Drama di Jantung Jakarta: Kesaksian BEM UI Saat Langkah Menuju Bundaran HI Terganjal Barikade Aparat

Budi Santoso | UpdateKilat
12 Jun 2026, 14:55 WIB
Drama di Jantung Jakarta: Kesaksian BEM UI Saat Langkah Menuju Bundaran HI Terganjal Barikade Aparat

UpdateKilat — Hiruk-pikuk pusat kota Jakarta mendadak berubah menjadi panggung ketegangan pada Jumat siang yang terik itu. Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) harus menelan pil pahit ketika niat mereka untuk menyampaikan aspirasi di pusat simbolis ibu kota, Bundaran HI, terbentur tembok kokoh dari besi dan beton. Perjalanan yang sedianya menjadi ajang penyampaian suara rakyat justru berakhir dengan aksi saling dorong dan blokade yang tak terduga.

Penghadangan di Titik Vital: Mahasiswa Terjebak di Jalur Sudirman

Sejak pagi hari, rombongan besar yang terdiri dari 14 bus pengangkut sekitar 700 mahasiswa UI telah bergerak dari kampus mereka di Depok. Dengan semangat yang berkobar, mereka membayangkan akan berdiri di lingkar Bundaran HI untuk menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Namun, rencana tersebut buyar ketika iring-iringan bus tertahan di sejumlah titik strategis, salah satunya di kawasan sekitar gedung TVRI yang mengarah ke Jalan Jenderal Sudirman.

Read Also

Aksi Heroik Lansia 70 Tahun Melawan Penculik di PIK: Duel Sengit di Pagi Buta yang Terekam Kamera

Aksi Heroik Lansia 70 Tahun Melawan Penculik di PIK: Duel Sengit di Pagi Buta yang Terekam Kamera

Ketua BEM FH UI, Anandaku Dimas Rumi Chattaristo, mengungkapkan bagaimana rombongannya merasa terpojok oleh skema penutupan jalan yang mendadak. “Seharusnya kami mengambil jalur kiri bawah menuju Sudirman untuk sampai ke Bundaran HI. Namun, apa yang kami temui di lapangan adalah blokade total. Akses utama ditutup rapat tanpa ada pemberitahuan sebelumnya yang jelas bagi kami yang sedang melakukan mobilisasi massa,” ujar Dimas dengan nada kecewa saat diwawancarai oleh tim lapangan kami.

Ketidakpastian ini menciptakan kemacetan panjang dan kebingungan di tengah arus lalu lintas Jakarta yang sudah padat. Mahasiswa yang tadinya berada di dalam bus terpaksa turun untuk melakukan negosiasi, namun upaya tersebut seolah membentur dinding bisu. Penutupan akses ini dianggap sebagai upaya sistematis untuk meredam gelombang protes mahasiswa yang kian hari kian masif menyikapi situasi politik terkini.

Read Also

Krisis Listrik Melanda Sumatera: Perjuangan PLN Pulihkan Blackout di Ranah Minang dan Sekitarnya

Krisis Listrik Melanda Sumatera: Perjuangan PLN Pulihkan Blackout di Ranah Minang dan Sekitarnya

Antara Aspirasi dan Barikade: Ketegangan yang Memuncak

Suasana di lokasi penghadangan tidak berlangsung tenang. Berdasarkan pengamatan di lapangan, barisan kepolisian telah menyiagakan berbagai alat pengamanan berat. Tidak hanya sekadar pagar betis manusia, aparat juga memasang barrier beton, barikade kawat berduri, hingga menyiagakan mobil rantis dan water barrier di titik-titik krusial. Peralatan tempur kota ini seolah disiapkan untuk menghadapi kerusuhan besar, padahal massa yang datang adalah para intelektual muda yang ingin berdialog secara terbuka.

Dimas menceritakan bahwa sempat terjadi aksi saling dorong antara mahasiswa dengan petugas kepolisian. Ketegangan meledak ketika permintaan mahasiswa agar jalan dibuka tidak kunjung dikabulkan. “Kami sempat meminta dengan baik agar dibukakan jalan karena ini adalah hak kami untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Namun, dari pihak kepolisian sama sekali tidak ada itikad untuk memberikan akses. Bahkan, sempat terjadi dorong-dorongan yang cukup keras di lini depan,” tambahnya.

Read Also

Tragedi Kebakaran Maut di Lubang Buaya: Kronologi Memilukan yang Merenggut Nyawa Warga di Jalan H Umar

Tragedi Kebakaran Maut di Lubang Buaya: Kronologi Memilukan yang Merenggut Nyawa Warga di Jalan H Umar

Hal yang paling disesalkan oleh para mahasiswa adalah sikap beberapa oknum aparat yang dinilai tidak profesional. Dimas menyebutkan bahwa alih-alih memberikan penjelasan hukum atau alasan keamanan yang masuk akal, beberapa petugas justru memberikan respons yang dianggap meremehkan. “Polisi sama sekali tidak memberikan alasan teknis mengapa kami dilarang lewat. Mereka cuma ketawa-tawa saja saat kami meminta dibukakan jalan. Ini sungguh melukai perasaan kawan-kawan yang datang jauh-jauh dari Depok demi membela hak rakyat,” tegasnya.

Mengapa Bundaran HI? Simbol Perlawanan Terhadap Kebijakan

Pemilihan Bundaran Hotel Indonesia (HI) sebagai titik pusat aksi bukanlah tanpa alasan. Bagi BEM UI, lokasi ini memiliki nilai historis dan simbolis yang sangat kuat dalam sejarah pergerakan rakyat di Indonesia. Bundaran HI dianggap sebagai jantungnya Indonesia, tempat di mana suara rakyat bisa didengar lebih lantang oleh telinga para penguasa di istana maupun oleh publik internasional.

Dalam narasi yang dibangun oleh para demonstran, kehadiran mereka di sana adalah bentuk manifestasi dari kekecewaan yang sudah mencapai puncaknya terhadap kinerja lembaga legislatif dan eksekutif. Menurut Dimas, pemilihan titik aksi di Bundaran HI sudah didasarkan pada kekecewaan mendalam kepada DPR dan Presiden. Mereka menilai bahwa para pemangku kebijakan saat ini sudah tidak lagi menaruh kepedulian terhadap nasib rakyat kecil dan lebih sibuk dengan agenda politik kelompok tertentu.

“Kami tidak akan memindahkan titik aksi. Jika kami dipaksa pindah ke lokasi yang tersembunyi, maka esensi dari protes ini akan hilang. Kami ingin berada di pusat perhatian karena masalah yang kami bawa adalah masalah nasional yang mendesak. Kami merasa demokrasi Indonesia sedang berada di persimpangan jalan yang berbahaya,” tutur Dimas dengan penuh keyakinan.

Polisi vs Mahasiswa: Minimnya Dialog di Lapangan

Strategi pengamanan yang diterapkan oleh pihak kepolisian dalam menangani aksi BEM UI kali ini menuai kritik dari berbagai pihak. Penggunaan kendaraan taktis (rantis) dan penutupan jalan secara total dinilai sebagai langkah yang berlebihan (excessive use of power). Hal ini justru seringkali memicu eskalasi konflik di lapangan daripada meredamnya.

Para pengamat sosial melihat bahwa pola komunikasi antara aparat dan demonstran seringkali mengalami kebuntuan karena tidak adanya ruang dialog yang setara. Ketika polisi hanya bertindak sebagai penghalang fisik tanpa memberikan penjelasan yang transparan, maka yang muncul adalah rasa saling curiga. Dalam konteks aksi BEM UI pada 12 Juni 2026 ini, ketiadaan alasan yang jelas terkait penutupan jalan memperkuat persepsi mahasiswa bahwa ada upaya pembungkaman suara kritis secara sengaja.

Meski sempat terjadi ketegangan, koordinator lapangan dari BEM UI terus mengimbau massa agar tetap menjaga ketertiban dan tidak terprovokasi oleh tindakan oknum tertentu. Mereka menyadari bahwa tujuan utama mereka adalah menyuarakan keadilan, bukan menciptakan kekacauan di jalanan Jakarta. Semangat untuk tetap menuju Bundaran HI tetap menyala meski rintangan fisik terpampang nyata di depan mata.

Komitmen BEM UI: Tak Ada Kata Mundur dalam Perjuangan

Meskipun jumlah massa yang mencapai 700 orang tersebut sempat terpecah karena blokade di berbagai titik, komitmen BEM UI tidak luntur. Dimas memastikan bahwa seluruh rombongan dari 14 bus tersebut akan tetap mencoba mencari jalan agar aspirasi mereka sampai ke tujuan akhir. Peristiwa penghadangan ini justru dianggap sebagai bensin yang membakar semangat para mahasiswa untuk lebih vokal dalam mengkritisi kebijakan pemerintah.

Aksi ini juga merupakan bentuk solidaritas dari berbagai fakultas di Universitas Indonesia, yang dikoordinasikan secara matang untuk menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa masih solid. Mereka membawa berbagai tuntutan, mulai dari isu ekonomi, penegakan hukum, hingga perlindungan hak asasi manusia yang dianggap kian terpinggirkan. Melalui aksi massa ini, mereka berharap masyarakat luas menyadari bahwa ada hal-hal besar yang sedang tidak baik-baik saja di negeri ini.

Hingga berita ini diturunkan, situasi di sekitar wilayah Sudirman dan TVRI masih terpantau padat. Mahasiswa masih bertahan di titik-titik blokade, sambil melakukan orasi-orasi kecil dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Pihak kepolisian pun masih berjaga ketat dengan peralatan lengkap, menciptakan pemandangan kontras antara barisan jaket kuning yang cerah dengan seragam polisi yang gelap dan kaku. Jakarta hari ini sekali lagi menjadi saksi bagaimana dialektika antara kekuasaan dan rakyat jelata terus berputar di jalanan.

Kejadian ini mengingatkan kita semua bahwa dalam sebuah negara demokrasi, ruang untuk menyampaikan pendapat seharusnya dijaga, bukan dibatasi dengan kawat berduri. Bagaimana kelanjutan aksi dari kawan-kawan BEM UI ini? Simak terus pembaruan informasinya hanya di portal berita terpercaya Anda.

Budi Santoso

Budi Santoso

Wartawan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang berita politik dan peristiwa untuk Kilat News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *