Dilema Infrastruktur Jakarta Timur: Mengapa Jalan Bekas Galian Kerap Amblas Berulang Kali?

Budi Santoso | UpdateKilat
09 Jun 2026, 10:55 WIB
Dilema Infrastruktur Jakarta Timur: Mengapa Jalan Bekas Galian Kerap Amblas Berulang Kali?

UpdateKilat — Fenomena aspal yang turun atau jalan amblas kembali menghantui para pengguna jalan di kawasan Jakarta Timur. Meski perbaikan demi perbaikan terus digulirkan oleh pemerintah setempat, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak ruas jalan utama yang seolah-olah “menolak” untuk tetap rata. Masalah klasik ini pun memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat: apakah ini sekadar faktor beban kendaraan yang berlebih, ataukah ada kelalaian teknis dalam proses pengerjaannya?

Hasil investigasi dan monitoring terbaru dari Pemerintah Kota Jakarta Timur mengungkap tabir di balik rapuhnya struktur jalan di beberapa titik krusial. Diduga kuat, proses pemadatan tanah setelah pengerjaan galian utilitas tidak dilakukan secara maksimal. Akibatnya, permukaan jalan yang terlihat mulus di awal, perlahan tapi pasti mulai melandai dan akhirnya amblas kembali, menciptakan cekungan berbahaya bagi pengendara, terutama bagi mereka yang melintas di malam hari.

Read Also

Strategi KKP Bawa Produk Pesisir ‘Go Digital’: Gandeng E-Commerce Perkuat Kampung Nelayan Merah Putih

Strategi KKP Bawa Produk Pesisir ‘Go Digital’: Gandeng E-Commerce Perkuat Kampung Nelayan Merah Putih

Akar Masalah: Pemadatan yang Setengah Hati?

Berdasarkan laporan yang dihimpun oleh tim redaksi, penyebab utama dari kerusakan berulang ini disinyalir bersumber dari kualitas pengerjaan yang kurang optimal. Yogi Metropeni, Ketua Subkelompok Bidang Pekerjaan Umum Bagian Pembangunan dan Lingkungan Hidup (PLH) Jakarta Timur, memberikan pernyataan tegas mengenai temuan ini. Menurutnya, ada indikasi kuat bahwa alat berat yang digunakan saat proses pemadatan tidak memadai untuk mencapai standar teknis yang diperlukan.

“Kami menduga bahwa saat proses perbaikan dilakukan, penggunaan alat berat tidak sesuai standar. Dampaknya, hasil pemadatan tanah dan pengaspalan menjadi kurang optimal dan tidak stabil,” ujar Yogi saat melakukan pemantauan lapangan di Jakarta beberapa waktu lalu. Ketidakstabilan struktur di bawah permukaan inilah yang menjadi bom waktu bagi kekuatan jalan raya dalam menopang beban berat kendaraan setiap harinya.

Read Also

Waspada Sindikat Lintas Provinsi! Dua Spesialis Ganjal ATM Diringkus Usai Gasak Ratusan Juta di Tangerang

Waspada Sindikat Lintas Provinsi! Dua Spesialis Ganjal ATM Diringkus Usai Gasak Ratusan Juta di Tangerang

Monitoring yang dilakukan oleh Pemkot Jaktim difokuskan pada wilayah-wilayah yang memiliki tingkat kepadatan lalu lintas tinggi, seperti Kecamatan Makasar dan Jatinegara. Dua wilayah ini memang dikenal sebagai urat nadi transportasi yang menghubungkan pemukiman padat dengan pusat bisnis di Jakarta. Namun sayangnya, di sinilah titik-titik jalan rusak Jakarta paling sering ditemukan kembali meski sudah berkali-kali ditambal.

Titik-Titik Rawan yang Menjadi Pantauan Ketat

Pemerintah Kota Jakarta Timur saat ini tidak tinggal diam. Mereka tengah menaruh perhatian ekstra pada empat lokasi spesifik yang memiliki rekam jejak kerusakan paling parah. Lokasi-lokasi ini dianggap sebagai prioritas karena volume kendaraan yang melintas sangat besar, sehingga risiko kecelakaan akibat jalan amblas menjadi berlipat ganda.

Read Also

Skandal Jual Beli Titik SPPG Terbongkar: Alasan di Balik Pencopotan Dadan Hindayana dari Kepala Badan Gizi Nasional

Skandal Jual Beli Titik SPPG Terbongkar: Alasan di Balik Pencopotan Dadan Hindayana dari Kepala Badan Gizi Nasional
  • Jalan Raya Pondok Gede: Berlokasi di Kelurahan Lubang Buaya, titik ini merupakan salah satu jalur utama yang paling sering mengalami penurunan permukaan tanah.
  • Jalan Raya TMII Pintu 1: Terdapat dua titik kritis di area Kelurahan Pinang Ranti yang terus dipantau perkembangannya.
  • Jalan Raya Bekasi Timur: Titik di Kelurahan Jatinegara Kaum ini menjadi sorotan karena lokasinya yang bersinggungan dengan persimpangan sibuk.

Temuan di lapangan menunjukkan bahwa permukaan jalan di lokasi-lokasi tersebut cenderung kembali bergelombang tak lama setelah perbaikan selesai. Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran lapisan tanah di bawah aspal yang dipicu oleh beban dinamis dari kendaraan berat seperti bus dan truk logistik yang rutin melintas.

Kasus Pondok Gede: Tiga Kali Perbaikan, Tetap Amblas

Salah satu kasus yang paling mencolok dan menjadi perhatian serius adalah kondisi di Jalan Raya Pondok Gede, tepatnya di depan Mess Kartika Patria Denma Mabesad. Kepala Satuan Pelaksana Bina Marga Kecamatan Makasar, Dodi Julianto, mengungkapkan bahwa titik ini telah mendapatkan penanganan sebanyak tiga kali dalam periode yang relatif singkat. Namun, aspal kembali menyerah pada tekanan tanah di bawahnya.

“Evaluasi sementara kami menunjukkan bahwa kerusakan kemungkinan besar berasal dari bekas galian pipa utilitas. Ketika lubang galian ditutup kembali, proses pemadatannya tidak sempurna,” jelas Dodi. Ia menambahkan bahwa perbaikan terakhir sebenarnya sudah menggunakan kombinasi material aspal hotmix dan cold mix pada awal Juni 2026, namun ancaman penurunan tanah tetap mengintai.

Lubang yang terbentuk di lokasi ini bukan perkara sepele. Dengan kedalaman mencapai 50 sentimeter dan luas sekitar 3 x 1,5 meter, titik amblas ini bisa menjadi jebakan mematikan bagi pengendara sepeda motor. Sebagai langkah darurat, petugas telah memberikan tanda berupa cat semprot putih sebagai peringatan visual agar warga lebih waspada saat melintas.

Pentingnya Penggunaan Alat Berat Modern

Menyikapi masalah yang terus berulang, pihak Dinas Bina Marga menekankan pentingnya penggunaan alat pengerjaan jalan yang mumpuni. Dodi Julianto menegaskan bahwa untuk menangani bekas galian utilitas, kontraktor atau pelaksana proyek tidak bisa hanya mengandalkan metode manual atau alat pemadat kecil.

Penggunaan alat seperti finisher atau asphalt paver dianggap sebagai harga mati untuk mendapatkan permukaan jalan yang rata dan padat sesuai standar teknis. Alat-alat berat ini mampu memastikan bahwa material aspal terdistribusi secara merata dan memiliki kepadatan yang seragam di seluruh area pengerjaan. Tanpa alat yang memadai, celah-celah udara dalam struktur tanah akan tetap ada dan menyebabkan penurunan ketika tertekan beban berat.

Selain itu, koordinasi antara penyedia layanan utilitas (seperti kabel optik, pipa air, atau kabel listrik) dengan pihak Bina Marga juga menjadi kunci. Seringkali, pengerjaan galian utilitas dilakukan tanpa standar pemulihan jalan yang benar, sehingga meninggalkan warisan masalah bagi pengguna jalan di masa depan.

Komitmen Pemeliharaan Jangka Panjang

Meski menghadapi tantangan berat, upaya perbaikan infrastruktur di Jakarta Timur terus dikebut. Di wilayah Kecamatan Makasar saja, tercatat sudah ada 69 titik jalan rusak yang berhasil diperbaiki dan kini dalam kondisi layak jalan. Keberhasilan penanganan di dua titik Jalan Raya TMII Pintu 1 pada pekan lalu menjadi bukti bahwa dengan pengawasan yang tepat, masalah jalan amblas bisa diminimalisir.

Namun, pemerintah menyadari bahwa perbaikan fisik saja tidak cukup. Dibutuhkan sistem pengawasan pasca-perbaikan yang lebih ketat. Infrastruktur Jakarta harus dipandang sebagai aset jangka panjang yang memerlukan pemeliharaan rutin, bukan sekadar respons reaktif saat ada lubang muncul. Masyarakat pun diharapkan ikut berperan aktif dalam melaporkan jika melihat adanya tanda-tanda awal penurunan permukaan jalan di lingkungan mereka melalui kanal pengaduan resmi.

Dengan pengawasan yang lebih ketat terhadap kontraktor pelaksana galian utilitas dan peningkatan standar alat berat dalam setiap proyek pengaspalan, diharapkan mimpi buruk jalan amblas di Jakarta Timur bisa segera berakhir. Keselamatan dan kenyamanan warga saat berkendara harus tetap menjadi prioritas utama di atas segalanya.

Budi Santoso

Budi Santoso

Wartawan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang berita politik dan peristiwa untuk Kilat News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *