Menjemput Berkah di Tanah Suci: Kisah Karmijah dan Strategi Matang Menyiapkan Kesehatan Lewat Layanan JKN

Budi Santoso | UpdateKilat
06 Jun 2026, 16:55 WIB
Menjemput Berkah di Tanah Suci: Kisah Karmijah dan Strategi Matang Menyiapkan Kesehatan Lewat Layanan JKN

UpdateKilat — Menunaikan ibadah haji bukan sekadar tentang kesiapan finansial atau daftar tunggu yang panjang selama bertahun-tahun. Bagi Karmijah, seorang wanita berusia 65 tahun asal Desa Saringembat, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban, perjalanan menuju Baitullah adalah sebuah perjalanan spiritual yang menuntut persiapan paripurna, terutama dari sisi kesehatan fisik dan ketenangan batin.

Di tengah hiruk-pikuk persiapan keberangkatan jemaah haji asal Jawa Timur, sosok Karmijah menonjol karena ketelitiannya dalam memastikan segala aspek perlindungan telah siap. Baginya, ibadah haji adalah momen sekali seumur hidup yang tidak boleh terganggu oleh kendala teknis maupun kekhawatiran akan biaya medis. Salah satu pilar utama dalam persiapannya adalah memastikan kepesertaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) miliknya tetap aktif dan tanpa kendala.

Read Also

Sapi Kurban Raksasa Prabowo-Gibran di Istiqlal: Simbol Kepedulian dan Pesan Persatuan Idul Adha 1447H

Sapi Kurban Raksasa Prabowo-Gibran di Istiqlal: Simbol Kepedulian dan Pesan Persatuan Idul Adha 1447H

Persiapan Fisik di Usia Senja: Tantangan Nyata Jemaah Haji

Memasuki usia kepala enam, Karmijah sangat menyadari bahwa kondisi fisiknya tidak lagi sekuat saat muda. Namun, semangatnya untuk menyempurnakan rukun Islam kelima ini tak pernah padam. Ia memahami betul bahwa lingkungan di Tanah Suci sangat berbeda dengan di tanah air, mulai dari suhu ekstrem yang bisa mencapai lebih dari 40 derajat Celsius hingga kepadatan massa yang luar biasa saat prosesi tawaf dan sai.

“Pertama tentunya saya merasa sangat bersyukur bisa diberikan kesempatan menunaikan rukun Islam yang kelima ini. Namun, rasa syukur saja tidak cukup tanpa ikhtiar yang nyata. Memastikan kepesertaan JKN tetap aktif adalah bagian dari ikhtiar saya. Saya tidak ingin saat berada di sana atau sekembalinya nanti, saya justru dibebani dengan kebingungan mencari layanan kesehatan jika tiba-tiba jatuh sakit,” ungkap Karmijah saat ditemui tim UpdateKilat pada Rabu (20/05).

Read Also

ASN WFH Setiap Jumat Resmi Berlaku, Kemenpan RB Siap Layangkan Teguran Bagi Instansi yang Membandel

ASN WFH Setiap Jumat Resmi Berlaku, Kemenpan RB Siap Layangkan Teguran Bagi Instansi yang Membandel

Karmijah memegang prinsip bahwa kesehatan adalah aset utama. Baginya, kepulangan dalam kondisi sehat adalah target yang harus diupayakan sekeras mungkin, sebagaimana ia menjaga kesehatannya sebelum berangkat. Dalam konteks ini, JKN hadir sebagai jaring pengaman yang memberikan rasa aman secara psikologis.

JKN Sebagai Bekal Ketenangan Selama di Tanah Suci

Banyak calon jemaah haji yang mungkin hanya fokus pada perlengkapan ibadah seperti ihram atau buku doa. Namun, Karmijah melihat lebih jauh. Ia menyadari bahwa tantangan kesehatan bisa muncul kapan saja, baik itu karena kelelahan, perubahan cuaca, maupun paparan virus. Meskipun pemerintah telah menyediakan tim kesehatan haji, memiliki perlindungan kesehatan yang komprehensif di tanah air tetap menjadi prioritas utama bagi Karmijah.

Read Also

Kontroversi Eks Wamenaker Noel: Klaim Selamatkan Duit Rakyat Melampaui KPK di Balik Jeruji Besi

Kontroversi Eks Wamenaker Noel: Klaim Selamatkan Duit Rakyat Melampaui KPK di Balik Jeruji Besi

Ia menceritakan bahwa biaya pengobatan di masa sekarang tidaklah murah. Tanpa adanya jaminan, risiko finansial akibat gangguan kesehatan bisa menguras tabungan keluarga. “Kita tidak pernah tahu kapan sakit itu datang. Dengan adanya JKN, saya tidak perlu lagi memikirkan biaya berobat yang mahal. Manfaatnya sudah nyata dirasakan oleh saya dan keluarga selama ini, jadi tidak ada ruginya sama sekali untuk tetap aktif menjadi peserta,” tambahnya dengan nada penuh keyakinan.

Meninggalkan Rumah dengan Hati yang Lapang

Salah satu beban terberat bagi seorang jemaah haji adalah memikirkan kondisi keluarga yang ditinggalkan di rumah. Perjalanan selama kurang lebih 40 hari bukanlah waktu yang singkat. Namun, Karmijah memiliki resep khusus untuk mengatasi rasa cemas tersebut. Ia tidak hanya memastikan dirinya sendiri yang terproteksi oleh BPJS Kesehatan, tetapi juga seluruh anggota keluarganya.

Keputusan ini diambil agar ia bisa fokus sepenuhnya pada setiap rukun haji yang ia jalani. “Ibadah haji itu butuh kekhusyukan dan ketenangan hati yang luar biasa. Akan sangat sulit bagi saya untuk fokus berdoa di depan Ka’bah jika di pikiran saya masih ada kekhawatiran tentang anak atau cucu yang mungkin sakit di rumah dan bingung soal biaya. Karena seluruh keluarga sudah terdaftar JKN, saya bisa pergi dengan hati yang lebih ringan,” jelasnya.

Strategi ini menunjukkan betapa program kepesertaan JKN memiliki dampak domino terhadap kesejahteraan mental seseorang. Perlindungan yang bersifat kolektif dalam satu keluarga menjadi kunci utama dalam menjaga harmoni dan ketenangan pikiran jemaah selama berada di luar negeri.

Memanfaatkan Kemudahan Teknologi: Dari PANDAWA hingga Mobile JKN

Sebagai warga senior, Karmijah membuktikan bahwa usia bukan hambatan untuk melek teknologi demi urusan administrasi kesehatan. Ia aktif memantau status kepesertaannya melalui berbagai kanal digital yang disediakan oleh BPJS Kesehatan. Baginya, memastikan tidak ada tunggakan iuran adalah kewajiban yang tidak boleh terabaikan.

Ia secara rutin menggunakan layanan PANDAWA (Pelayanan Administrasi Melalui WhatsApp) di nomor 08118165165 yang dirasanya sangat praktis karena tidak mengharuskannya datang langsung ke kantor cabang. Selain itu, ia juga dibantu oleh keluarganya untuk memantau status lewat Aplikasi Mobile JKN.

“Zaman sekarang sudah serba mudah. Saya sering diingatkan oleh anak-anak untuk mengecek status lewat HP saja. Jadi, sebelum berangkat, saya sudah pastikan semuanya ‘hijau’ atau aktif. Ini adalah bentuk tanggung jawab saya sebagai peserta,” tuturnya dengan bangga. Penggunaan aplikasi ini memungkinkannya untuk melihat riwayat layanan dan memastikan bahwa segala kebutuhan administrasinya telah terpenuhi dengan benar.

Filosofi Gotong Royong dalam Ibadah

Menariknya, Karmijah tidak hanya melihat Program JKN sebagai kepentingan pribadi belaka. Ada nilai spiritual yang ia temukan di dalamnya, yakni semangat gotong royong atau saling membantu antarsesama. Ia merasa bahwa dengan membayar iuran secara rutin, ia secara tidak langsung ikut membantu orang lain yang sedang terbaring sakit di rumah sakit.

“Haji adalah tentang pengabdian dan berbagi. Iuran yang saya bayarkan mungkin digunakan untuk membantu operasi atau pengobatan orang lain yang lebih membutuhkan. Ini adalah bentuk sedekah yang sistematis. Saya percaya, jika kita dimampukan untuk pergi haji, maka kita juga pasti dimampukan untuk membayar iuran JKN secara tertib. Ini bagian dari rasa syukur kita kepada Allah SWT,” paparnya secara filosofis.

Pandangan Karmijah ini mencerminkan esensi sejati dari program jaminan kesehatan di Indonesia, di mana yang sehat membantu yang sakit, dan yang mampu membantu yang kurang mampu. Semangat inilah yang membuatnya semakin bangga menjadi bagian dari peserta JKN yang aktif.

Pesan untuk Sesama Calon Jemaah Haji

Di akhir perbincangan, Karmijah memberikan pesan yang sangat menyentuh bagi ribuan calon jemaah haji lainnya yang sedang dalam masa persiapan. Ia mengingatkan bahwa perjalanan haji haruslah menjadi momen yang membahagiakan, bukan momen yang penuh dengan kecemasan akan risiko-risiko yang sebenarnya bisa dimitigasi sejak dini.

“Waktu tunggu haji itu lama sekali, ada yang sampai belasan hingga puluhan tahun. Jangan sia-siakan kesempatan emas ini dengan persiapan yang setengah-setengah. Selain fisik yang kuat, pastikan perlindungan kesehatan kalian sudah siap. Ciptakan tubuh yang sehat dan hati yang tenang. Jangan lupa untuk menjadi peserta JKN aktif agar ibadah haji bisa lebih khusyuk dan penuh keberkahan,” pungkasnya menutup percakapan.

Kisah Karmijah adalah pengingat bagi kita semua bahwa di balik setiap perjalanan spiritual yang agung, diperlukan langkah-langkah praktis dan tanggung jawab sosial yang nyata. Dengan persiapan matang dan dukungan dari sistem kesehatan yang solid, impian untuk meraih haji mabrur pun menjadi lebih nyata untuk digapai.

Budi Santoso

Budi Santoso

Wartawan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang berita politik dan peristiwa untuk Kilat News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *