Nostalgia Rasa: 12 Jajanan Masa Kecil yang Kini Mulai Langka, Masih Ingat Rasanya?

Aris Setiawan | UpdateKilat
07 Jun 2026, 20:55 WIB
Nostalgia Rasa: 12 Jajanan Masa Kecil yang Kini Mulai Langka, Masih Ingat Rasanya?

UpdateKilat — Ada sebuah romansa tersendiri ketika kita membicarakan aroma tanah setelah hujan yang bercampur dengan wangi kelapa parut bakar dari gerobak kue rangi di pinggir jalan. Bagi generasi yang tumbuh di era 80-an hingga awal 2000-an, bunyi denting piring atau teriakan khas penjual jajanan adalah melodi harian yang meriah. Namun, seiring dengan menjamurnya kafe kekinian dan invasi kuliner mancanegara, warisan rasa ini perlahan menepi ke sudut sunyi memori kita.

Pergeseran gaya hidup dan modernisasi industri pangan memang tak terelakkan. Kini, lidah generasi muda mungkin lebih akrab dengan rasa matcha, red velvet, atau boba dibandingkan dengan gurihnya parutan kelapa dan manisnya gula aren murni. Fenomena hilangnya jajanan pasar tradisional ini bukan sekadar masalah selera, melainkan tentang hilangnya kepingan identitas budaya. UpdateKilat merangkum 12 kuliner legendaris yang kini statusnya mulai ‘langka’ dan sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kota besar.

Read Also

Transformasi Halaman Depan: 7 Jenis Rumput Hias Cantik yang Anti Ribet dan Minim Perawatan

Transformasi Halaman Depan: 7 Jenis Rumput Hias Cantik yang Anti Ribet dan Minim Perawatan

1. Kue Rangi: Si Gurih dari Tanah Betawi yang Kian Terpinggirkan

Kue rangi adalah representasi kesederhanaan yang cerdas. Terbuat dari campuran tepung sagu dan kelapa parut, camilan ini dimasak dalam cetakan khusus di atas tungku bara kayu atau arang. Proses pembakarannya memberikan aroma asap yang autentik, sesuatu yang tidak bisa dihasilkan oleh kompor gas modern. Begitu matang, kue ini disiram dengan saus gula merah kental yang terkadang dicampur dengan potongan nangka.

Dahulu, mencari penjual kue rangi semudah membalikkan telapak tangan di kawasan Jakarta dan sekitarnya. Namun sekarang, Anda mungkin harus berburu ke pelosok pasar tradisional atau menunggu festival budaya tertentu untuk sekadar mencicipi tekstur kenyalnya yang khas. Langkanya kayu bakar dan minimnya generasi muda yang mau memikul gerobak menjadi tantangan besar pelestarian kuliner tradisional ini.

Read Also

Sulap Balkon Sempit Jadi Kebun Produktif: 5 Pohon Buah yang Tumbuh Subur dengan Teknik Hanging Garden

Sulap Balkon Sempit Jadi Kebun Produktif: 5 Pohon Buah yang Tumbuh Subur dengan Teknik Hanging Garden

2. Clorot: Mahakarya Anyaman Janur dari Purworejo

Melihat clorot bukan sekadar melihat makanan, melainkan seni melipat janur. Kue ini unik karena dibungkus dengan janur kelapa yang dibentuk kerucut menyerupai terompet kecil. Adonan yang terbuat dari tepung beras dan gula merah dituangkan ke dalam gulungan tersebut, lalu dikukus hingga memadat. Cara makannya pun unik; Anda harus mendorong bagian bawah kerucut agar isi kue keluar dari atas.

Kesulitan utama dalam memproduksi clorot adalah keahlian tangan dalam menganyam janur. Tidak banyak orang muda saat ini yang menguasai teknik tersebut. Alhasil, camilan manis yang lembut ini perlahan menghilang dari peredaran, kecuali di daerah asalnya, Purworejo, atau beberapa pasar di Jawa Tengah.

Read Also

Solusi Lahan Sempit: 8 Jenis Pohon Pisang Pendek yang Estetik dan Produktif untuk Pekarangan Rumah

Solusi Lahan Sempit: 8 Jenis Pohon Pisang Pendek yang Estetik dan Produktif untuk Pekarangan Rumah

3. Geblek: Si Angka Delapan yang Kenyal dari Kulon Progo

Geblek memiliki tampilan yang sangat ikonik, yakni berwarna putih bersih dan biasanya dibentuk menyerupai angka delapan atau rantai kecil. Terbuat dari pati singkong atau tepung tapioka yang dicampur dengan bumbu bawang putih yang kuat, geblek menawarkan sensasi crispy di luar namun sangat kenyal (mentul-mentul) di dalam.

Camilan ini adalah teman setia saat menyeruput kopi atau teh di sore hari. Sayangnya, karena proses pembuatannya yang membutuhkan tenaga ekstra dalam menguleni adonan, jumlah produsen geblek kian menyusut. Wisata kuliner ke Kulon Progo mungkin menjadi satu-satunya cara terbaik untuk menemukan geblek yang masih hangat dan autentik.

4. Dodongkal: Gunung Putih Berselimut Gula Aren

Dodongkal atau sering disebut dongkal, adalah primadona di wilayah Jawa Barat dan pinggiran Jakarta. Penampilannya menyerupai tumpeng atau gunung kecil yang dikukus dalam wadah anyaman bambu berbentuk kerucut (asepan). Lapisan tepung beras dan parutan gula aren disusun selang-seling, menghasilkan gradasi warna putih dan cokelat yang cantik saat dipotong.

Kue ini disajikan dengan parutan kelapa muda yang memberikan rasa gurih penyeimbang manisnya gula aren. Dulu, penjual dodongkal sering mangkal di pasar kaget atau sudut-sudut jalan pemukiman. Kini, keberadaan mereka bisa dihitung dengan jari, tergantikan oleh penjual roti bakar atau martabak yang lebih komersial.

5. Jaja Bendu: Eksotisme Bali dalam Gulutan Daun Pisang

Dari Pulau Dewata, ada Jaja Bendu yang kini mulai jarang terlihat di luar acara ritual adat. Terbuat dari tepung ketan yang diisi dengan campuran kelapa parut dan gula bali (untis), kue ini memiliki tekstur yang sangat lembut dan rasa yang legit. Dibungkus dengan daun pisang, aroma alaminya sangat menggoda selera.

Meskipun Bali menjadi pusat pariwisata, makanan ini justru mulai tergeser oleh pastry modern. Padahal, Jaja Bendu menyimpan filosofi kebersamaan masyarakat Bali. Upaya melestarikan resep tradisional ini sangat penting agar identitas kuliner Bali tidak hanya terbatas pada babi guling atau ayam betutu saja.

6. Kerak Telor: Ikon Budaya yang Kini Jadi Makanan Musiman

Siapa yang tidak tahu kerak telor? Perpaduan beras ketan, telur bebek/ayam, ebi, dan serundeng ini adalah soul food masyarakat Betawi. Rasanya gurih, aromanya smoky, dan cara masaknya yang membalikkan wajan di atas arang adalah tontonan yang menarik.

Ironisnya, makanan yang seharusnya menjadi kebanggaan ibu kota ini kini lebih sering muncul sebagai ‘makanan musiman’ saat Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau ulang tahun kota Jakarta saja. Mencari penjual kerak telor di hari-hari biasa kini menjadi tantangan tersendiri bagi para pecinta kuliner.

7. Grontol: Kelezatan Butiran Jagung Sederhana

Grontol adalah bukti bahwa makanan enak tidak harus mahal. Kudapan ini hanya terdiri dari jagung yang telah direbus hingga mekar sempurna (merekah), lalu dicampur dengan parutan kelapa dan taburan gula pasir. Tekstur bulir jagung yang kenyal berpadu dengan gurihnya kelapa menciptakan harmoni rasa yang tak terlupakan.

Namun, karena proses perebusan jagung yang memakan waktu lama agar bisa mekar sempurna, banyak pedagang kini enggan menjualnya. Anak-anak zaman sekarang lebih mengenal jagung dalam bentuk popcorn atau jagung susu keju (jasuke) daripada grontol yang legendaris ini.

8. Bubur Bassang: Mutiara Putih dari Makassar

Makassar tidak hanya soal Coto atau Konro. Ada Bubur Bassang, bubur jagung pulut yang dimasak hingga sangat empuk dan berwarna putih bersih. Disajikan panas dengan tambahan gula pasir atau garam, bubur ini sangat mengenyangkan dan bergizi.

Langkanya jagung pulut (jagung ketan) sebagai bahan baku utama menjadi alasan mengapa menu ini mulai menghilang dari daftar menu sarapan di banyak warung makan di Sulawesi Selatan maupun di perantauan.

9. Gulo Puan: Keju Bangsawan dari Palembang

Gulo Puan adalah salah satu kuliner paling langka di daftar ini. Terbuat dari susu kerbau segar yang dimasak bersama gula pasir selama berjam-jam hingga teksturnya memadat menyerupai keju atau dodol kering. Dahulu, ini adalah penganan mewah bagi kaum bangsawan Palembang.

Penyebab kelangkaannya sangat nyata: berkurangnya populasi kerbau rawa di daerah Pampangan, Sumatera Selatan. Tanpa susu kerbau, Gulo Puan kehilangan karakter rasa dan teksturnya. Ini adalah contoh nyata bagaimana perubahan ekosistem berdampak langsung pada kelestarian kuliner kita.

10. Es Goyang: Melodi Getar di Gerbang Sekolah

Dinamakan es goyang karena gerobaknya harus digoyang-goyangkan agar adonan es membeku di dalam cetakan logam yang dikelilingi es batu dan garam. Es ini biasanya dicelupkan ke dalam cairan cokelat hingga membeku seketika. Sayangnya, kehadiran es krim bermerek dengan harga terjangkau di minimarket telah memukul mundur para pejuang es goyang tradisional.

11. Taoge Goreng: Gurihnya Saus Oncom yang Tak Tergantikan

Meski judulnya ‘goreng’, makanan ini sebenarnya direbus. Taoge, mi kuning, dan tahu kuning disiram dengan saus berbahan dasar oncom dan tauco yang pekat. Perpaduan rasa asam, manis, dan gurihnya sangat unik. Kini, penjual taoge goreng pikulan sudah hampir punah, berganti dengan kedai-kedai permanen yang jumlahnya pun tak banyak.

12. Pecel Semanggi: Sayuran Langka dari Surabaya

Pecel Semanggi adalah kuliner khas Surabaya yang menggunakan daun tanaman semanggi sebagai bahan utamanya. Sausnya pun berbeda dengan pecel biasa, karena menggunakan campuran ketela rambat (ubi jalar). Sayangnya, tanaman semanggi kian sulit ditemukan karena lahan rawa yang beralih fungsi menjadi pemukiman, membuat kuliner ini semakin eksklusif dan sulit dicari.

Menjaga Warisan Sebelum Menjadi Legenda

Fenomena menghilangnya warisan budaya kuliner ini menjadi pengingat bagi kita semua. Kuliner tradisional bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan penyimpan memori kolektif sebuah bangsa. Tanpa adanya regenerasi pedagang dan apresiasi dari konsumen, makanan-makanan ini hanya akan tersisa dalam buku sejarah atau foto-foto kusam di internet.

Mari kembali menoleh ke pasar tradisional, mendukung pedagang kecil, dan memperkenalkan rasa-rasa autentik ini kepada anak cucu kita. Jangan sampai rasa masa kecil kita hanya menjadi cerita tanpa pernah bisa mereka cicipi kembali. Cari tahu lebih banyak tentang kuliner nusantara lainnya untuk memperkaya wawasan budaya Anda.

Aris Setiawan

Aris Setiawan

Pengamat sosial dan jurnalis warga yang fokus pada isu-isu kemasyarakatan di kanal Kilat Citizen.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *