Bolehkah Makan Sebelum Shalat Idul Adha? Simak Panduan Lengkap Menurut Sunnah dan Pendapat Ulama
UpdateKilat — Menjelang kumandang takbir Hari Raya Idul Adha yang diperkirakan akan menyapa umat Muslim pada penghujung Mei 2026 mendatang, sebuah pertanyaan klasik sering kali muncul di tengah masyarakat: Apakah diperbolehkan makan sebelum berangkat menunaikan shalat Idul Adha?
Persoalan ini bukan sekadar urusan perut, melainkan berkaitan erat dengan upaya mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Berbeda dengan sholat Idul Fitri yang justru dianjurkan untuk mengisi perut terlebih dahulu, Idul Adha memiliki karakteristik dan adab yang unik. Memahami perbedaan ini sangat penting agar ibadah kita selaras dengan tuntunan syariat.
Hukum Dasar: Menunda Makan sebagai Sunnah
Berdasarkan tinjauan literatur Islam dan pandangan para pakar hukum Islam, terdapat kesepakatan umum (ijma’) bahwa umat Muslim disunnahkan untuk menahan diri dari makan dan minum sebelum melaksanakan shalat Idul Adha. Praktik ini merujuk langsung pada kebiasaan Nabi Muhammad SAW yang tidak menyentuh makanan di pagi hari raya kurban hingga beliau kembali dari tempat shalat.
7 Urutan Dzikir Setelah Sholat Fardhu Sesuai Sunnah: Lengkap dengan Arab, Latin, dan Maknanya
Dalam kitab legendaris Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd menjelaskan bahwa para ulama sepakat mengenai perbedaan waktu makan di dua hari raya tersebut. Jika pada Idul Fitri makan sebelum shalat adalah simbol berakhirnya masa puasa Ramadhan, maka pada Idul Adha, menunda makan memiliki filosofi yang berbeda.
Landasan Hadis yang Menjadi Rujukan
Anjuran untuk tidak makan sebelum shalat didasarkan pada riwayat-riwayat shahih. Salah satunya adalah hadis dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan kebiasaan Rasulullah SAW: “Nabi SAW tidak keluar pada hari Idul Fitri sebelum makan, sementara pada hari Idul Adha beliau tidak makan hingga kembali, lalu beliau makan dari hasil sembelihan kurbannya.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).
Kapan Waktu Pelaksanaan Ibadah Haji? Kenali Jadwal dan Makna Spiritual di Balik Bulan-Bulan Suci
Hal ini juga dipertegas dalam riwayat Anas bin Malik yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW menahan diri hingga benar-benar selesai menunaikan ibadah sholat sebelum akhirnya menyantap hidangan. Penundaan ini dimaksudkan agar makanan pertama yang masuk ke mulut pada hari itu adalah daging hasil kurban.
Perbedaan Pandangan: Apakah Berlaku untuk Semua Orang?
Meskipun anjuran ini bersifat umum, para ulama memiliki rincian yang lebih spesifik mengenai siapa saja yang terkena anjuran sunnah ini:
- Mazhab Hambali: Menurut pandangan Imam Ahmad bin Hanbal, sunnah menunda makan ini dikhususkan bagi mereka yang melakukan ibadah kurban (Sahibul Qurban). Logikanya, agar mereka bisa segera menikmati daging kurbannya sendiri. Bagi mereka yang tidak berkurban, diperbolehkan saja jika ingin makan terlebih dahulu.
- Mazhab Syafi’iyah: Dalam pandangan mayoritas pengikut Imam Syafi’i, anjuran ini bersifat umum bagi seluruh jamaah yang hendak melaksanakan shalat Id, terlepas dari apakah mereka berkurban atau tidak. Hal ini demi menjaga keseragaman dalam mengikuti perilaku Nabi secara tekstual.
- Keluarga Pemilik Kurban: Beberapa ulama dalam literatur Kashshaf Al-Qina’ berpendapat bahwa anjuran ini hanya ditujukan kepada individu yang berkurban, bukan seluruh anggota keluarganya.
Hikmah dan Kelonggaran dalam Kondisi Darurat
Mengapa ada perbedaan adab antara dua hari raya ini? Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa pada Idul Fitri, sedekah (zakat fitrah) dilakukan sebelum shalat agar orang miskin bisa makan bersama. Sebaliknya, pada hari raya kurban, sedekah utama berupa daging kurban justru dilakukan setelah shalat. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan makan setelah shalat agar bisa merayakan momen makan bersama fakir miskin lewat daging kurban tersebut.
Membasuh Dahaga Ilmu dengan Adab: Mengapa Menghormati Guru Adalah Kunci Keberkahan dalam Islam?
Namun perlu dicatat, syariat Islam tidaklah kaku. Sunnah menunda makan ini bisa ditinggalkan jika seseorang berada dalam kondisi darurat, seperti memiliki masalah kesehatan (maag atau diabetes) yang mengharuskan asupan makanan tepat waktu, atau rasa lapar yang sangat hebat yang dikhawatirkan mengganggu kekhusyukan shalat. Dalam situasi seperti ini, menjaga kesehatan dan fokus ibadah tetap menjadi prioritas utama.
Dengan memahami esensi ini, umat Islam diharapkan dapat menjalani rangkaian ibadah Idul Adha dengan penuh pemahaman dan kesadaran, sembari terus menjaga kebersamaan dan kepedulian sosial melalui distribusi daging kurban nantinya.