah wajib saat pertama kali tiba di Makkah, prosesi wukuf di Arafah yang melelahkan, hingga tawaf ifadah dan tawaf wada sebagai perpisahan dengan Ka’bah, semuanya dijalani dengan langkah kakinya sendiri. Ini adalah bukti nyata bahwa kekuatan spiritual mampu memberikan dorongan energi tambahan pada fisik yang sudah renta.

“Umrah wajib, wukuf, tawaf ifadah, sampai tawaf wada, semuanya saya jalani sendiri. Alhamdulillah, Allah beri kekuatan,” ujar Mbah Marsiyah dengan nada syukur yang mendalam. Meski demikian, pihak keluarga dan petugas tetap mengedepankan prinsip keselamatan. Untuk ibadah yang memerlukan kontak fisik ekstrem atau kepadatan massa yang berisiko tinggi seperti lempar jumrah, diputuskan untuk dibadalkan atau diwakilkan oleh anaknya.

Kebijakan Perlindungan Lansia dan Program Tanazul

Keberhasilan Mbah Marsiyah dalam menjalankan ibadah juga tak lepas dari sistem pendukung yang disiapkan oleh pemerintah Indonesia. Mengingat Kloter SUB 112 memiliki ratusan jemaah lansia, kebijakan khusus seperti program tanazul atau pengaturan pergerakan jemaah sangat krusial. Mbah Marsiyah tidak dipaksakan untuk mengikuti seluruh kepadatan aktivitas di Mina yang sangat berisiko bagi fisik lansia.

Petugas memastikan bahwa jemaah seperti Mbah Marsiyah mendapatkan perlindungan maksimal tanpa mengurangi nilai ibadah mereka. Skema ini memungkinkan jemaah lansia untuk tetap bugar hingga akhir rangkaian perjalanan. Keberadaan pendamping yang sigap seperti Maidah juga menjadi faktor penentu. Pendampingan bukan hanya soal membantu berjalan, tetapi juga memberikan dukungan psikologis agar jemaah tetap merasa nyaman dan bahagia selama di perantauan.

Inspirasi dari Langkah Kaki Menuju Madinah

Kini, saat masa tinggal di Makkah telah usai, Mbah Marsiyah bersiap melanjutkan perjalanan spiritualnya menuju Kota Nabi, Madinah. Bekal yang ia bawa sangat sederhana; hanya beberapa kantong buah dan makanan ringan. Namun, di balik kesederhanaan itu, ia membawa pulang pengalaman spiritual yang luar biasa dan kesehatan yang tetap terjaga sempurna.

Kisah Mbah Marsiyah adalah pengingat bagi kita semua, khususnya para calon jemaah, bahwa haji bukan sekadar soal kekuatan otot, melainkan soal manajemen hati dan pola hidup yang seimbang. Dengan sikap yang ‘nrimo’ (menerima), menjaga asupan nutrisi melalui tips sehat yang sederhana, serta menjauhi pantangan yang berisiko, tantangan seberat apa pun di Tanah Suci dapat dilalui dengan senyuman.

Sosoknya akan terus dikenang oleh para petugas dan sesama jemaah di Kloter SUB 112 sebagai bukti hidup bahwa usia hanyalah angka, dan keberkahan akan selalu menyertai mereka yang menjalani ibadah dengan penuh rasa syukur dan keikhlasan.

Ustadzah Sarah

Ustadzah Sarah

Penulis konten religi dan lulusan studi Islam yang berdedikasi menyebarkan konten positif di Kilat Islami.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *