Mitos atau Sunnah? Menelisik Hukum dan Waktu Terbaik Memotong Kuku dalam Pandangan Islam

Ustadzah Sarah | UpdateKilat
10 Jun 2026, 10:57 WIB
Mitos atau Sunnah? Menelisik Hukum dan Waktu Terbaik Memotong Kuku dalam Pandangan Islam

UpdateKilat — Kebersihan dalam Islam bukan sekadar urusan estetika atau penampilan fisik semata. Ia adalah fondasi spiritual yang mencerminkan kesucian hati seorang hamba. Di antara sekian banyak rutinitas kebersihan yang diajarkan, memotong kuku menjadi salah satu amalan sederhana namun sarat makna. Meski tampak sepele, topik ini sering kali memicu perdebatan di tengah masyarakat, terutama terkait adanya anggapan mengenai hari-hari terlarang untuk memotong kuku. Benarkah ada hari sial atau hari yang diharamkan untuk merapikan kuku kita?

Memotong Kuku sebagai Fitrah Manusia

Dalam khazanah Islam, praktik memotong kuku diklasifikasikan sebagai bagian dari fitrah. Secara bahasa, fitrah merujuk pada sifat asal manusia yang suci dan lurus. Rasulullah SAW memberikan panduan yang sangat jelas mengenai hal ini untuk memastikan umatnya senantiasa berada dalam kondisi prima, baik secara lahiriah maupun batiniah.

Read Also

Menjemput Berkah Fajar: Panduan Lengkap Doa Menjawab Adzan Subuh dan Keutamaannya yang Dahsyat

Menjemput Berkah Fajar: Panduan Lengkap Doa Menjawab Adzan Subuh dan Keutamaannya yang Dahsyat

Berdasarkan hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Fitrah itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” Penegasan ini menunjukkan bahwa merawat kuku adalah bagian dari syariat Islam yang harus dijaga. Kuku yang dibiarkan panjang bukan hanya tidak sedap dipandang, tetapi juga berpotensi menjadi sarang bagi kotoran dan najis.

Batas Waktu Maksimal: Mengapa Harus 40 Hari?

Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah seberapa sering kita harus memotong kuku. Dalam buku Sunnah-Sunnah Sehari-hari karya Abdullah Hamud al Furaij, dijelaskan bahwa para ulama sepakat adanya batas waktu tertentu agar kuku tidak dibiarkan tumbuh terlalu liar. Hal ini merujuk pada hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA, di mana Rasulullah SAW memberikan tenggat waktu maksimal selama 40 malam.

Read Also

Ingin Berkurban Tapi Budget Terbatas? Amalkan 6 Doa Mustajab Ini Agar Pintu Rezeki Terbuka Lebar

Ingin Berkurban Tapi Budget Terbatas? Amalkan 6 Doa Mustajab Ini Agar Pintu Rezeki Terbuka Lebar

Jika seseorang membiarkan kukunya lebih dari 40 hari tanpa dipotong, maka ia dianggap telah menyalahi sunnah. Secara medis, kuku yang terlalu panjang sangat rentan menyimpan bakteri patogen yang dapat berpindah ke mulut saat kita makan. Oleh karena itu, batasan 40 hari ini merupakan bentuk preventif agar kesehatan fisik tetap terjaga di samping menjalankan ketaatan ibadah harian.

Menepis Mitos Larangan Memotong Kuku pada Hari Tertentu

Di masyarakat kita, berkembang berbagai mitos yang menyebutkan bahwa memotong kuku pada hari Selasa atau Rabu dapat mendatangkan musibah. Ada pula anggapan bahwa memotong kuku di malam hari akan memperpendek umur. Namun, bagaimanakah tinjauan hukum Islam yang sebenarnya terhadap kepercayaan tersebut?

Read Also

Mengenal Esensi Manasik Haji: Panduan Utama Menuju Ibadah yang Sah dan Mabrur

Mengenal Esensi Manasik Haji: Panduan Utama Menuju Ibadah yang Sah dan Mabrur

Merujuk pada penjelasan Dr. Abdullah bin Hamod Al-Forih dalam Sunnah dan Dzikir Harian Nabi SAW, secara hukum syariat tidak ada satu pun dalil sahih yang menetapkan larangan mutlak untuk memotong kuku pada hari apa pun. Imam An-Nawawi, seorang ulama besar dalam mazhab Syafi’i, menegaskan dalam kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab bahwa memotong kuku adalah ibadah kebersihan yang dianjurkan kapan saja ketika kuku dirasa sudah panjang.

Penting bagi umat Islam untuk tidak terjebak dalam praktik tathayyur atau menganggap sial hari-hari tertentu. Keyakinan bahwa hari Selasa atau Rabu membawa sial jika digunakan untuk memotong kuku justru berisiko merusak kemurnian tauhid seseorang. Islam adalah agama yang rasional dan tidak membebani pemeluknya dengan mitos-mitos yang tidak memiliki dasar hukum yang kuat.

Analisis Kritis Terhadap Hadis-Hadis Palsu (Maudhu’)

Banyak masyarakat yang terpengaruh oleh kutipan-kutipan hadis yang menjanjikan kekayaan jika memotong kuku di hari Minggu, atau mengancam dengan penyakit kusta jika dilakukan pada hari Rabu. Namun, para pakar hadis (muhadditsin) telah melakukan penelitian mendalam terhadap riwayat-riwayat tersebut.

Ulama sekaliber Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Imam As-Sakhawi menegaskan bahwa hadis yang merinci keutamaan atau ancaman setiap hari secara spesifik terkait potong kuku berstatus maudhu’ (palsu) atau dhaif jiddan (sangat lemah). Berikut adalah beberapa alasan mengapa riwayat tersebut ditolak:

  • Sanad yang Cacat: Jalur periwayatan hadis-hadis tersebut mengandung perawi yang tidak dikenal (majhul) atau dikenal sering berbohong.
  • Kontradiksi Logika Syariat: Islam adalah agama yang memudahkan. Pembatasan pahala dan ancaman yang begitu kaku untuk hal-hal fitrah seperti potong kuku tidak selaras dengan karakteristik ajaran Nabi Muhammad SAW.
  • Kemiripan dengan Budaya Luar: Redaksi hadis tersebut lebih menyerupai ramalan bintang atau tradisi kuno non-Muslim yang kemudian disusupkan seolah-olah berasal dari Nabi.

Dengan demikian, memercayai hadis palsu tersebut bukan hanya salah secara keilmuan, tetapi juga bisa menyesatkan secara amalan.

Waktu yang Paling Utama (Afdhal) dalam Sunnah

Meskipun boleh dilakukan kapan saja, Islam memang mengenal adanya waktu-waktu yang lebih diutamakan karena nilai keberkahannya. Berikut adalah urutan hari yang dianjurkan oleh para ulama berdasarkan tradisi dan kebiasaan salafush shalih:

1. Hari Jumat: Sayyidul Ayyam

Hari Jumat adalah waktu yang paling utama untuk memotong kuku. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari persiapan (istidad) sebelum berangkat melaksanakan shalat Jumat. Rasulullah SAW terbiasa merapikan diri, memotong kuku, dan mencukur kumis pada hari Jumat untuk memastikan beliau hadir di masjid dalam kondisi paling bersih dan wangi.

2. Hari Senin dan Kamis

Jika kuku sudah terasa panjang sebelum hari Jumat tiba, maka hari Senin dan Kamis adalah pilihan terbaik berikutnya. Mengapa? Karena kedua hari ini adalah waktu di mana amal perbuatan manusia diangkat dan dihadapkan kepada Allah SWT. Berada dalam kondisi bersih saat amal kita dilaporkan tentu menjadi sebuah keutamaan tersendiri.

Hikmah di Balik Sunnah Memotong Kuku

Mengapa Islam begitu detail mengatur urusan sekecil kuku? Ada hikmah besar yang bisa kita petik dari anjuran ini:

  • Kesempurnaan Thaharah: Kuku yang panjang dan kotor dapat menghalangi air wudhu sampai ke kulit di bawah kuku. Hal ini sangat krusial karena menyangkut sah atau tidaknya shalat seseorang. Dengan kuku yang pendek, air wudhu sempurna membasahi seluruh anggota tubuh yang wajib dibasuh.
  • Proteksi Kesehatan: Secara medis, area di bawah kuku adalah tempat favorit kuman dan bakteri berkembang biak. Rutin memotong kuku mencegah risiko infeksi saluran pencernaan dan penyakit kulit seperti paronychia.
  • Etika Sosial: Penampilan yang bersih dan rapi merupakan bentuk penghormatan kepada orang lain. Islam mencintai keindahan, dan seorang Muslim sejati harus menjadi representasi kebersihan tersebut.
  • Pembeda (Mukhalafah): Memotong kuku juga berfungsi untuk membedakan identitas seorang Muslim dengan kaum yang memiliki kebiasaan memanjangkan kuku untuk alasan estetika yang berlebihan atau ritual tertentu yang tidak sejalan dengan nilai Islam.

Urutan Memotong Kuku yang Dianjurkan

Para ulama juga memberikan panduan mengenai urutan memotong kuku agar bernilai ibadah. Meski bukan wajib, mengikuti urutan ini adalah bagian dari meneladani adab para ulama terdahulu:

  1. Mulailah dari jari telunjuk tangan kanan, kemudian jari tengah, jari manis, kelingking, dan diakhiri dengan ibu jari kanan.
  2. Untuk tangan kiri, mulailah dari kelingking, jari manis, jari tengah, telunjuk, dan diakhiri dengan ibu jari kiri.
  3. Sedangkan untuk kuku kaki, mulailah dari kelingking kaki kanan hingga ibu jari kanan, lalu berlanjut dari ibu jari kaki kiri hingga kelingking kaki kiri.

Kesimpulan: Kebersihan adalah Cerminan Iman

Sebagai penutup, penting bagi kita untuk memahami bahwa tidak ada larangan mutlak atau hari sial dalam memotong kuku. Selama kuku sudah panjang, segeralah potong tanpa harus menunggu hari tertentu demi menjaga kebersihan. Namun, jika ingin mengejar pahala sunnah yang lebih besar, pilihlah hari Jumat, Kamis, atau Senin sebagai waktu rutin untuk merapikan diri.

Mari kita jadikan setiap aktivitas sederhana, termasuk memotong kuku, sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Dengan menjaga kebersihan lahiriah, kita sebenarnya sedang memupuk kesucian batiniah yang menjadi inti dari ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

Ustadzah Sarah

Ustadzah Sarah

Penulis konten religi dan lulusan studi Islam yang berdedikasi menyebarkan konten positif di Kilat Islami.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *