Menyingkap Tabir Mitos dan Fakta Bulan Suro: Pandangan Islam yang Sering Disalahpahami
UpdateKilat — Kedatangan bulan Muharram, atau yang lebih akrab dikenal sebagai bulan Suro dalam tradisi masyarakat Jawa, selalu membawa nuansa yang unik di tanah air. Di satu sisi, ia disambut dengan kekhusyukan ibadah, namun di sisi lain, aroma mistis dan berbagai pantangan kerap menyelimuti hari-hari di awal tahun Hijriah ini. Fenomena ini menarik untuk dibedah lebih dalam: sejauh mana tradisi ini beririsan dengan ajaran Islam yang murni?
Secara historis, penyebutan istilah “Suro” merupakan hasil akulturasi budaya yang digagas oleh Sultan Agung dari Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-17. Beliau menyatukan kalender Hijriah dengan penanggalan Saka untuk memperkuat persatuan rakyatnya. Namun, seiring berjalannya waktu, makna spiritual dari keutamaan bulan Muharram terkadang tertutup oleh berbagai mitos yang dianggap sakral secara berlebihan.
Rahasia Keberkahan Idul Adha: Menilik 10 Adab Penting dalam Distribusi Daging Kurban
Muharram: Bulan Allah yang Penuh Kemuliaan
Dalam perspektif Islam, Muharram adalah salah satu dari empat bulan yang sangat istimewa. Allah SWT menyebutnya sebagai asyhurul hurum atau bulan-bulan haram, sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 36. Muharram juga mendapat gelar kehormatan sebagai Syahrullah atau Bulan Allah.
Pada masa ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal kebajikan, terutama melaksanakan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram. Puasa ini memiliki fadhilah yang luar biasa, yakni dapat menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu. Namun, di tengah kemuliaan tersebut, berkembang lima mitos besar yang seringkali membuat masyarakat gagal paham.
1. Mitos Bulan Sial dan Pembawa Malapetaka
Salah satu keyakinan yang paling mengakar di sebagian masyarakat adalah anggapan bahwa bulan Suro adalah waktu yang penuh kesialan. Akibatnya, banyak orang merasa takut untuk memulai usaha baru, pindah rumah, atau melakukan perjalanan jauh karena khawatir akan tertimpa musibah.
Menjemput Puncak Ibadah: Ribuan Jemaah Haji Indonesia Mulai Bergerak Menuju Padang Arafah untuk Wukuf 2026
Namun, jika kita menelaah secara mendalam, Islam menegaskan bahwa tidak ada satu pun waktu yang membawa sial. Semua hari dan bulan adalah ciptaan Allah yang baik. Keyakinan bahwa ada waktu tertentu yang membawa nasib buruk dalam Islam disebut sebagai tathayyur.
Rasulullah ﷺ secara tegas bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud bahwa thiyarah (meyakini kesialan) adalah bagian dari perbuatan syirik. Seorang Muslim yang memiliki akidah Islam yang kuat seharusnya meyakini bahwa segala kebaikan dan keburukan hanyalah terjadi atas izin Allah SWT, bukan karena pengaruh posisi bulan atau penanggalan tertentu.
2. Larangan Menikah di Bulan Suro
Mitos kedua yang tak kalah populer adalah larangan melangsungkan pernikahan. Ada ketakutan kolektif bahwa pernikahan yang diadakan di bulan Suro tidak akan langgeng atau akan mendatangkan bencana bagi keluarga besar. Bahkan, gedung-gedung pertemuan biasanya sepi dari hajatan pernikahan selama bulan ini.
Mengetuk Pintu Langit: Kumpulan Doa Agar Rezeki Lapang dan Bisa Berkurban Tahun Depan
Faktanya, secara syariat, tidak ada dalil yang melarang seseorang untuk menikah di bulan Muharram. Menikah adalah ibadah yang mulia dan bisa dilakukan kapan saja. Beberapa literatur sejarah bahkan menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ menikahkan putrinya, Fatimah Az-Zahra, dengan Ali bin Abi Thalib di sekitar bulan-bulan mulia ini tanpa ada rasa khawatir akan kesialan.
Larangan ini lebih bersifat budaya dan penghormatan terhadap keraton di masa lalu, namun bukan merupakan bagian dari hukum agama. Memilih bulan yang mulia untuk memulai bahtera rumah tangga justru bisa menjadi awal yang penuh berkah jika diniatkan untuk mengikuti sunnah.
3. Ritual Khusus: Mandi Besar dan Bercelak
Di beberapa daerah, terdapat tradisi melakukan ritual mandi besar, memakai celak mata, hingga menggunakan inai (pacar) pada hari Asyura dengan keyakinan akan terlindungi dari penyakit selama setahun penuh. Ritual-ritual ini seringkali dianggap sebagai bagian dari anjuran agama.
Penting bagi kita untuk memahami bahwa satu-satunya amalan utama yang diperintahkan secara syar’i pada hari Asyura adalah ibadah sunnah puasa. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa riwayat-riwayat tentang keutamaan mandi atau bersolek di hari Asyura tidak memiliki landasan hadis yang shahih. Menjalankan ritual tanpa dasar yang jelas dalam agama dikhawatirkan jatuh pada perbuatan bid’ah.
4. Bulan Ratapan atas Tragedi Karbala
Mitos keempat berkaitan dengan sisi emosional sejarah Islam. Sebagian kalangan menjadikan Muharram sebagai bulan duka yang ekstrem untuk meratapi syahidnya Husain bin Ali, cucu Rasulullah ﷺ, di Padang Karbala. Praktik ini terkadang diwujudkan dalam bentuk melukai diri sendiri atau meratap secara berlebihan.
Islam adalah agama yang mengajarkan kesabaran. Meskipun peristiwa Karbala adalah duka yang mendalam bagi umat Islam, meratapi kematian secara berlebihan sangat dilarang oleh Nabi Muhammad ﷺ. Beliau mengajarkan kita untuk tetap tegar dan mendoakan para syuhada, bukan dengan cara menyiksa diri atau menjadikan hari tersebut sebagai hari berkabung nasional yang menyimpang dari sunnah.
5. Keangkeran Malam 1 Suro: Setan Berkeliaran
Mitos terakhir yang sangat kental adalah anggapan bahwa malam 1 Suro adalah malam yang sangat angker di mana makhluk halus bebas berkeliaran. Hal ini memicu praktik-praktik seperti menabur bunga di jalanan atau melakukan ritual “bersih desa” yang bernuansa mistis.
Secara spiritual, perlindungan terbaik dari gangguan jin atau setan bukanlah dengan mengurung diri atau menyediakan sesajen, melainkan dengan memperkuat dzikir dan doa. Doa awal tahun dan memperbanyak tilawah Al-Qur’an adalah cara yang jauh lebih efektif untuk mendekatkan diri kepada sang Pencipta sekaligus memohon perlindungan-Nya.
Menyelaraskan Tradisi dan Syariat
Lantas, bagaimana kita menyikapi tradisi Suro yang sudah mendarah daging? Dalam kaidah ushul fiqh, dikenal istilah ‘urf atau adat kebiasaan. Adat boleh dijalankan selama tidak bertentangan dengan prinsip dasar tauhid.
Beberapa tradisi yang bersifat sosial dan positif, seperti:
- Berbagi makanan atau sedekah “Jenang Suro” kepada tetangga sebagai bentuk syukur.
- Mengadakan pengajian dan doa bersama untuk memohon keselamatan bangsa.
- Melakukan silaturahmi antar warga untuk mempererat ukhuwah.
Hal-hal di atas tentu diperbolehkan, bahkan dianjurkan dalam Islam, selama niatnya diluruskan untuk ibadah kepada Allah SWT. Kuncinya adalah membuang unsur kesyirikan dan keyakinan pada kekuatan selain Allah.
Kesimpulan: Kembali ke Esensi Muharram
Memasuki bulan Suro atau Muharram seharusnya menjadi momentum untuk melakukan refleksi diri atau muhasabah. Alih-alih terjebak dalam ketakutan akan mitos, ada baiknya kita memfokuskan energi untuk meningkatkan kualitas spiritual kita.
Mari kita isi bulan yang mulia ini dengan memperbanyak puasa sunnah (Tasu’a dan Asyura), meningkatkan sedekah, serta memperdalam ilmu agama agar tidak mudah terombang-ambing oleh informasi yang tidak berdasar. Dengan memahami fakta di balik mitos, kita bisa menjalankan tradisi Islam di Indonesia dengan lebih tenang dan penuh keberkahan.
Semoga di tahun baru Hijriah ini, kita semua diberikan kekuatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, jauh dari kesyirikan, dan selalu berada dalam naungan hidayah-Nya.