Menjelajahi Pasar Kakiyah: Rahasia Berburu Oleh-Oleh Haji Murah Meriah di ‘Tanah Abang’ Kota Makkah

Ustadzah Sarah | UpdateKilat
11 Jun 2026, 18:57 WIB
Menjelajahi Pasar Kakiyah: Rahasia Berburu Oleh-Oleh Haji Murah Meriah di 'Tanah Abang' Kota Makkah

UpdateKilat Di bawah terik matahari Kota Suci yang menyengat, sebuah keriuhan khas terasa begitu akrab di telinga. Bukan sekadar deru mesin kendaraan atau doa yang terlantun, melainkan suara tawar-menawar yang dinamis dalam bahasa Indonesia yang fasih, meski terbata-bata. Selamat datang di Pasar Kakiyah, sebuah destinasi belanja legendaris yang kini menjadi magnet utama bagi para jemaah haji asal tanah air untuk berburu buah tangan sebelum kembali ke pelukan keluarga.

Langkah kaki para jemaah haji tampak melambat saat memasuki lorong-lorong toko yang berjejer rapat. Mata mereka dengan cermat memindai setiap sudut, mencari barang terbaik di antara tumpukan kain, aroma rempah, dan gemerlap perhiasan imitasi. Fenomena ini bukan sekadar aktivitas ekonomi biasa, melainkan bagian dari tradisi spiritual dan sosial yang erat kaitannya dengan ibadah haji bagi masyarakat Indonesia.

Read Also

Batas Waktu Niat Puasa Senin Kamis: Bolehkah Berniat di Siang Hari? Simak Penjelasan Lengkapnya!

Batas Waktu Niat Puasa Senin Kamis: Bolehkah Berniat di Siang Hari? Simak Penjelasan Lengkapnya!

Pasar Kakiyah: ‘Tanah Abang’ di Jantung Kota Makkah

Bagi siapa pun yang pernah berkunjung ke pusat grosir terbesar di Jakarta, suasana di Pasar Kakiyah akan terasa sangat familiar. Tak heran jika pasar ini dijuluki sebagai ‘Tanah Abang-nya Makkah’. Terletak beberapa kilometer dari Masjidil Haram, pasar ini menawarkan atmosfer yang jauh berbeda dari mal-mal mewah di sekitar Tower Zamzam. Di sini, interaksi manusia terasa lebih hidup dan hangat.

Pasar Kakiyah dikenal sebagai pusat grosir yang menyediakan segala macam kebutuhan oleh-oleh haji dengan harga yang sangat kompetitif. Mulai dari gantungan kunci seharga 2 riyal atau sekitar Rp 9.000, hingga karpet berkualitas tinggi, semuanya tersedia dalam satu kawasan yang terintegrasi. Kelengkapan barang inilah yang membuat jemaah betah berlama-lama, membandingkan kualitas satu toko dengan toko lainnya demi mendapatkan kesepakatan terbaik.

Read Also

170 Inspirasi Ucapan Malam Takbiran Idul Adha 2026: Pesan Menyentuh Hati dan Penuh Makna untuk Semua Kalangan

170 Inspirasi Ucapan Malam Takbiran Idul Adha 2026: Pesan Menyentuh Hati dan Penuh Makna untuk Semua Kalangan

Ragam Pilihan: Dari Gamis Anggun Hingga Cokelat Viral

Berbelanja di Pasar Kakiyah adalah sebuah petualangan sensorik. Di satu sudut, Anda akan menemukan deretan gamis dan abaya dengan berbagai motif, mulai dari yang sederhana hingga yang bertabur payet mewah. Di sudut lain, tumpukan sajadah dengan berbagai ketebalan dan tasbih dari kayu cendana atau plastik warna-warni siap untuk dikemas ke dalam koper.

Tak hanya sandang, sektor pangan pun tak kalah menarik. Kurma Ajwa, cokelat isi almond, kacang pistacio, hingga kismis menjadi incaran utama. Menariknya, para pedagang di sini sangat adaptif dengan tren. Jika di media sosial sedang viral jenis cokelat tertentu, maka dalam hitungan hari, rak-rak di Pasar Kakiyah akan dipenuhi oleh barang tersebut. Hal ini menunjukkan betapa dinamisnya pasar ini dalam merespons permintaan jemaah haji dunia, khususnya dari Indonesia.

Read Also

Panduan Lengkap Hari Tasyrik Idul Adha 2026: Jadwal, Rahasia Amalan, dan Ketentuan Fikih Terbaru

Panduan Lengkap Hari Tasyrik Idul Adha 2026: Jadwal, Rahasia Amalan, dan Ketentuan Fikih Terbaru

Seni Tawar-Menawar: Diplomasi Budaya di Meja Dagang

Salah satu keunikan Pasar Kakiyah adalah kemampuan para pedagangnya dalam berkomunikasi. Jangan kaget jika Anda disapa dengan panggilan “Apa kabar, Indonesia?” atau “Murah, murah, ambil banyak potong harga.” Penguasaan bahasa Indonesia dasar oleh para pedagang Arab ini menjadi faktor krusial yang membuat jemaah merasa nyaman dan dihargai.

Aktivitas tawar-menawar menjadi pemandangan yang lazim dan bahkan dianggap sebagai seni tersendiri. Jemaah harus pintar-pintar melakukan negosiasi untuk mendapatkan harga miring. Bagi banyak jemaah, proses tawar-menawar ini bukan sekadar soal menghemat uang, melainkan pengalaman menikmati budaya lokal dan membangun kedekatan emosional dengan penduduk setempat. Menariknya lagi, beberapa toko bahkan menerima pembayaran dalam mata uang Rupiah, sebuah kemudahan yang jarang ditemukan di negara lain.

Kisah Suparman dan Agustina: Membawa Kenangan ke Tanah Air

Di tengah kerumunan, tim UpdateKilat menemui Suparman, seorang jemaah asal Surabaya yang tengah sibuk memilih beberapa potong gamis. Wajahnya tampak sumringah meski peluh membasahi dahi. Bagi Suparman, berbelanja di Kakiyah adalah cara ia berbagi kebahagiaan spiritual yang ia rasakan selama di Makkah kepada keluarga di rumah.

“Saya beli gamis untuk ibu dan cucu, ada juga tasbih dan cokelat. Tidak banyak, mungkin sekitar dua kilogram saja cokelatnya. Yang penting ada buah tangan asli dari sini,” ujar Suparman dengan nada rendah hati. Baginya, harga di pasar ini sangat terjangkau bagi kantong jemaah yang ingin membelikan hadiah untuk banyak orang tanpa harus menguras tabungan.

Senada dengan Suparman, Agustina, jemaah asal Sumatra Selatan, memilih Pasar Kakiyah karena rekomendasi dari rekan-rekannya. Ia merasa harga di sini jauh lebih murah dibandingkan saat ia berada di Madinah. Fokus utama Agustina adalah parfum—sebuah permintaan khusus dari anak-anaknya. “Parfum di sini aromanya khas dan harganya bisa dinego. Kalau pintar menawar, bisa dapat harga yang sangat masuk akal,” tuturnya sambil menunjukkan beberapa botol kecil minyak wangi yang baru saja ia beli.

Pertimbangan Anggaran dan Logistik Koper

Meskipun godaan belanja sangat besar, para jemaah diingatkan untuk tetap bijak dalam mengelola keuangan dan memperhatikan limitasi bagasi pesawat. Mengingat aturan ketat maskapai mengenai berat koper, belanja berlebihan justru bisa menjadi beban saat proses kepulangan nanti. Tips praktis bagi jemaah adalah dengan membuat daftar prioritas siapa saja yang akan diberikan oleh-oleh dan menentukan anggaran maksimal sejak awal.

Suparman sendiri mengakui bahwa ia harus menahan diri meskipun banyak barang menarik lainnya yang ia lihat. “Kalau ditanya mau beli apa lagi, ya banyak sekali. Tapi kita harus ingat kemampuan dompet dan juga kapasitas koper,” katanya sambil tertawa kecil. Kedisiplinan dalam berbelanja ini penting agar fokus utama ibadah tetap terjaga hingga akhir perjalanan.

Pasar Kakiyah dalam Narasi Perjalanan Spiritual

Secara lebih dalam, keberadaan Pasar Kakiyah bagi jemaah haji Indonesia bukan hanya soal konsumerisme. Setiap barang yang dibeli memiliki nilai simbolis. Sebuah tasbih kecil yang dibawa pulang akan menjadi saksi bisu perjalanan seorang hamba di depan Ka’bah. Selembar sajadah yang diberikan kepada tetangga menjadi jembatan doa dan harapan agar sang penerima juga bisa menyusul ke Baitullah.

Dengan demikian, Pasar Kakiyah melengkapi mozaik pengalaman haji. Ia menawarkan ruang bagi jemaah untuk sejenak melepas ketegangan ibadah dengan aktivitas sosial yang menyenangkan. Di antara tumpukan barang dagangan dan aroma parfum yang semerbak, terselip doa-doa dan harapan yang akan dibawa pulang ke ribuan kilometer jauhnya di tanah air.

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Pasar

Pasar Kakiyah tetap akan menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita perjalanan haji setiap tahunnya. Keberadaannya membuktikan bahwa dalam ibadah haji, ada sisi kemanusiaan yang saling berbagi dan saling mengenal antar bangsa melalui jalur perdagangan. Bagi Anda yang berencana melaksanakan ibadah haji atau umrah, menyisihkan waktu beberapa jam untuk mengunjungi pasar ini tentu akan memberikan warna tersendiri dalam catatan perjalanan Anda.

Pastikan Anda selalu memantau informasi terbaru mengenai persiapan haji dan tips-tips perjalanan di Makkah melalui kanal kami. Membawa pulang oleh-oleh adalah tradisi, namun membawa pulang haji yang mabrur adalah tujuan utama. Semoga setiap butir tasbih dan lembar kain yang dibeli di Pasar Kakiyah menjadi pengingat abadi akan kebesaran Allah SWT di Kota Suci.

Ustadzah Sarah

Ustadzah Sarah

Penulis konten religi dan lulusan studi Islam yang berdedikasi menyebarkan konten positif di Kilat Islami.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *