Jakarta Tanpa Cahaya: Monas dan Bundaran HI Padam Total demi Hari Lingkungan Hidup 2026

Budi Santoso | UpdateKilat
13 Jun 2026, 10:55 WIB
Jakarta Tanpa Cahaya: Monas dan Bundaran HI Padam Total demi Hari Lingkungan Hidup 2026

UpdateKilat — Pemandangan berbeda akan tersaji di wajah metropolitan Jakarta pada akhir pekan ini. Kota yang dikenal dengan julukan kota yang tidak pernah tidur ini bersiap untuk menanggalkan gemerlap lampunya sejenak. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta secara resmi mengumumkan rencana pemadaman lampu di berbagai titik krusial, mulai dari gedung pencakar langit hingga ikon-ikon sejarah, sebagai bentuk komitmen nyata terhadap pelestarian bumi.

Langkah ini diambil dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Selama 60 menit, Jakarta akan merenung dalam kegelapan yang bermakna. Aksi simbolis ini bukan sekadar mematikan saklar, melainkan sebuah pernyataan sikap kolektif warga DKI Jakarta untuk lebih peduli terhadap isu perubahan iklim yang kian mendesak. Langit malam ibu kota pada Sabtu, 13 Juni 2026, diprediksi akan terlihat berbeda tanpa polusi cahaya yang biasanya mendominasi.

Read Also

Bengkulu Selatan Diguncang Gempa Magnitudo 5,3: Analisis Geologis dan Dampak Guncangan yang Meluas

Bengkulu Selatan Diguncang Gempa Magnitudo 5,3: Analisis Geologis dan Dampak Guncangan yang Meluas

Satu Jam untuk Masa Depan: Komitmen Jakarta Mengurangi Emisi

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Dudi Gardesi, mengungkapkan bahwa kampanye ini merupakan bagian dari edukasi publik yang masif. Menurutnya, pemadaman lampu selama satu jam adalah cara paling sederhana namun memiliki dampak psikologis yang kuat bagi masyarakat untuk mulai membiasakan diri hemat energi dalam kehidupan sehari-hari.

“Hemat energi dan kurangi emisi, padamkan lampu selama 60 menit. Ini adalah langkah kecil yang jika dilakukan secara bersama-sama akan membawa perubahan besar bagi kualitas udara dan lingkungan kita,” ujar Dudi dalam keterangan resminya yang diterima tim redaksi pada Sabtu (13/6/2026). Ia menekankan bahwa target utama dari aksi ini adalah penurunan emisi karbon yang menjadi penyumbang utama pemanasan global.

Read Also

Menepis Fitnah Digital: Badan Gizi Nasional Tegaskan Isu Aliran Dana Program MBG ke Presiden Adalah Hoaks Total

Menepis Fitnah Digital: Badan Gizi Nasional Tegaskan Isu Aliran Dana Program MBG ke Presiden Adalah Hoaks Total

Sesuai jadwal yang telah disusun, pemadaman akan dilakukan serentak di lima wilayah kota administrasi Jakarta. Waktu pelaksanaan dimulai tepat pada pukul 20.30 WIB hingga 21.30 WIB. Durasi satu jam ini dipilih karena dianggap sebagai waktu puncak penggunaan listrik di gedung-gedung komersial dan residensial, sehingga dampak penghematannya diharapkan bisa maksimal.

Daftar Ikon Ibu Kota yang Akan Gelap Gulita

Tidak tanggung-tanggung, sejumlah simbol kemegahan Jakarta dipastikan akan ikut serta dalam gerakan ini. Monumen Nasional (Monas), yang biasanya berdiri megah dengan sorotan lampu keemasan, akan menghilang dalam kegelapan malam. Begitu pula dengan Bundaran HI yang menjadi pusat denyut nadi aktivitas warga.

Berikut adalah beberapa titik ikonik yang akan mengalami pemadaman total:

Read Also

Misteri Matinya CCTV di Stadion Lukas Enembe: Penyelidikan Kericuhan Persipura vs Adhyaksa FC Terhambat

Misteri Matinya CCTV di Stadion Lukas Enembe: Penyelidikan Kericuhan Persipura vs Adhyaksa FC Terhambat
  • Monumen Nasional (Monas)
  • Bundaran HI dan air mancurnya
  • Gedung Balai Kota DKI Jakarta
  • Patung Arjuna Wijaya (Patung Kuda)
  • Patung Pemuda Membangun
  • Patung Pahlawan (Patung Tugu Tani)
  • Patung Jenderal Sudirman

Partisipasi ikon-ikon ini diharapkan menjadi pemandangan yang menggugah kesadaran masyarakat yang melintas. Bayangkan Sudirman-Thamrin yang biasanya terang benderang, tiba-tiba berubah menjadi siluet gedung yang sunyi dari pancaran cahaya artifisial. Ini adalah momen refleksi bagi kita semua.

Pemetaan Wilayah Pemadaman di Lima Kota Administrasi

Aksi ini tidak hanya berpusat di jantung kota. Dinas Lingkungan Hidup telah memetakan sejumlah ruas jalan protokol yang akan mematikan lampu penerangan jalan umumnya. Di Jakarta Pusat, area yang terdampak meliputi sepanjang Jalan Jenderal Sudirman (dari Dukuh Atas hingga Gedung Sampoerna Strategic), Jalan MH Thamrin, serta seluruh kawasan Medan Merdeka termasuk area di depan Istana Presiden.

Bergeser ke Jakarta Utara, pemadaman akan terlihat di sepanjang Jalan Yos Sudarso dan Jalan Perintis Kemerdekaan, serta kompleks perkantoran Wali Kota Jakarta Utara. Sementara di Jakarta Timur, konsentrasi pemadaman berada di Jalan Dr. Sumarno dan area administratif pemerintahan setempat.

Di wilayah Jakarta Barat, lampu jalan akan dipadamkan di sepanjang Jalan Daan Mogot dan Jalan Kemanggisan Raya. Terakhir, untuk wilayah Jakarta Selatan, pemadaman akan mencakup area strategis seperti Jalan Prapanca Raya, Jalan Rasuna Said, hingga kawasan Patung Pemuda di Senayan. Melalui pemetaan yang luas ini, diharapkan pesan mengenai pentingnya menjaga lingkungan dapat tersampaikan ke seluruh penjuru kota.

Sektor Swasta dan Pengecualian Fasilitas Vital

Meskipun ini adalah inisiasi pemerintah, keberhasilan gerakan ini sangat bergantung pada partisipasi sektor swasta. Gedung-gedung perkantoran, pusat perbelanjaan atau mall, hotel, hingga apartemen mewah telah dihimbau untuk mematikan lampu luar dan lampu yang tidak esensial di dalam ruangan mereka.

Namun, Pemprov DKI tetap mengedepankan aspek keamanan dan keselamatan publik. Dudi Gardesi menegaskan bahwa fasilitas kesehatan tidak akan terdampak oleh kebijakan ini. “Fasilitas vital seperti Rumah Sakit, Puskesmas, dan Klinik tetap beroperasi dengan pencahayaan penuh demi menjaga pelayanan medis kepada masyarakat,” tegasnya. Hal ini penting untuk memastikan bahwa aksi lingkungan tidak mengganggu pelayanan darurat bagi warga yang membutuhkan.

Dampak Nyata: Pelajaran dari Tahun-Tahun Sebelumnya

Aksi pemadaman lampu di Jakarta bukan sekadar tren tanpa data. Berdasarkan catatan pada peringatan Hari Bumi April 2026 lalu, Jakarta berhasil mencatatkan penghematan konsumsi listrik yang fantastis, yakni sebesar 96,91 MWh. Angka ini membuktikan bahwa tindakan sederhana seperti mematikan lampu secara masif dapat memberikan napas baru bagi sistem kelistrikan kita.

Secara ekonomi, dampak positifnya juga sangat terasa. Pada tahun 2025, penghematan dari aksi serupa mencapai Rp 140.226.312 hanya dalam kurun waktu satu jam. Namun, yang paling krusial adalah penurunan emisi yang mencapai 77,53 ton CO2e. Ini adalah kontribusi nyata Jakarta dalam upaya global menekan laju kenaikan suhu bumi.

Dengan melihat keberhasilan tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penonton. Setiap rumah tangga diimbau untuk ikut mematikan setidaknya dua titik lampu di rumah masing-masing. Langkah kolektif ini akan memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global yang bertanggung jawab terhadap isu keberlanjutan lingkungan. Mari kita dukung Jakarta yang lebih hijau, dimulai dari kegelapan satu jam yang penuh arti malam ini.

Budi Santoso

Budi Santoso

Wartawan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang berita politik dan peristiwa untuk Kilat News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *